Journey To Nyogan

by theKRY™ on 08/12/08 at 7:23 pm

Apa yang diharapkan orang ketika mulai membaca sebuah naskah tentang etnik minoritas? Tipikal, rata-rata orang berharap untuk membaca sebuah eksotisme kehidupan. Sesuatu yang aneh, mencengangkan, langka dan mengejutkan. Baiknya tidak langsung menilai untuk menemukan keeksotisan suatu tempat dalam jurnal kali ini, eksotisme menurut temen2 belum tentu menurut saya, atau sebaliknya. Meminjam ucapan Kahlil Gibran “Sesuatu yang eksotik menurut seseorang belum tentu eksotik menurut orang lain” Lagipula sebuah eksotisme tentang kehidupan tidak bisa dicari-cari layaknya imajinasi. Ia ada jika memang ada. Jadi, akan tinggal tergantung kita, apakah kita menangkap sebuah eksotisme atau tidak.

Dalam mencari satu obyek untuk dijadikan sebuah Jurnal yang cukup lengkap, bukan hanya resources yang dibutuhkan, namun juga lamanya observasi terhadap satu object penelitian yang nanti akan di publish. Itu sangat berpengaruh.

Jurnal kali ini hanya potongan kisah perjalanan yang cukup singkat, jadi tidak akan menemukan detail orang Rimba sebagai salah satu etnik minoritas Indonesia yang jumlahnya diperkirakan mencapai angka 2000 sampai 3000 orang. Biarlah ini jadi bulan2-an team ekspedisi pakde untuk mengenal lebih jauh tentang orang Rimba serta habit nya. Suatu saat jika memang dirasa perlu menciptakan Jurnal yang bener2 Jurnal, kita buat ekpedisi besar2an aja untuk meliput mereka secara khusus. Setuju kan? Deal? Ok Deal Ya…!

Journey to Nyogan, sebuah perjalanan yang memang nyata sekali membuat saya bisa menyegarkan kembali pikiran setelah penat dengan kegiatan kantor. Petualangan kali ini sekedar untuk refresing & mengetahui detail keragaman hayati yang ada di wilayah Nyogan. Apa yang bisa dilihat di Nyogan? Berikut laporannya. :)

Perjalanan yang kami tempuh pada 7 Desember 08 ini menghabiskan total waktu 12 jam, diawali dengan menempuh perjalanan darat 1,5 jam dengan jarak 50 kilometer dari kota Jambi, Perjalanan menuju Nyogan akan melewati rimbunnya belantara dengan ruas jalan yang masih terbilang baru. Masih gress masih segar, dan tidak banyak menemukan jalan yang di ukir atapun bergelombang.

Pukul 6 pagi saya berangkat dari apartemen menuju Kenali Atas, sebuah bukit kompleks Pertamina Jambi, disini saya bertemu dengan Erwin Nassa (yang belum sampai kebulan), dari rumah ini kami langsung ke rumah Mr. Kemi di Tempino dengan waktu tempuh sekitar 15menit. Tidak ada bekal yang cukup banyak untuk perjalanan pagi ini, mengingat sekala ekspedisinya masih kecil. Jadi budget yang di siapkan tidak akan menguras isi dompet.

Makanan yang kami bawa tak lebih dari nasi bungkus dengan menu yang cukup beragam. Snack serta air mineral. Hawa embun yang cukup sejuk dan rimbunnya belantara begitu nikmat untuk di syukuri, sesekali dalam perjalanan ini, SIMPE sejenis kera dengan bulu berwarna kuning kecoklatan bergelantungan dan melompat dari satu dahan ke dahan lain, bisa jadi kehadiran kami membuat primata itu ketakutan. Maklum arus lalu lintas menuju Nyogan tidak begitu padat. Ini memungkinkan primata itu berlarian.

Jam 8 kami tiba di Nyogan, Aktivitas warga setempat dengan mata pencaharian yang beragam membuat kampung itu cukup sepi, dihalaman rumah yang terlihat bocah2 lugu dengan wajah yang masih dihiasi belekan, sebagian bertelanjang kaki layaknya “anak seribu pulau” karya Garin Nugroho. Sebagian bertelanjang dada bahkan ada pula yang tidak menggunakan sehelai pakaian. Cukup menarik! Belum lagi kambing yang diternakan bebas berkeliaran di halaman rumah. Ini suasana penyambutan yang khas sekali. Dan saya cukup terkesan.

Pertanyaan yang sering muncul di benak saya adalah Siapakah sebenarnya mereka itu? Suku anak dalamkah? dimana mereka tinggal, bagaimana lingkungan hidup mereka, bagaimana dunia batin mereka, bagaimana penghidupan mereka, bagaimana kehidupan sosial dan gaya hidup mereka? Apakah mereka itu anaka2 dari orang tuanya yang sudah diberdayakan?

Makin banyak saya memperhatikan mereka, semakin banyak rasa ingin tahu saya pada pergulatan suku anak dalam menghadapi perubahan yang begitu cepat di sekeliling mereka. Berdasarkan data dari Direktorat pemberdayaan komunitas adat terpencil. Nyogan ini memiliki 60 kepala keluarga dengan jumlah warga hampir 300 jiwa yang sudah diberdayakan.

Karakteristik penduduk setempat cukup ramah, terlebih setelah kami banyak bertanya seputar alat transfortasi yang akan kami gunakan untuk melakukan ekspedisi di sepanjang sungai Nyogan. Gaya bicara mereka begitu asing buat kami, Tak ada yang bisa bicara pelan, entah….apakah alam Nyogan mengajarkan ini sejak dulu atau tidak, sehingga setiapkali melakukan panggilan nama saja, ibu2 muda muda yang menjaga warungnya itu harus berteriak laksana Tarzan. Padahal tetangganya yang dipanggil itu cuuuuuuukup dekat jaraknya, 5 meter!

~:~

Perahu yang saya maksud ini, dikenal dengan sebutan “Ketek”. Nmanya memang ketek, kita mungkin lebih akrab dengan sebutan perahu kecil alias sampan yang hanya bisa ditumpangi 2 orang.

Sayangnya dalam petualangan kemarin semua perahu yang bisa disewa sedang dipakai oleh pemiliknya untuk tajuran. Tajuran ini merupakan hoby kegiatan memancing ikan, menurut cerita temen2, tajuran itu merupakan satu bentuk kegiatan warga Nyogan untuk mencari ikan, dengan menggunakan pancingan sebagai alatnya. Caranya…..pancingnya idiikatkan pada batang pohon atau akar pohon disekitar sungai, yang jadi area lintasan ikan. kemudian dibiarkan semalaman. Keesokan paginya baru di ambil. Pengambilannya itu yang susah, karena dipasang di beberapa lokasi sungai jadi harus menggunakan ketek untuk mengambilnya, saat kami berkunjung, tak ada perahu yang bisa ditumpangi.

Sambil menunggu kabar dari beberapa warga Nyogan, kali-kali ada yang mau ngasih pinjeman ketek, saya perhatikan kontur tanah di Nyogan, warna tanah di daerah ini cenderung bercadas, putih kemerahan warnanya. Uniknya tiap rumah kayu yang didiami memiliki tanaman buah, seperti dukuh, rambutan, jambu bol, jambu air, kebetulan pada saat kami datang, buah2an ini sedang siap panen. Termasuk durian yang di tanam di belakang pemilik warung yang kami kunjungi. Namanya buah2an saya koq nggak bisa nahan untuk tidak mencicipi ya…aneh…) apalagi durian wiiiiiih…..

Absolutely 100% tak ada ketek yang bisa disewa, akhirnya kami meminta salah satu kepala keluarga untuk mengantar kami mencarikan ketek yang bisa dipakai dari tempat lain. Sayangnya….ternyata pencarian ketek tak membuahkan apa2. Kami diberikan satu pilihan untuk mencari perahu disekitar ‘rumah rakit’, yang jaraknya kurang lebih 1 KM itupun melintasi hutan sawit. Kata Mr. Kemi sih disana banyak rakit & perahu. (I don’t Believe You Sir! ) O…ya, Rumah rakit ini sebutan warga setempat untuk rumah yang dibangun diatas sungai. Sedikitpun awalnya saya tidak tertarik dengan rumah rakit ini, karena saya tidak begitu yakin bisa menikmati eksotismenya Nyogam dengan menggunakan rakit. Bisa2 hanyut saya.

Keinginan masih menggebu2 untuk mengeksplorasi alam Nyogan yang elok, kamipun akhirnya memutuskan untuk pergi menuju rumah rakit, yang harus dilalui lewat jalur perkebunan sawit. Tanahnya cukup licin, nampaknya hujan tadi malam cukup deras. Belum lagi lengketnya tanah membuat ban sepeda motor kami tak bisa berputar. Damn!!!

Motor terpaksa harus diparkir lagi di rumah penduduk. Dan akhirnya…..tiga sekawanpun berjalan melintasi hutan sawit tanpa alas kaki dan kendaraan. Banyak yang dapat di nikamti, mulai kolam2 kecil yang berada ditengah kebun sawit, dan juga binatang primata yang sibuk mencari makan pucuk2 daun.

Keragaman Fauna yang kami lihat hanya sebatas burung bangau, gagak hitam dan burung pemangsa ikan yang berwarna biru cerah. Semua hidup dialam bebas tanpa merasa terganggu dengan kehadiran tiga sekawan.

Satu kawasan nan eksotis versi pakde, yang terletak di Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro Jambi.


Rumah di seberang sungai itu yang membuat saya takjub, cukup unik, Siapa yang menghuni? Suku anak dalam? atau asli warga Nyogan? pertanyaan ini menjadi pekerjaan rumah saya karena saat kemarin melakukan pengambilan gambar. Ditempat ini tak ada ketek yang dapat disewa. Dan hanya ketek itu yang dapat membawa kami ke rumah rakit.

Harapan kami saat itu hanya berharap ada seseorang yang dapat menjemput kami dari arah seberang, sesering kami berteriak, malah bikin suasana di sana jadi kacau balau, meskipun berteriak, tetep saja tak ada yang dapat membantu kami untuk nyeberang.

Haaaaaaaaah nafas panjang berkali2 saya hempaskan karena perjalanan cukup melelahkan, duduk istirahat menatap air yang begitu tenang. Dikejauhan sesuatu yang hitam muncul dari balik belukar yang terkena luapan air pasang, Ada yang bergerak di kejauhan, yang terlihat adalah bagian kepalanya, lelaki setengah baya ini muncul diatas sebuah ketek bersama anak lelakinya.

Kulitnya legam suaranya menggelegar keras, dari kejauhan ia berteriak cukup jelas tanpa adanya gema pantulan suara ketika menolak permintaan kami. Teriakannya membuat beberapa burung bangau dengan bulunya yang cokelat muda harus terbang menjauh.

Karena penolakan sudah dinyatakan pemilik Saung, maka saya berusaha merayunya, sayangnya sikapnya memberikan peluang untuk mengeksplorasi Nyogan cukup sempit.

Sambil menunggu, dan berharap ada orang bisa membantu kami. Kami duduk diatas perahu yang masih terbujur diatas rumput. Sayangnya diantara kami tidak ada yang mahir untuk mendayung ketek. belum lagi mengatur keseimbangan yang bisa membalikan ketek. Jalan pintasnya hanya menikmati keindahan rumah Rakit dari seberang sungai.

Apa yang menarik dari rumah rakit itu sebenarnya?

Rumah rakit atau lebih jelasnya rumah apung, merupakan salahsatu jenis rumah tradisional di pedalaman Nyogan, Rumah yang menyerupai saung ini merupakan tipe rumah terapung, berbahan utama kayu gelondongan yang tahan lama sebagai fondasinya dan atapnya terbuat dari daun nipah yang sudah disusun rapi, Rumah ini terapung karena pada bagian bawah menggunakan kayu gelondongan berukuran besar, Untuk lantai di gunakan papan dan di tempatkan diatas gelondongan kayu. Untuk menghalau angin, dibuatlah dinding penyekat sampai semuanya dibentuk menyerupai bentuk rumah yang ada di darat. Agar tidak hanyut rumah ini menggunakan tiang penyangga yang dipasangkan ke dasar sungai.

Keberadaan rumah rakit menjadi salah satu bukti penyikapan manusia terhadap kondisi lingkungannya. Nyogan yang merupakan daerah yang memiliki aliran sungai yang produktif bagi masyarakat setempat akhirnya memaksa orang2 yang hidup di daerah tersebut untuk melakukan pembacaan, pembelajaran, dan penyikapan secara bijaksana. Hasilnya, mereka mampu menciptakan seperangkat kearifan lokal, mereka memahami betul bagaimana hidup secara harmoni bersama alam tanpa harus menaklukannya. Salah satu bentuknya adalah keberadaan Rumah Rakit tersebut.

Secara spesifik tempat & bahan yang digunakan untuk membangun Rumah Rakit ini adalah sepanjang aliran sungai yang agak dalam. Rumah rakit merupakan arsitektur rumah terapung yang sebagian besar bahan-bahannya terbuat dari kayu. Namun walaupun hanya terbuat dari kayu dan berada di atas aliran sungai, tapi bisa bertahan puluhan tahun dan menjadi tempat yang aman bagi pemiliknya dari terjangan banjir. Rumah ini dapat bertahan hingga puluhan tahun karena menggunakan bahan-bahan pilihan.

Masyarakat Nyogan secara arif dan bijaksana terhadap kondisi lingkungannya melahirkan kearifan lokal yang terejawantahkan dalam arsitektur Rumah rakit. Pesan dari keberadaan Rumah rakit sangat jelas, yaitu mengajarkan kepada kita untuk senantiasa membaca dan bersahabat dengan alam.

Kami tak mampu menungu berlama2 ditempat ini, dan bukan ide yang bagus jika harus menunggu ojek perahu, bisa2 kami kehabisan moment lain yang masih layak dijelajahi. Akhirnya kami kembali balik arah ketempat kami tiba. Kembali menyusuri hutan sawit yang begitu rindang. Acara berlanjut dengan makan siang dibawah pohon sawit. Perjalanan berlanjut menuju lokasi jalur Jembatan penyebrangan, lokasinya tidak jauh dari tempat kami menitipkan motor. disini kami menemukan warung yang menjual durian. Wiiiiih :D (Durian Fiesta maybe….bukan begitu Om Mahendra?) Mancing sambil makan duren tambahan acaranya, makin seru niiiiiih.

Mancing disini ternyata cukup damai, tempatnya teduh dan bersih.

Selesai menikmati lokasi pemancingan. Kamipun memutuskan untuk pulang. Sampai akhirnya tiba di sebuah tempat yang disbut GRAND CANYON nya NYOGAN, Lokasi ini persis nya berada di Pelempang. Masih satu rute menuju Jambi. Kelelahanpun berakhir disana.

Apakah Nyogan cukup menarik untuk di singgahi? Saya kembalikan pada anda.

Bookmark and Share

Top Post

23 Comments

basingbe

Dec 8th, 2008

wah hebat…
pengen donk ikutan jalan-jalan menelusuri hutan Jambi :(
kapan adventure yang lain lagi bro…??

Tahun depan nampaknyo…

kemix

Dec 8th, 2008

Exciting brother
Our journey very.. very amazing.
Cuma capeknya masih nyampe sampe hari ini.
Tapi yang penting misi sukses…
Bravo brother…
laen kali kita going ketempat yang menarik lagi..
Okay

Loh ini kan menarik SANGAT, baca donk bacaaaaaaaa! Untung ada kumendan kemi. Jadi perjalanan tidak begitu sepi. karena suaramu yang keras SANGAT. seperti wanita nyogan, yang teriakannya menggelegar itu… ha ha ha

marshmallow

Dec 8th, 2008

keren petualangannya.
keren foto-fotonya.
keren juga rumah barunya.
alam memang merupakan refleksi tingkah laku manusia yang hidup di dalamnya. kalau kita berbuat baik, maka alam pun akan membalas dengan memberikan yang terbaik bagi manusia.

Kami sadar belum searif seperti mereka, buktinya ketika kami minta tumpangan perahu pun mereka bilang NGGAK BISA LAAAAAAAAH. Gitu katanya. Ya…mudah2n lain waktu saya bisa bertemu dengan komunitas seperti itu secara khusus. Kuncinya membawa orang sekitar untuk mempertemukan kami. Kalo nggak, mana mau mereka kenal orang kita.

Nugroho

Dec 9th, 2008

Wah.. menarik sekali. Very good report Sobat..!
Rumah sakit terapung itu, SANGAT EKSOTIS..!!

Jadi inget dulu (waktu saya masih tinggal di Rumbai, Pekanbaru) salah satu kesukaanku adalah jalan2 mengikuti jalan2 setapak hingga kedalam hutan. Karena sering mengalami nasib yang serupa saat berkendara dijalan tanah, motor Honda Bebek C-70 ku saat itu aku ganti bannya dengan ban trail dan itu sangat membantu.. :)

Ditunggu laporan berikutnya Sobat..

Bukan Rumah Sakit Mas, tapi Rumah Rakit pakai “R”. Disini masih banyak yang harus di abadikan, sayangnya cadangan batere sangat minim.

Billy Koesoemadinata

Dec 9th, 2008

wah… jadi teringat waktu saya sempet ‘nyasar’ di kalimantan dulu.. :D
remembering the old days..
pakde,, bikin touring dong.. jadi organizer juga,, sekalian buat nyari dana - kan katanya mau jadi presiden :P
Billy K.
M

au jadi presiden koq harus touring bos? Hey wake up…sekarang bukan jamannya nyari donasi. Tapi gimana cara kita bisa Arif dengan alam.

thevemo

Dec 9th, 2008

pakde..karena kecapekan aku ketiduran dari jam 6 malam sampe jam 6 pagi….gak bisa deh posting perjalanan kita……

Padahal mas erwin kan di bonceng ya…koq bisa lemes gitu sih mas? Belajar pijat plus2 dooooonk. diurut donk diuruuuuuuut biar seger dan tidak letih. Atau jika perlu minum jamu PLUGIN Cap Kemi

novnov

Dec 9th, 2008

sedapppp…jalan terusssss…kok gak ngajak2 siyyy?!!!

Eh si eneng..baru aja sembuh dari Malarindu malah mau jalan2. mana kuwat buuuuuuuuk

Cindy

Dec 10th, 2008

Waduh pakde nih jalan2 mulu nih….katanya mau jadi orang jambi sekarang? bener nggak sih…gosip beredar di Bandung begitu pakde. Selamat kalo gitu…dipindahkan semua donk keluarganya.
Salam.

Really? Any other question ?

silent reverie

Dec 11th, 2008

Wah, asiknya berpetualang. Bikin serial petualangan pakde aja (nyaingin tintin) :D
Congratz buat rumah barunya! ;)

Ha ha ha…kalo tintiin tahu marah dia…..
Thanks sudah berkunjung kemari…

nh18

Dec 11th, 2008

Wow …
Pak Dek memang advonturis sejati …
Ini keren Pak …

Just like National Geography … versi Blog …

Salam saya Pak De
NH18

Yap, Just like New Geography Blog ;)
Thanks Kumendan!

edratna

Dec 11th, 2008

Pakde, saya terbayang betapa indahnya jika beneran kesana. Saya pernah diajak keliling kota Jambi dan sekitarnya, jalanan mulus dan kiri kanannya masih hijau…..
Sering2 posting jalan-jalannya ya.

Di kota sini masih banyak lahan2 kosong bun, tinggal pilih deh…dan semuanya luas buanget bun….Binatang langkanya masih buanyak bun…Mudah2an saya bisa menampilkan yang jauh lebih seru dari ini. Mengingat masih banyak tempat eksotis lainnya yang mesti di Explor.

heri

Dec 11th, 2008

wah asyiknya perjalanan :)

Sure

erander

Dec 11th, 2008

Reportase yang menyenangkan ..

Saya jadi teringat, ketika beberapa kali melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Barat pada waktu masih aktif sebagai anggota MAPALA dan GRAPHI (Graha Pencinta Lingkungan Hidup). Yang paling berkesan ketika menyusuri Taman Nasional Gunung Palung di daerah Ketapang.

Karena untuk mencapai lokasi — salah satu caranya — saya mesti berjalan kaki bukan dijalan setapak tapi disungai kecil yang dangkal. Dan serunya .. itu dilakukan pada malam hari. Gelap dan hanya ditemani dengan lampu senter .. dengan perjalanan kaki sekitar 45 menit. OMG!!!

Harap2 cemas kadang muncul tuh bang, apalagi kalau itu di lakukan di sungai Jambi yang masih perawan, saya sendiri kadang muncul sugesti….jangan2 ada buaya nya….maklum lah bang, airnya tuh tenang banget. nggak ada riak batu atau apa lah….alirannnya itu bener2 tenang. Kemaren saya jalan2 di pinggiran sungainya karena siang hari, coba kalau malam hari seperti yang abang lakukan….wiiiiiiiiiiiiii saya pikir2 dulu deh bang.

sawali tuhusetya

Dec 11th, 2008

wow…. postingan yang keren, pakde. perpaduan gaya ucap yang lincah dipadu dengan ilustrasi yang oke serasa membawa saya ke tengah2 suasana masyarakat nyogan. melihat gaya bertuturnya yang enak, sepertinya pakde sudah lama menggeluti jurnalisme sastra. wah, salut banget, nih. yaps, salam kreatif!

Terlalu rame, terlalu banyak foto yang di post kalo menurut saya bang, tapi mau gimana lagi, saya pengen memperlihatkan fakta itu…..setelah saya banyak membaca tulisan pak guru jadinya begini nih pak….ha ha ha ha. Bergaya jurnalis? bisa juga.

Cecep SWP

Dec 12th, 2008

Petualangannya menarik juga yang ini….

Mau Ikut? ikut? ikut?

reallylife

Dec 12th, 2008

keren banget
aye suka pakde
suka juga ma rumah barunya.

Kapan-kapan saya ajak kepedalaman yang jauh lebih dalam lagi, Rumahmu juga baru nampaknya ya…..Thanks untuk kunjungannya Bro.

fetro

Dec 12th, 2008

wow… petualangan yang hebat pakde. Rumah barunya juga keren.

Thanks Brow….kapan mau ikut berpetualang nih?

Jauhari

Dec 13th, 2008

Dolan dolan terus ;)

Ngantor mulu suntuk sih mas…makanya dolan2

[...] Untuk poto-poto bisa diliat di sini Mr.Kemik & TheKRY [...]

Rizal

Dec 14th, 2008

Asli….. Mak Nyuuusss!!!… Wah pake acara makan durian pula… :)

Suka durian? saya suka…makanya pakai acara makan durian…kalo nggak suka…saya nggak makan durian….Tul??

donapiscesika

Dec 14th, 2008

wiiih….jdi pengen ke sana…reportase yang mantap pak de…menggoda banget!

Menggoda apanya? AKu kan nggak naked…? Rumahnya? motornya? alamnya? atau pakdenya? wakakak. Thanks Dona!

[...] Pak Dekry : “JOURNEY TO NYOGAN” [...]

Oh My Gooood! Thanks OOooom

Roy

Jul 5th, 2009

Nice Journey bro !!
i love it
Many kinds of jungle adventure can be found in Jambi.
lets explore jambi

Leave a Comment

Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.