Pernikahan Adat JAMBI
by theKRY™ on 04/01/09 at 9:59 pm
Part One
Akhirnya….setelah setahun menunggu, saya dapat menikmati upacara adat pernikahan di Jambi. Cukup unique dan membuat saya terpukau..saaaaaangat mengagumkan! Banyak yang saya pelajari disini, dari mulai persiapan pernikahan seperti Free wedding yang dilakukan kedua mempelai, bikin undangan, menyebarkan undangan, sampai resepsi pernikahan yang cukup meriah. Semua proses yang dilalui dari awal persiapan sampai “H” Day sangat memukau, Pesta pernikahan temen saya Merry & Ipul ini tidak lagi menganut budaya Tradisional, karena sebagian adat yang ada, sudah terkikis oleh Urban Life. Tidak traditional memang…..namun masih berbau melayu.
Seperti apa resepsi pernikahan temen saya ini? Inilah catatan perjalanan pakde dua hari mengikuti resepsi. Disclaimer silahkan sampaikan disini, tanpa ada maksud untuk merusak budaya, merubah budaya yang ada jadi keliru atau sebaliknya, saya hanya menuangkan apa yang saya lihat. Sebuah budaya yang sedang saya pelajari di tanah pusako betuah, sepucuk jambi sembilan lurah.
| LAMARAN |
Sebelum meminang, keluarga pihak laki-laki melamar terlebih dahulu gadis yang akan dinikahi. Maksud dari kegiatan melamar adalah menanyakan persetujuan dari pihak calon pengantin perempuan sebelum dilangsungkannya acara meminang. Lamaran dilakukan oleh pihak calon pengantin laki-laki, yaitu dengan cara mengantarkan beberapa wakil dari keluarga yang dipercaya dapat memikul tanggung jawab tersebut. Dalam pertemuan tersebut terjadi pembicaraan untuk mendapatkan jawaban yang pasti dari pasangan yang akan dijodohkan. Biasanya pihak perempuan akan memberikan jawaban dalam tempo beberapa hari. Adanya tenggat waktu adalah agar perempuan tersebut tidak dianggap menjual murah yang begitu mudah langsung menerima lamaran. Masa tenggang tersebut juga dimaksudkan untuk berunding dengan keluarga dan saudara pihak perempuan, disamping itu juga untuk menyelidik latar belakang laki-laki secara teliti dan hati-hati.
Setelah calon laki-laki disetujui oleh keluarga pihak perempuan, mereka kemudian menemui wakil pihak laki-laki untuk memberitahukan keputusan tersebut. Dalam adat Melayu, biasanya pihak laki-laki sendiri yang akan datang ke rumah pihak perempuan untuk menanyakan keputusan tersebut. Setelah kedua pihak berbincang dan bersepakat, utusan dari wakil pihak laki-laki akan datang lagi untuk menetapkan kapan hari pertunangan. Dalam pertemuan ini juga diperbincangkan seputar jumlah barang antaran dan jumlah rombongan pihak laki-laki yang akan datang secara bersama. Hal itu dimaksudkan agar pihak perempuan mudah membuat persiapan dalam menerima kedatangan mereka.
Selesai menentukan waktu lamaran, dibuatlah sebuah upacara adat jambi, kegiatan lamaran ini dilangsungkan dalam waktu yang cukup singkat. Sekitar setengah hari. Dalam prosesi lamaran masyarakat Melayu Jambi masih menggunakan seloka. Temen2 pasti bingung apa itu Seloka? Seloka itu merupakan bentuk puisi Melayu lasik, berisikan pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair. Umumnya Masyarakat melayu Jambi, baik keluarga yang dilamar maupun yang melamar, keduanya memiliki ahli seloka yang cukup handal dalam membacakan seloka. Mereka kemudian memulai acara meminang dengan saling berkenalan terlebih dahulu. Setelah berkenalan wakil pihak perempuan memulai adat ini dengan bertanya kepada wakil pihak laki-laki tentang siapa yang memiliki sirih tersebut. Wakil pihak laki-laki akan menjawab dengan menyebutkan nama laki-laki diwakilinya dan juga nama perempuan yang hendak dipinang. Mereka juga menyatakan maksud kedatangan mereka. Setelah itu tepak sirih yang diterima oleh wakil pihak perempuan kemudian dikembalikan kepada wakil pihak laki-laki sambil mengatakan bahwa pinangan mereka diterima atau ditolak. Semua ritual disampaikan dalam seloka.Selesai berseloka, masing2 keluarga akan menukarkan tempat sirih yang sudah dilengkapi dengan beberapa lembar daun sirih, buah pinang yang sudah dihaluskan dan sebungkus rokok.Selesai di tukar masing2 anggota keluarga yang mengikuti upacara adat Melayu Jambi ini diharuskan untuk menyobek daun sirih kemudian mengunyahnya.
Wakil pihak laki-laki kemudian mendatangi calon pengantin perempuan untuk mengenakan cincin di jari manisnya. Perempuan tersebut biasanya berada di balik bilik yang telah berpakaian indah. Upacara tukar cincin ini menandakan calon pengantin perempuan tersebut telah resmi bertunangan dengan calon pengantin laki-laki. Setelah itu calon pengantin perempuan bersalaman dengan para hadirin, terutama dengan beberapa orang perempuan yang mewakili rombongan pihak laki-laki.
Saya sendiri baru sadar, kalau proses tunangan itu sebetulnya berasal dari Melayu. Istilah “meminang” digunakan karena buah pinang merupakan bahan utama yang dibawa saat acara meminang beserta daun sirih dan bahan lainnya. Buah pinang adalah lambang untuk laki-laki karenanya bentuknya yang keras. Sirih adalah lambang untuk perempuan. Buah pinang dan sirih adalah lambang laki-laki dan perempuan yang bersatu dan tidak dapat dipisahkan. Artinya bahwa seseorang itu tidak mungkin makan sirih tanpa pinang. Dalam perkembangan adat Melayu saat ini, buah pinang tidak lagi sebagai satu-satunya bahan yang dibawa untuk meminang, namun dibelah-belah secara halus dan diantar beserta dengan daun sirih sebagai pelengkapnya.
| MENENTUKAN RESEPSI PERNIKAHAN |
Masing-masing dari kedua pihak keluarga akan berunding untuk menentukan hari Pernikahan, biasanya penentuan hari pernikahan dilakukan jauh-jauh hari. Menariknya karena pesta MERY & IPUL ini dibuat cukup mewah, Setelah melalui rapat khusus, ditentukanlah orang2 pilihan yang akan membantu resepsi pernikahan . Akhirnya mereka harus siap kerja untuk 3 Januari 2009 dan 4 Januari 2009.
Tahap Persiapan

Dua minggu sebelum acara dimulai, keluarga yang akan menikah biasanya sudah dikunjungi saudara-saudaranya dari luar kota, kesibukan panitia sudah mulai dijalankan, semua kerja untuk kelancaran resepsi pernikahan. termasuk hal kecil seperti melakukan pengecatan rumah, menentukan bakal undangan dari kedua pihak keluarga mempelai. Menyebarkan undangan, cari tukang tenda, menentukan tukang rias, photographer, cameraman, hiburan, sewa gedung, sewa tukang rias. dsb dsb….
Setelah melalui proses dan tahapan yang begitu panjang, maka kini saatnya melangsungkan upacara pernikahan. Sebagian orang melayu Jambi ada yang menyebutnya dengan istilah seperti “upacara nikah kawin”, “upacara helat jamu pernikahan”, dan “upacara perhelatan nikah kawin”. Upacara ini merupakan hari “H” yang ditunggu-tunggu oleh siapa saja yang berhubungan dengan pernikahan ini, baik bagi calon pengantinnya sendiri maupun seluruh keluarga dan saudara-saudaranya. Dalam adat Melayu Jambi,upacara perkawinan ini biasanya dilakukan secara amat terinci, lengkap, dan bahkan tidak boleh ada yang tertinggal satupun.
HANTARAN PENGANTIN
Sabtu 3 Januari 2009 - 10.00 WIB

Sebelum melakukan Ijab Qabul, dilaksanakan lebih dulu upacara adat Jambi, salah satunya adalah HANTARAN PENGANTIN. Sebagai bagian dari proses pernikahan, penyerahan hantaran pengantin telah menjadi tradisi di masyarakat. Tidak diketahui secara pasti kapan munculnya tradisi ini. Namun yang pasti, pemberian hantaran pengantin merupakan bentuk penghormatan keluarga pengantin pria kepada calon pengantin wanita. Isi paket antaran tentunya berbeda-beda, tergantung dari permintaan pengantin wanita, adat istiadat, kemampuan pihak pengantin laki-laki, atau faktor lainnya. Tampilan dan bentuk kreasipun akan berbeda-beda. Semakin kreatif sipembuat, semakin menarik pula paket hantaran pengantin yang akan tersaji.

Dalam adat melayu jambi, hantaran ini tentu tidak akan lepas dari tradisi keluarga Melayu Jambi. Satu yang membuat saya terkesima, dalam hantaran itu di sertakan sebatang pohon pinang lengkap dengan buah dan daun sirih, berdasarkan cerita rakyat setempat, nama Jambi berasal dari perkataan “jambe” yang berarti “pinang”. Nama ini ada hubungannya dengan sebuah legenda yang hidup dalam masyarakat, yaitu legenda mengenai Raja Putri Selaras Pinang Masak, yang ada kaitannya dengan asal-usul provinsi Jambi. Sebagai bentuk tradisi adat, bisa jadi untuk tidak melupakan Putri Selaras Pinang Masak. Maka pohon pinang yang masih utuh itu masuk dalam iringan hantaran pengantin pria.
Dalam rombongan yang membawa hantaran dari pihak pengantin pria itu ada yang membawa senapan ceplek, dua buah tombak, satu buah timbangan, 7 ekor elang yang sudah di ganti dengan 7 ekor ayam jantan, seperangkat alat sholat, perlengkapan mandi, perlengkapan tidur, pakaian dalam, seikat kayu bakar, rempah-rempah, perlengkapan masak, perlengkapan mandi, kecantikan, buah-buahan, asem jawa, termasuk tempat sirih yang nanti akan diletakan di balairungsari dan mas kawin. Balairungsari yang dipakai dalam resepsi pernikahan temen saya kemaren cukup dibuat dalam bentuk panggung dengan tinggi sekitar 50 cm dengan luas sekitar 4 x 6 meter persegi.

Setelah memasuki pintu masuk halaman rumah pengantin perempuan, upacara adat berlanjut dengan “KATO BAJAWAB DIHALAMAN” atau berbalas pantun di halaman. Muatannya tetap dengan seloka yang bertujuan untuk menyambut dan mengetahui maksud kedatangan pihak pengantin pria. Selokanya cukup rumit, karena menggunakan bahasa Jambi. Seloka dimulai oleh pihak pengantin Pria. Yang diwakili oleh Niniek Mamak (orang yang di tuakan/saudara laki-laki ibu).
Bersambung…..!!!









8 Comments
Billy Koesoemadinata
Jan 5th, 2009
loh pakde, koq musti nunggu 1taun dulu sih?
btw,, saya jadi keingetan sama acara merit temen saya juga, minggu kemaren.. jadi, dia tuh orang padang, masih melayu, tapi modern - coz, udah lama tinggal di jakarta sih
salut buat Pakde
Jan 5th, 2009
Nah jadi juga..Sayang sudah terkontaminasi gaya urban ya ? Tapi apa justru disitu seninya ?
thevemo™
Jan 5th, 2009
berbalas pantun yang asyik.
latqueire
Jan 5th, 2009
bbrp bulan yang lalu sempat menghadiri pesta pernikahan saudara di jambi.. tapi yang saya datangi adalah pernikahan orang minang yang dilaksanakan di jambi.. dan spertinya banyak orang minang di jambi yah.. 2 kali datang ke pernikahan dijambi. adatnya minang semua.. hihihi.. hantarannya lucu2 yah…
Farrel
Jan 6th, 2009
Mirip ma pernikahan adat Minang ya. Mungkin karena masih serumpun ya, rumpun melayu…
Seserahannya kok aneh2 ya…!
marshmallow
Jan 6th, 2009
laporannya kumplit banget deh, pakde.
foto-fotonya juga seru.
melihat hantarannya saya jadi teringat saat menyaksikan pertunangan seorang teman di malaysia, hantarannya berbagai jenis dan jumlahnya luar biasa banyaknya, puluhan jenis!
acara adat memang manarik untuk disimak.
lil' white cat
Oct 5th, 2009
wew pakde, thanks ya infonya…
kebetulan lebaran kmaren, saya sempet menghadiri acara lamaran adat jambi, mendengar cara mereka berseloko2 itu menarik sekali… dan berhubung saya dan pasangan saya sama2 lahir gede di jambi, jadinya berencara untuk bikin acara adat jambi juga… izin shared ya… dengan pengeditan ala saya juga… ^_^
M. Aries
Jan 28th, 2010
pak de bisa gak saya minta tulisannya mengenai pernikahan adat jambi karena adik saya mau menikah dengan orang jambi. kami dari pihak laki-laki asli jawa timur.
Terima kasih.
Leave a Comment