Journey To The Past
by theKRY™ on 17/02/09 at 5:28 pm
Candi Muarajambi
Hujan deras tadi malam tak mengurungkan niat kami untuk menelusuri jejak peninggalan arkeologi. Inilah journey pakde minggu 15 Februari 2009 bersama budemotivasi, ulie dan Kemix. Bagaimana icon Visit jambi 2009 di mata kami? berikut liputannya.
“Selamat Datang di Kompleks Situs Percandian Muaro Jambi”
Tulisan itu menempel pada papan dengan design gapura mini. Huruf-hurupnya sebagian sudah lepas dan nyaris pudar. Sebuah bangunan baru dengan megah berdiri tegak disebuah lapangan parkir begitu kontras karena kemegahannya berada dianatara ilalang halaman parkir wisatawan dan hutan duku yang tetap menghijau. Dari dalam mobil aku tehenyak melihat post penjagaan yang berdebu tanpa penjaga berdiri pada jarak 200 meter dari bangunan megah. Bangunan kedua yang tak berfungsi.
Inilah suasana pagi di Situs Percandian Muarojambi yang terletak di Desa Muarojambi, Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muarajambi. Rute yang kami lalui berjarak sekitar 25 KM dari ibu kota Provinci Jambi.
08:05 kami sampai di gerbang utama komplek percandian Muaro Jambi. Jauh didepan berjarak sekitar 200 meter dari gapura pintu masuk komplek percandian, seorang penjaga ticket menghentikan mobil yang kami tumpangi. Ticket masuknya hanya 4 ribu rupiah untuk 4 orang. Sangat murah bukan?
Jalan menuju Candi mengunakan konblok dan Mobil tak bisa melesat cepat karena sebagian konbloknya tidak rata lagi. Sesampainya di areal parkir. Kami turun dengan mata berbinar2 menyaksikan tumpukan batu-bata berbentuk stupa. Setelah mengisi buku tamu, kamipun menikmati masterpiece situs Muarajambi, suatu wilayah yang berisi temuan purbakala di daerah Muarajambi dengan hawa yang sejuk sekali. Ya…sejuk sekali…..dikelilingi hutan dukuh yang masih lestari.



Disaat kami terpesona dengan keberadaan stupa, Ahong salah seorang penggerak karang taruna datang menghampiri, dialah yang menyambut kedatangan kami pagi itu. Ahong pertama kali saya kenal waktu mengikuti seminar bersama temen2 di Jambi Consorsium. Sebuah institusi yang membantu menggalakan visit Jambi 2009 kerja bareng Disbudpar Provinci Jambi. Tiga bulan lamanya kami tak bertemu karena kesibukan teramat padat. Untungnya bundamotivasi menggiring niat saya untuk berkunjung ke Candi Muarojambi. Dan kami bisa bertemu kembali.


Bertepatan dengan Valentine, Ahong & friend menggelar parade music di halaman gedung pentas seni dan budaya yang berlokasi masih di komplek candi. Saya melihat ada pembauran budaya lewat hoby dengan keberadaan situs bersejarah, Memang…Ahong & Friends menggelar pesta seni ini untuk memacu minat wisatawan bisa berkunjung ke areal candi, sayangnya ekspose kegiatan mereka tak terdengar gaungnya.
Hentakan drum beraliran progressive mengiringi petualangan kami di situs Muarajambi. Kami sebetulnya menghendaki aliran music melayu Jambi agar pesona dan atmosfir yang ada di komplek candi lebih berasa. Namun keinginan itu nampaknya tidak mungkin.


Candi Gumpung
Candi ini merupakan salah satu candi di Komplek situs percandian Muarajambi, Nama Gumpung disebut pertama kali oleh F.M. SCHNITGER dalam laporannya tahun 1937, meskipun ada kesalahan dalam penyebutan dan deskripsi dengan Candi Tinggi. Candi Gumpang memiliki halaman yang dibatasi dengan pagar keliling berbentuk bujursangkar 150 m x 155 m. Berdiri tegak 14.7 meter dari permukaan laut. Menghadap kesebelah timur, sesuai dengan kedudukan gapura utama yang menghadap ke timur. Candi Gumpung dibatasi oleh Parit Johor dan kebun di sebelah utara dan di bagian timur dibatasi jalan setapak, bagian selatan oleh gedung koleksi situs purbakala dan bagian baratnya dibatasi kebun Parit Sungai Jambi.

Sebuah Pohon duku berdiri disebelah kanan Candi Gumpung. Didepannya terdapat sebuah altar cukup luas. Areal rerumputan ini diduga masih menyembunyikan bangunan candi yang belum di pugar. Jika kita menginjaklapangan ini, kita akan melihat banyak batubata yang tersembunyi dibalik rumput.

Candi Tinggi
5 menit berjalan menuju Timur Laut, kami langsung menikmati kecantikan Candi Tinggi yang berdiri kokoh diareal tanah seluas 2.92 Ha. Candi Tinggi ini memiliki satu bangunan induk, 6 bangunan perwara dan pagar keliling, Bangunan induknya telah dipugar berdenah bujursangkar berukuran 16m x 16m dengan tinggi 7,6 meter. Saat ini keberadaan Candi Tinggi hanya bagian pondasi serta sedikit bagian kaki. Gapura menuju komplek Candi Tinggi terletak di bagian timur dan barat.


Candi Tinggi ini ditemukan tahun 1820 dan dipugar dalam kurun 9 tahun sejak 1978 sampai 1987. Menurut pemaparan Asril (Bujang) selaku guide yang kami temui di Gedung Koleksi Kepurbakalaan. Candi Tinggi ini merupakan peribadatan Budha Tantrayana, dikelilingi dengan pagar batubata seluas 75 x 92 m. Dilokasi ini kami hanya melihat satu stupa yang tertinggal dan nyaris roboh.

Kecantikannya membuat kami betah berlama2. Belum lagi melihat antusias anak2 yang bermain di komplek Candi yang terus mengekor perjalanan wisata kami. Begitu riang dibarengi gelak tawa, melompat dari undakan paling bawah sampai undakan tertinggi. Ya…mengasyikan melihat wajah polos mereka dengan tampilan sederhana, berkelompok. memenuhi Candi Tinggi. Satu moment yang nampaknya perlu diabadikan.
Bagi sebagian penduduk setempat, (boleh jadi ini berlaku untuk kita) Wisata Candi jauh lebih murah dibanding dengan wisata Mall. Coba bayangkan,….Mainanan yang ditemui disana hanya lapangan rumput, jalan setapak yang sudah di semen yang dapat dijadikan arena catwalk, krikil yang bisa dilempar kemanapun mereka mau lemparkan, tidak ada tuh permainan yang berbau elektronik, jajananpun cukup mie pangsit, es tebu, mie bakso, snack yang serba murah.
Keberadaan anak-anak ini kami biarkan apa adanya, dan kami tak ada hak untuk menghilangkan cinta mereka kepada candi dengan menjadikannya sebagai arena bermain, mereka tidak kami usik, lebih dari itu kami ngobrol dengan mereka yang sudah duduk dengan rapih, Inilah generasi penerus yang nantinya akan menerima warisan dunia ini untuk dikelola, Sempet terlintas juga kalau disini sedang musim dukuh betapa mengasyikan sepertinya melihat mereka memanjat pohon duku dengan bebas. Polah mereka mengobati kekangenan saya pada masa kecil, jaman dimana saya masih senang berkelana menyusuri bangunan-bangunan tua di desa saya.

“Ayo…siapa yang mau masuk TV dan Koran?” budemotivasi mulai bicara dengan mereka. Spontan anak2 ini lebih interest mengakrabi kami, berkumpul tak mau menjauh dari kami. (hah namanya anak2….mau aja di kibulin). Thanks God, You make my worlds so colourfull! Sayangnya saya belum paham bahasa mereka, sehingga kerap membuat kening ini berkerut ketika mendengar mereka bicara. What are you talking about? Mereka hanya tersipu malu.

Kolam Telagorajo.
Dalam komplek percandian Muarojambi, kami menemukan satu lagi lokasi yang layak di republikasikan, yaitu Kolam Telagorajo, lokasinya sekitar 200 meter ke arah Selatan Candi Tinggi atau tepat berjarak 100 meter di sebelah timur Candi Gumpung. Awalnya saya menduga Kolam Telagorajo adalah tempat raja2 jaman dulu mandi bersama putri-putrinya, ya…seperti cerita2 dalam dongeng itu loh. Dugaan itu ternyata keliru, karena menurut Asril (Bujang), kepastian fungsi kolam inipun masih belum jelas, Kolam Telagorajo yang ditemukan pada pertengahan tahuan 70-an itu, sedikit dapat disimpulkan keberadaan kolam ini dikaitkan dengan tempat waduk kontrol dibangun agar air tidak menggenangi lingkungan candi, kolam ini diduga merupakan tempat untuk persediaan air bersih bagi masyarakat jaman dulu. Memang perlu adanya penelitian yang lebih dalam untuk mengungkap keberadaan kolam tersebut. Dan saya sepertinya butuh bukti otentik dengan keberadaan kolam di Kompleks Candi Muarajambi.

Kolam ini termasuk kolam kuno yang sengaja dibuat untuk memenuhi kebutuhan terkait dengan kegiatan ibadah di situs Muarajambi, ada dugaan sementara dimasa lalu fungsi kolam ini selain sebagai penampungan air juga untuk memenuhi kebutuhan simbolis gambaran Samudera, Fitur2 seperti kolam ini, dalam kenyataannya juga tidak hanya dibuat diluar kompleks candi, namu di luar halaman bangunan candipun masih ada, seperti halnya dihalaman Kompleks Candi Gumpung, Menurut pemaparan Asril dikawasan ini dulu terdapat sebuah danau dan sampai saat ini penduduk Desa Muarojambi menyebutnya Danau Kelari.

Jam 12 siang, panggilan alam mulai menyeruak dari dalam perut. Kamipun akhirnya menikmati suguhan penjaja kaki lima, sejak pagi sepertinya mereka menungu kami singgah, senyumnya ramah menyapa kami, sampai kamipun memutuskan untuk menyantap hidangan murah meriah di bawah pohon yang cukup rindang. Inilah menu Es Tebu plus mie pangsit made in Candi. Yang bisa kita temui. Mmmmmhhh…..Segaaaaaaaaaarrrrrr…..!!!

Next
Petualangan berlangsung di Gedung Koleksi Kepurbakalaan situs Muarojambi. Disinilah pusat benda2 bersejarah yang ditemukan di sekitar candi disimpan dengan cukup baik. Awalnya pakde berencana mengunjungi Candi Kedaton, Candi itu paling besar ukurannya dan masih dianggap angker oleh penduduk setempat. Sayangnya pakde sudah kelelahan. Belum lagi lokasinya yang cukup jauh.

Bata Berukir
Benda ini dibuat dari tanah liat bakar yang dibentuk dengan teknik ukir, sehingga menghasilkan bentuk seperti stupa, kala, bata berprofil termasuk hiasan dengan motif flora dan geometris.
Mata uang Logam
Sebagian besar mata uang logam Cina berasal dari Candi Gedong I, ditemukan di sisi dalam pagar keliling sebelah timur di kompleks Candi Gedong I, Menurut keterangan Asril benda2 ini didatangkan dari Cina, karena pada permukaannya tertera huruf Cina. Meskipun pada mata uang logam Cina tidak dituliskan Nilai Nominalnya, tetapi dalam masa klasik di Indonesia, mata uang tersebut telah mempunyai peranan sebagai alat tukar, imbal jasa, upeti, alat pembayar hutang, hadiah dan pelengkap dalam kegiatan upacara keagamaan. lebih jauh penemuan mata uang Cina ini dapat memberikan sumbangan berarti dalam mengungkap latar kebudayaan dan kronologis situs Muarojambi.
Artefak Logam
Benda-benda ini terbuat dari perungu. Terdiri dari Fragmen arca manusia seperti telapak tangan, jari tangan, payung (chatra), gelang, paku dan pasak. Sebagian bentuk lainnya sangat Fragmentaris sehingga tidak dapat diidentifikasikan bentuknya.
Lesung
Ada satu benda yang membuat saya berdecak kagum, yaitu lesung yang sudah membatu ditemukan warga sekitar di Muarajambi, Lokasi penemuannya tidak jelas karena lesung ini merupakan imbal jasa milik seorang penduduk Desa Muarajambi. Permukaan bagian luar lesung ini dihiasi kelopak bunga teratai atau padma. Panjang 106 cm, lebar 60 cm dan Tinggi 33 cm. Lesung kedua ditemukan disekitar Candi Gedong I, ditemukan tepat diatas bangunan perwara diutara bangunan induk Candi Gedong I tahun 1998. Benda ini berbahan metamorf dengan panjang 103 cm, lebar 52 sm dan tingginya 30 cm.
Arca Dwarapala
Benda yang satu ini ditemukan pada bulan April 2002 didepan reruntuhan gapura Candi Gedong II, ditemukan pada saat dilakukan ekskavasi arkeologi dilokasi gapura pagar keliling candi. Sebagian menyebut arca ini arca penjaga karena bentuknya seperti penjaga, umumnya arca ini berpasangan atau 2 buah, berdiri didepan sisi kanan-kiri gerbang atau gapura pintu masuk candi. Sebagai penjaga gerbang umumnya anatomi tubuh maupun atribut yang dikenakan digambarkan seram, menakyutkan, atau garang, seperti mata melotot, gigi bertaring, badan gemuk, membawa senjata serta memakai atribut gelang dari ular, kalung tengkorak dll. Sayangnya Penggambaran arca dwarapala dari candi Gedong II ini lebih tenang dari arca dwarapala pada umumnya, kesan penjaga hanya ditujukan pada atribut senjata gada dan perisai, jelas ini beda sekali dengan arca dwarapala candi2 di Jawa atau di bali.

Arca Gajah-Singa
Arca gajah dengan seekor singa diatas punggungnya dibuat dari basalt (batu pasir) yang tergolong batuan padat. Tinggi 61,5 cm dan panjang 122,5 cm. Diletakan berdampingan ada satu lagi arca namanya Arca Gajah, diperkirakan berasal dari Candi Kotomahligai. Benda ini ditemukan dilokasi yang sama dengan Arca gajah Singa, yaitu dekat reruntuhan candi Perwara di Candi Kotomahligai.
Arca Pradnyaparamita
Ditemukan di Sandi Gumpung, Tokoh wanita ini dianggap sebagai dewi kebijaksanaan dalam agama Budha Tantrayana, Tangannya digambarkan dalam sikap DHARMACAKRAMUDRA yang melambangkan ‘Sedang memutar roda dharma’
Arca tanpa kepala ini duduk diatas lapik yang tertutup kain panjang. Sikap kakinya Padmasana yaitu kaki disilangkan sehingga telapak kaki kiri dan kanan terletak diatas kedua paha. Ya…ini mirip dengan Arca Candi Singasari di Jawa Timur yang dianggap sebagai Arca terindah. Arca ini ditemukan tahun 1978 pada saat pemugaran oleh Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, berbahan dasar batu andesit dengan tinggi 80 cm dan lebar 74 cm.

Belanga
Wadah dengan tinggi 64 cm, berat 160 kg dan diameter 106 cm ini ditemukan tahun 1994 secara tidak sengaja ketika seorang penduduk Desa Muarajambi menggali tanah di Timur Candi Kedaton. Tehnik yang digunakan untuk membuat belangan sebesar ini menggunakan teknik tempa, bahan campurannya tembaga dan timah putih. Masa pembuatannya belum diketahui, tetapi berdasarkan kronologi temuan lain disekitarnya, Belanga ini diperkirakan memiliki kisaran kronologi dari abad 9 - 13 Masehi.


Keramik/Gerabah
Situs ini merupakan situs pemukiman, sehubungan dengan adanya temuan Keramik/Gerabah baik lokal maupun asing dalam jumlah yang cukup banyak tersebar disekitar percandian. Peninggalan keramik/Gerabah ini merupakan gambaran adanya aktivitas penduduk yang menetap dalam waktu yang cukup lama. Keramik lokal berupa gerabah dan keramik asing berupa porselin atau batuan. Bentuknya beragam, mulai dari mangkuk, piring, kendi, Vas, gelas, botol, pasu, cepuk, buli-buli, tempayan. Keramik asing di situs Muarajambi berasal dari Cina, Thailand, Vietnam dan Myanmar. Kronologi keramik Cina ini berasal dari abad 8 ssampai 20 masehi tepatnya di jaman Dynasty Tang s/d Dinasty Qing. Namun untuk keramik Cina muncul dijaman Dinasty Sung yaitu 10-13 masehi.
Ke Candi Nyok!
Situs Muarajambi ini wilayahnya membentang dari barat ke timur sepanjang 7,5 kilometer ditepian sungai Batanghari, dengan luas sekitar 12 kilometer persegi. Ditempat seluas inilah, nenek moyang kita melakukan aktivitasnya di sebuah daratan sempit yang dibatasi rawa-rawa di utara dan Sungai Batanghari dibagian selatannya. jalan menuju Kompleks percandian sangat baik. Jalur lainnya menggunakan jalur Sungai dengan menyewa perahu kecil (ketek). Waktu tempuh dari Pusat kota sekitar 1 jam setengah.

Peninggalan Situs Muarajambi terdapat lebih dari 70 jumlahnya, Sembilan diantaranya merupakan bangunan yang sudah dapat diidentifikasikan sebagai kompleks candi seperti Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong I dan II, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembarbatu, Candi Astano serta kolam Telagorajo. Sisanya adalah Menapo atau tumpukan tanah yang didalamnya terdapat struktur batu bata. Situs ini terletak di tepi Sungai Batanghari atau sekitar 25 km timur laut dari Kotamadya Jambi. Untuk mencapai lokasi, perjalanan bisa ditempuh melalui jalur darat dan jalur sungai. Jika melalui jalur sungai, lama perjalanan lebih kurang 20 menit dengan menggunakan speed boat. Sedangkan jalur darat, perjalanan dapat ditempuh melalui 2 akses. Akses pertama perjalanan dimulai dari Kodya Jambi ke Jembatan Aur Duri menuju Olak Kemang dan ke lokasi objek wisata. Akses kedua, perjalanan dimulai dari Kodya Jambi ke Jembatan Aur Duri menuju Simpang Jambi Kecil dan ke lokasi objek wisata. Ticket masuk hanya 1000 rupiah.

History Catatannya saya kutip dari Suaka peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinci Jambi, Sumatera Selatan dan Bengkulu. Penemuan situs Muarajambi diawali oleh seorang perwira angkatan laut Kerajaan Inggris bernama S.C. Crooke pada 1883 ketika ia ditugaskan melakukan pemetaan hidrologi dan pecatatan daerah-daerah sepanjang Batanghari untuk kepentingan militer. Dalam laporannya Crooke mengatakan ia melihat reruntuhan beberapa bangunan bata di dalam hutan Muarajambi. Ia juga melaporkan penemuan sebuah arca gajah dari batu. Satu arca kepala Budha malah dibawanya ke Pulau Penang, Malaysia sebagai bukti.
Pada tahun 1921 seorang Belanda bernama T. Adam mengunjungi Muarajambi. Ia melihat lebih banyak reruntuhan bangunan bata, menemukan arca gajah, Budha berdiri, sebuah benda menyerupai lesung, dan padmasana atau singgasana batu. Tiga belas tahun kemudian F.M. Schnitger mengunjungi Muarajambi. Ia adalah sarjana pertama yang menghubungkan situs Muarajambi dengan kerajaan Melayu (Mo-le-yeu) yang disebut-sebut dalam naskah Cina abad XVII. Ahli-ahli purbakala Indonesia mulai meneliti situs ini di tahun 1954. Pada tahun 1975 dilakukan pemugaran atau restorasi yang diprakarsai oleh Direktorat Sejarah dan Purbakala, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Junus Satrio Atmodjo – arkeolog senior, mantan Kepala Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jambi, Sumatra Selatan dan Bengkulu – dalam film dokumenter yang dibuat Supriyatno Yayat dan Ahmad Moetaba Hasyim menyebutkan ribuan pohon dibabat dalam pembersihan hutan untuk membuka situs. Sayang banget ya pohonnya. Tapi dari pekerjaan itu mereka berhasil menampakkan kembali tujuh reruntuhan candi yang berukuran relatif besar. Candi Kotomahligai, Kedaton, Gedong I dan II, Gumpung, Tinggi, Kembarbatu dan Astano. Selain itu juga ditemukan artefak berupa batu-batuan, pecahan keramik, manik-manik kaca dan batu, mata uang emas, cincin emas, potongan-potongan perhiasan emas, patung perunggu, dan batu bata bertuliskan aksara Jawa Kuno. Penemuan ini menunjukkan bahwa di masa itu telah terjadi hubungan antara Jambi dengan daerah lain seperti Jawa, negara-negara Asia Tenggara, Cina, India, Persia dan Timur Tengah. Jadi siapa bilang manusia Indonesia di zaman dulu hidup terbelakang ? Mereka justru telah menjalin hubungan dagang internasional dan memiliki kemajuan teknologi.
Diperkirakan situs Muarajambi terbentuk pada abad IX hingga XIV. Merupakan komplek percandian Budha terbesar di Indonesia. Luasnya 225 hektar terbentang sepanjang 7.5 kilometer di sepanjang Batanghari. Batang merupakan penyebutan masyarakat setempat di masa lalu untuk sungai. Jadi tidak tepat kalau kita bilang ‘Sungai Batanghari’. Cukup Batanghari. Batanghari adalah sungai terpanjang di Sumatra. Dari atas pesawat kita bisa lihat sungai ini berkelok-kelok panjaaaaang sampai ke laut. Panjangnya 450 km, lebar 500 meter dengan kedalaman 5 – 30 m.
Seluruhnya ada 83 candi dalam Situs Muarajambi. Berbeda dengan candi Borobudur yang dibuat dari batu andesit, candi di sini terbuat dari bata merah. Ada juga yang terdiri dari bata di bagian kaki candi dan kayu di bagian atasnya. Tapi bagian kayu ini sekarang sudah nggak ada. Istilah kompleks digunakan karena pada umumnya candi bukan merupakan sebuah bangunan, Namun merupakan sebuah sistem rancang bangun yang terdiri dari bangunan induk, dan terdapat bangunan lain sebagai pendamping atau perwara. Candi di situs muarojambi terbuat dari batubata yang memiliki ukuran yang lebih besar dari batu bata yang dibuat sekarang, bentuknyapun sangat beragam. Tidak mengherankan jika batubata dijadikan sebagai bahan utama pembangunan Candi pada jaman dulu, karena faktanya di daerah Jambi susah menemukan batu alam.
Meskipun banyak arca yang dibuat menggunakan bahan yang berbeda, dipastikan benda2 seperti arca adalah benda impor dari pulau jawa atau dari daerah diluar Jambi. Mengingat peninggalannya berupa kompleks percandian, maka Situs Muarajambi dapat dikatakan sebagai sebuah situs keagamaan,hal ini berdasarkan bukti2 yang ditemukan seperti Arca Dewi Pradnyaparamita. Dari sinilah dapat diketahui aliran agama yang melatari situs Muarajambi adalah agama Budha Mahayana.
……Candi Muaro Jambi sebuah Peninggalan bersejarah yang harus digarap dengan cukup serius, bagaimana pun caranya. Apalagi sudah menjadi Icon Visit Jambi 2009. Jika lokasi Candi Muaro Jambi dibenahi secara maksimal, serta dilakukan penggalian terhadap candi-candi yang masih terbungkus tanah, situs kepurbakalaan di Jambi ini tentu akan menarik minat wisatawan dan ilmuwan internasional untuk mengunjunginya. Itu pun, jika pemerintah pusat juga mau turun tangan. Mengingat pemerintah daerah sepertinya tak mampu membenahi sendiri aset berharganya ini. Kini, Candi Muaro Jambi, menunggu sentuhan untuk dibenahi…….I’ve been here, wanna go back… next days!









36 Comments
kemix
Feb 17th, 2009
Hee..heee…….
Allright sir. My foot pegel-pegel.. Tapi asyik bisa melihat sisa kejayaan jambi.
Ntar malem posting juga ah…. CApeee deeeh
kemix
Feb 17th, 2009
Lupa Gue jadi yang pertamax dan kedua heee…heee…
Gue mo pesen ja phot yang bagus kirim ke emel gue ya.. ato kl gak ya upload ke ziddu or rapidshare. woke bro
budemotivasi
Feb 17th, 2009
Siiippp kang….., boleh tuch jadi duta wisatanya Jambi. Hayoooooo pada setuju kan???? Ditunggu Journey berikutnya………..
budemotivasi
Feb 17th, 2009
Rajin pangkal pandai…..eits…salah ding ….Rajin komentar langsung approve he…he.., Acungan dua jempol buat si akang dah……
thevemo
Feb 17th, 2009
Gak ngajak ngajak
HE. Benyamine
Feb 18th, 2009
Ass.
Sangat menarik dan luar biasa … ternyata tidak hanya di Jawa ada candi yang keren. Foto Candi Gumpung-3 sepertinya bentuk gajah … sangat artistik.
Ya … candi Muaro Jambi perlu mendapat perhatian yang serius. Pakde udah menunjukkan keseriusan dengan memposting tentang candi ini, jadi dapat diakses lebih luas, perlu dorongan dari berbagai kalangan.
Boleh nggak pakde fotonya di copas? Mungkin sahabat blogger perlu juga mendorong dengan terus menyebarkan agar para pengambil kebijakan tambah terbuka dan tergerak untuk menggarap dengan serius.
Terima kasih telah mengajak mengunjungi candi Muaro Jambi …
Kecandi Nyok
Feb 18th, 2009
1000 rupiah, tapi kepuasan berlipat ganda. Bukan begitu kang?
Billy Koesoemadinata
Feb 18th, 2009
kang, coba diupload ke about.com deh.. bagus loh, bisa bagi2 sama orang luar negeri begini –> lengkap soale..
kapan2, kalo saya ke jambi, jadi tour guide yaa…
mikekono
Feb 18th, 2009
tulisannya panjang
tapi educated and inspiring
foto-fotonya kereeeen
dan memberi sejuta makna
saluuuut pakde
nh18
Feb 18th, 2009
Media People …always know how to entertain their readers …
You are truly a good reporter Pak De …
I always like how you write your journey …
(halah maap … pake engkris segala …)
Abis yes indeed ini …(seperti yang pernah aku bilang) seperti National Geographic Travel and Living ..
Very Nice Pak De
mikekono
Feb 18th, 2009
Tak kirain cuma di Yogya dan Jawa
saja yang banyak candi
ternyata di Jambi juga ada ya
infonya sngat berguna, bro
fetro
Feb 18th, 2009
waktu ke Jambi beberapa waktu lalu, sempat main juga ke Candi ini. suasananya sepi banget saat itu, hampir gak ada pengunjung kecuali petugas di candi. Secara pribadi baru kali ini ngeliat langsung candi yang strukturnya dibangun dari batu batu dan bukannya batu gunung seperti candi yang ada di pulau jawa.
Yang sangat disayangkan masih banyak candi yang masih tertimbun tanah dan belum di pugar.
Apakah daerah ini pusat sriwijaya sebenarnya? mudah2an suatu saat para arkeolog bisa menjawabnya.
rita
Feb 18th, 2009
Mungkin kalau dibangun arena bermain atau mall yg berdampingan dengan candi2 itu akan mengundang masyarakat untuk mendatanginya. Habis nyuci kantong di mall langsung menikmati kealamian seputar candi…Atau danau2 itu dikelolah sebagai arena permandian, tempat2 jualan makan (tentunya diluar area candi) sehingga akan memiliki daya tarik tersendiri….
fans nya pakde selalu
Feb 18th, 2009
bentar-bentar komenku ko ilang kemana yah
serasa tenang dan damai hati ini memandang keindahan yang begitu bagus kang kapan kapan aku di ajak kesana yah kang!
HE. Benyamine
Feb 18th, 2009
Ass.
Ya … dengan diposting seperti ini, keberadaan candi yang sangat luas dapat lebih dikenal. Mungkin, pemerintah daerah perlu mengajukan ke badan dunia seperti yang pernah dilakukan pada Borobodor.
Senang rasanya dapat mengikuti perjalanan Pakde ke candi ini … ditunggu yang berikutnya.
Masnur
Feb 18th, 2009
Komplit plit plit pake telor. Keren pakde…..
Biasanya kalau ke candi atau situs purbakala aku selalu cari posisi yang sepi dari gerombolan orang-orang. Disitu aku diam dan merasakan nuansa aneh seolah-olah tempat tersebut masih seperti pada masa kejayaannya. Aku bukan paranormal lo pakde, cuma disitu kurasakan kedamaian. Pokoknya seperti ada yang bergejolak di dalam dada ini. Cobain dong pakde.
Rindu
Feb 18th, 2009
Dikampung saya gak ada candi …
Ikkyu_san
Feb 19th, 2009
Indah sekali foto-fotonya. Bisa buat kumpulan foto dan dipromosikan nih pakde.
EM
taufik79
Feb 19th, 2009
Wwwooww…. gambarnya kereen
munawar am
Feb 19th, 2009
saya kira ini posting terpanjang dan terlengkap…..
saya merasa sangat sejuk menikmati posting ini; betapa kemahadayaan budaya manusia di balik candi itu terpancar kesahajaan yang tak terperi…
Kwek Lie Na
Feb 19th, 2009
bagus Pakde…
terus promosikan keindahan dinegara kita…yang sebenarnya nilai sejarah dan keunikan yang megara kita miliki tidak kalah dengan negara lain.
aku akan promosikan juga keteman-temanku yang disini, siapa tahu ada yang tertarik jalan-jalan kesana, setidaknya mereka tahu negeri kita juga indah dan menarik untuk dikunjungi.
rita
Feb 19th, 2009
Heheh… okee…baiknya ada cara yang jitu intuk mepromosikannya yaa agar menarik pengunjung …
.. Kalo aku mau ta’ bangun aja FRANCHISE jauhan dikit dari area candi biar tetep pengunjung kfc-ku menyempatkan diri sekedar liat2 kesana hehehhee ….ngeyellll, peace omm..
soerdjak
Feb 19th, 2009
gileee keren banget ya. keliatan asri, sejuk dan bersih ya daerah sekitar candinya.
jadi pengen kesono juga.
antown
Feb 19th, 2009
seru ya foto2nya, itu candi cantik bgt
Tuti Nonka
Feb 19th, 2009
Pakde, mo nanya niii … budemotivasi itu pasangan inspirasipakde ya? Wah …. cocok. Mathuk, kata wong Jowo.
Nanya lagi, itu tulisan ‘inspirasi pakde’ di mobil yang ada bak terbuka penuh orang, memang tulisan asli di monil atau watermark? Keren lho Pakde, saya mau pasang ‘Tutinonka’s Veranda’ juga, tapi di becak (aduuh … kok becak sih? Kasiaaaan … ).
Jadi pengin ke Jambi nih, Pakde …
esha di birulangit
Feb 20th, 2009
Perjalanan yang keren…dengan mobil yang keren pula…….wuih…..
bedh
Feb 20th, 2009
wah seru banget keknya jalan2 ke sana yah, seumur-umur perasaan saya belum pernah yang namanya liat candi huhuhu ksian yah.
padahal saya sudah beberapa kali ke jambi tapi belum pernah ke tempat itu. ntar kapa2 kalo ke jambi lagi ke tempat itu ah.
tapi kalo soal air tebu itu wihhhh itu fav saya mas…. cuma kalo di bandung susah nyari air tebu
laporan perjalanan yang keren….
emma
Feb 20th, 2009
waah lengkap niiyh info+fotonya..
jadi serasa ikut an jalan-2 deeh..
di tunggu liputan selanjutnya..
postingan si PakDe..selalu bagus yaa..
rita
Feb 20th, 2009
Mulut udah komat-kamit mau ngoment,… tpii…. liat si om megang reruntuhan batu candi siap nimpuk…… gngn… kaborrrrr…….
rita
Feb 20th, 2009
Btw itu double cabin ada tulisan inopKrasi? or inspeksi-kreasi? PakDe….
Kalo INCO sini naikin penumpang dibelakang, lansung warning step 4 loh pak de
AFDHAL
Feb 20th, 2009
waw pakde ini seorang pengembara ya…
salam kenal
nice posting
n of course nice blog
besok2 bakal rajin2 nih mampir..

Yulis
Feb 21st, 2009
Karena penulisnya orang broadcast, tulisannya benar-benar ulasan yang sangat lengkap dan sangat informative. Terimakasih Pak De, tapi bacanya baru separo dan belum selesai karena panjang…
Nanti deh balik lagi yang penting komentar dulu Pak De ya??… Thanks
coretanpinggir
Feb 21st, 2009
Salut buat reportasenya Pak De! Lama-lama tulisan Pak De ini bikin orang cari tiket ke Jambi neh
Saya pernah lihat pameran candi muaro Jambi di Bentara Budaya Jakarta, katanya komplek candi ini lebih luas dari komplek Angkor Wat dan dipenuhi tidak kurang dari 80 candi!…. Ah kapan bisa foto2 di sana ya?… Kapan naik gunung Kerinci dan mencemplungkan kaki di Danau Gunung Tujuh ya?
mrpall
Feb 22nd, 2009
oh jambi …aku pengen banget kesono…kapan yah..
gegen_kill
Feb 22nd, 2009
Wah seru ya Pakde…..
Si Ahok kena Foto juga rupanya………..
Tambah keling aja…. hehehehe….. jangan terlalu dekat Pakde, nanti ketularan kelingnya…..
angga
May 4th, 2010
ftonya bguz2.
Leave a Comment