Menyulap Kalong menjadi Uang Saku.
by theKRY™ on 21/03/09 at 1:18 am
Siang hari kelompok kalong ini beristirahat didaerah seberang kota Jambi, entah di pohon mana kalong-kalong itu beristirahat menunggu siang hari berakhir. Jaraknya tak bisa dipastikan, bisa saja ratusan kilometer. Tak jelas pula musim buah apa sehingga menggiring sekelompok kalong ini harus bermigrasi menjemput malam. Pertarungan Kalong VS Layangan dilangit Jambi yang berlangsung pada bulan Maret ini menjadi fenomena baru bagi sebagian masyarakat Jambi. Journey kali ini meliput sebagian kalong anggota bangsa kelelawar (Chiroptera) yang tergolong dalam familia Pteropodidae, satu-satunya familia anggota subordo Megachiroptera harus bertarung melawan layangan ketika terbang melintasi langit Jambi saat petang tiba.

Tak heran jika sebagian penjuru kota ini, menjelang petang tiba bermunculan layangan beraneka warna menembus mega berbaur dengan kepak sayap kalong. SMP Negeri 23 Sijenjang kota Jambi, menjadi salah satu arena dari sekian banyak lokasi yang dijadikan tempat untuk menyaksikan perseteruan kalong VS layang-layang. Inilah keunikan baru bagi sebagian penduduk Jambi dalam “menyulap hama menjadi uang saku”.
Sayangnya, untuk menyulapnya menjadi uang saku, kita dituntut memiliki ragam keahlian, tak sekedar harus mampu menerbangkan layangan. Namun dituntut pula kemahiran untuk mengaitkan kail yang terpasang pada benang layangan untuk menjerat sayap kalong. Belum lagi nyali, ketika kalong mendarat bersama layang2 kita harus berani menaklukannya dengan tangan kosong, dari mulai melepaskan mata kail, mencengkram leher kalong sampai mengikatnya. Prosesi menyulap hama menjadi uang saku nyatanya memang tidaklah mudah.
Ribuan kalong bermigrasi dengan menggunakan satu pola penerbangan yang nyaris sama setiap petang dan bukan hal yang teramat sulit ketika penerbang layangan itu harus menentukan lokasi lintasan kalong. Memang sekali waktu mereka harus mahir memainkan layangan saat angin tak searah dengan lintasan kalong. Belum lagi jarak penglihatan menuju malam akan membuat mata tidak bisa fokus. SMP Negeri 23 Sijenjang bisa dikatakan sangat strategis untuk lokasi memburu kalong, dilokasi ini kalong2 terbangnya cukup rendah dan untuk membawa pulang beberapa ekor kalong ini sangat besar peluangnya.
Gerombolan kalong itu mulai meninggalkan sarangnya sekitar pukul 17:00, terbang melintasi cakrawala menjemput malam tiba, gerombolan kalong mulai hilang dari pandangan sekitar pukul 18:30 dan bisa dipastikan dari keseluruhan waktu yang tersedia, pertarungan kalong VS layangan ini berlangsung hanya dalam waktu satu setengah jam. Untuk mendapatkan satu kalong saja, seseorang harus sudah siap dengan posisi layangan setinggi 70 meter. Jeda waktu antara mengkaitkan tali layangan sampai menurunkan kalong, melepaskan sayapnya dari mata kailpun tak lebih dari 5 menit. Jika tidak, durasi yang digunakan untuk berburu akan habis karena malam tiba.

Bagaimana warga Sijenjang melakukan pertarungan dengan kalong ini?
Proses awal tidak jauh berbeda dengan bermain layangan yang biasa kita lakukan, kelebihannya warga sijenjang menempelkan puluhan mata kail pada benang layangan yang digunakan untuk memburu kalong. Masing2 penerbang layangan mengikatkan mata kail sepanjang 10 depa sampai pangkal benang yang mengikat arku, dengan jumlah mata kail cukup banyak.

Cara menerbangkannya tidak semudah kita menerbangkan layangan, mengingat ada beberapa mata kail yang terpasang cukup banyak, jadi harus ada orang yang memegang ekor layangan di ujung lapangan, satu orang siap menarik benang sampai layangan mulai meninggi. Layangan diterbangkan dengan ketinggian maksimal 100 meter, benang yang digunakan dipastikan cukup kuat menarik bobot kalong yang akan jatuh. Saat Kalong-kalong bermunculan, ketangkasan tangan mulai di uji. Mulai dari bagaimana mengendalikan layangan yang sudah nyangkut dengan sayap kalong sampai menurunkan layangan dan kalongnya. Inilah tantangan pertama, mengarahkan layangan dan kalong landing didepan kita, memang tak bisa diharapkan jarak jatuhnya kalong sesuai harapan kita, karena kalong2 ini meronta sehingga jarak jatuhnyapun bisa sampai 10 meter atau bahkan lebih. Namun jika kita cukup mahir, tentu kita tidak akan fokus menjatuhkan kalong, kuncinya adalah mengendalikan layangan bukan kalongnya.
Menariknya…saat kalong tersangkut mata kail di udara sampai jatuh di rerumputan, kita akan merasakan perlawanan dengan tenaga kalong yang cukup kuat. Tantangan tersulit lainnya adalah mencengkram leher kalong saat melepaskan mata kail. Jika tidak hati-hati, bukan hanya cakar kalong ataupun mata kail saja yang akan melukai kita, namun gigitan kalong itu sendiri yang berbahaya. Belum lagi jeritannya yang memekakkan telinga dan membuat konsentrasi terganggu.

Cukup sampai disitu?
No… No… No…Mengingat langit masih terang, kalong-kalong lain masih cukup banyak berterbangan, tentu! peluang masih ada. Next…. adalah mengamankan dulu kalong yang baru kita tangkap. Injaklah kedua ujung sayap kalong itu sambil dibentangkan sayapnya. Konsentrasi…arahkan tangan untuk mencengkram bagian belakang leher kalong. Harus dari belakang, itu kuncinya. Cengkram kuat-kuat. Berbarengan… sayap yang diinjak kita satukan kedua ujungnya membentuk lipatan persis seperti posisi ketika kalong menggantungkan diri dipohon. Langkah terakhir adalah mengikat sayap kalong kuat2. Pertarunganpun berakhir.

Bagaimana mungkin menyulap kalong menjadi uang saku?
Kenapa tidak, mengingat jumlahnya cukup banyak dan masuk kategori sebagai hama bagi para petani. Kalong ini bisa dimanfaatkan untuk menambah uang saku. Bentangan sayapnya sepanjang lebih kurang 60 cm, dengan bobot hampir 1 kg. Bisa dijual dengan harga bervariasi, semua tergantung ukuran dan berat kalong.
Dari hasil perburuan kalong sore kemarin, warga Sijenjang yang berburu, berhasil membawa 8 ekor kalong. Kegiatan seperti ini lambat laun memacu semangat mereka dalam menyulap hama menjadi uang saku. Selanjutnya kalong-kalong hasil tangkapan warga Sijenjang itu, dijual kepada orang china senilai 15 ribu rupiah perekor. Bayangkan jika dalam satu setengah jam bisa memperoleh sekitar 10 ekor kalong.
Beberapa kalangan menjadikan kalong ini sebagai khasiat untuk pengobatan, banyak yang meyakini khasiat daging kalong sebagai penyembuh asma. Meski hingga sekarang belum ada penelitian medisnya. Kalong terbilang binatang yang makanannya bersih, yaitu madu bunga dan buah-buahan segar di kebun atau hutan. Tak sedikitpula yang penasaran dengan rasanya. Namun ditinjau dari perspektif pengendalian hama alami, pemanfaatan daging kalong sebagai penambah uang saku ini merupakan semacam pendekatan yang ramah lingkungan. Hama kalong tidak perlu diberantas memakai zat kimia, melainkan cukup disajikan sebagai hidangan di meja makan dan sebagai obat, tentunya bagi kalangan tertentu….. Not Me!!!










30 Comments
alris
Mar 21st, 2009
Pakde, kalong bagi sebagian kalangan emang berguna untuk menyembuhkan beberapa penyakit. Dulu di kampung saya juga sering diambil hatinya untuk racikan obat. Kalo makan daging kalong? Iiiiiih….saya gak tahan.
silly
Mar 21st, 2009
Ini beneran yahhh… gileee… kalong bisa juga ternyata jadi duit yah?
Dikampung mama saya, kalong malah dijadikan santapan yang nikmat… Gilingan, ihhhhh….
anas
Mar 21st, 2009
Dekri……Kalong melintasi cakrawala……..seru bener tuh……
thevemo&trade
Mar 21st, 2009
berarti mau musim buah di Jambi…..
Katanya hati kalo untuk obat ya?
ReQ
Mar 21st, 2009
Hmmm……mancing kalong ya?seru pasti!!! aq juga menjadi saksi mata saat mancing kalong ini di liput….tapi ga tega ngeliatnya euy….coba aja banyangin…. mereka jauh jauh terbang hanya mencari sebiji buah - buahan untuk makan, di tengah jalan mencari nafkah ternyata manusia menghadang dengan layangannya….ternyata perjuangan mencari nafkah itu tidak mudah ya??
Ikkyu_san
Mar 21st, 2009
wahhh ternyata kalongnya besar juga ya. Karena kalong yang pernah saya lihat itu kecil-kecil. Kalo kalongnya kecil, waktu dimasak juga banyak tulangnya sehingga mengganggu. Masakan kalong dari manado, paniki kalau tidak salah namanya memang diyakini bisa menyembuhkan asma. Saya sudah pernah coba, tapi karena bumbunya banyak, tidak begitu terasa daging aslinya.
Kalau menyimak cara penangkapannya, berbahaya juga bagi manusia ya layangan itu, karena mata kail yang dipasang kan bisa mengenai manusia juga.
Semoga sodaranya kalong si mas Vampire ngga marah sodaranya dibantai yah hihihi
EM
sunardi
Mar 21st, 2009
Wah asyik juga ngeliatnya.
Tapi itu beneran untuk dimakan?
rere
Mar 21st, 2009
Nice Story…. gw aja tinggal di Jambi ngga tau cerita itu… keep on blogging pakde !sekarang tulisannya sangat berkarakter … cieeeileeeh cuit cuit…..
joe
Mar 21st, 2009
wah, nanti Batman gak terima lho kalau keluarganya ditangkepi…
marshmallow
Mar 22nd, 2009
hebat laporannya, pakde. lengkap!
*langsung nyiapin layang-layang buat berburu kalong*
pakde, saya suka banget foto #3. artistik sekali. padahal nggak sengaja jadi bagus gitu kan? hueheheh… *dijorokin pakde ke dalam kandang kalong lapar*
kemix
Mar 22nd, 2009
wah kasian ya jadi kalong. Awas ntar Batman marah tuh sodaranya dijual.
Ersis Warmansyah Abbas
Mar 22nd, 2009
Saya pernah nonton di TV … hebat juga tu …
Masnur
Mar 22nd, 2009
Tergantung dari mana cara mandangnya….
Kalo aku empunya kalong….kasian benerrr
Kalo aku warga jambi …..asyik banget nggak tiap hari ada…kesempatan.
coretanpinggir
Mar 22nd, 2009
Tapi Pak De, bukannya kalong bukan tergolong hama yang merusak dengan dampak yang besarkan? Soalnya dengar-dengar di beberapa tempat sudah mulai berkurang jumlahnya, kasian euy diburu seperti itu.
Balisugar
Mar 22nd, 2009
wah besar sekali kalongnya, aku tahunya yang kecil si lalay. hm kalau dijual berapa harganya ya ? Karunya teuing si kalong.
Gusti Dana
Mar 22nd, 2009
Malam PakDe…
Maaf…sudah lama gak berkunjung Saya ingin beritahu kalau saya ingin vakum dulu dari blogging dan fokus membenahi blog saya yang baru dan juga yang lain.Mohon maaf jika ada kesalahan…,sampai bertemumu lagi.Doakan saya ya…
Yulis
Mar 23rd, 2009
Ternyata kalong bisa dimakan ya Pak Dhe, bukannya mengerikan itu bentuknya…
Pernah coba dagingnya Pak De??… seperti apakah gerangan rasanya. Kalau di kampungku dulu ada anak-anak itu makan musang dan dagingnya katanya sepeti ayam…
THANKS
Diah
Mar 23rd, 2009
weks di makan mas….jadi ngiler nich .(baca:nggak tahan )
wah pas mbaca ini..bisa nggak selera makan lagi nich.
zoel
Mar 23rd, 2009
wiw.. trus di apain ya kalong ma orcin
ichi
Mar 23rd, 2009
wah unik ya cara menangkapnya….
hem… nggak kebayang gimana kalo pas menerbangkan atau menurunkan layangan, kailnya mengenai tangan kita, pasti sakit…
unduk
Mar 23rd, 2009
ada gitu orang demen makan kalong ?
hooeeekkkk…, jijik !!
nh18
Mar 23rd, 2009
Another National Geographic … Travel and Living …
report …
Paten …
Ini specialisasi pak De nih …
Salam saya
mikekono
Mar 23rd, 2009
kalong kelihatannya
lagi ngetrend
di Medan juga bnyak
dicari dan diperjualbelikan
genthokelir
Mar 23rd, 2009
wah wah kalongnya gede gede banget dan unik cara memancing hahaha dengan layang layang tentu di butuhkan kemahiran yang terlatih untuk memainkan benang agar mendapat kalongnya hahahah
minta satu pak dhe
inge
Mar 24th, 2009
wah…. berburu kalong…
dulu kakak waktu sakit asma juga ngobatinna pake makan kalong ato minum darahnya yak…
pokoknya ada hubungannya ama kalong dech hehehe (lupa)
pakde ikut berburu nggak??
ato jadi tengkulaknya?? hehehe
ayub
Mar 24th, 2009
Kalong VS Layangan, belum tentu kalong yang menang pak de… di genteng rumah sore kemaren, sayo dapat benang layangan lengkap dengan pancingannyo.. lebih dari 10 pancingannyo pakde….
gambar2 nya bagus2 pakde foto sendiri ya?
radhitya
Mar 28th, 2009
buset…diapain tuh kalong-kaongnya artikellengkap.com.
dwiprayogo
Mar 31st, 2009
Jijik ah…. kalo makan kalong kebayang kayak makan tikus aj…
huek….
dedi handoko
Aug 30th, 2009
salam pakde… saya dedi dari jateng tepatnya di purwodadi grobogan. mo nanya seputar kalong. kalau u daerah saya yang banyak kalongnya daerah mana ya? buat obat ibu saya.thanks be 4.
didik
Feb 5th, 2010
saya butuh kalong di Jakarta…kira2 untuk mendapatkannnya disekitar Jabodetabek dimana ya Pakde…..ada juga di Pasar Pramuka..tapi mahal sekali…padahal saya butuh untuk pengobatan saudara saya. Tolong informasinya ya Pakde…terima kasih
Leave a Comment