Baiknya seperti apa?

by theKRY™ on 19/04/09 at 11:08 am

Kasian Anak2 SMPN 6 Jambi. Disuruh beli buku secara PAKSA. Kemaren salah satu muridnya merengek sama bapaknya. Bapaknya anak itu temen kantor saya. Posisinya Driver.

“Pakde punya buku yang nggak dibaco?”
“Untuk apa pak?” tanya saya.
“Ini na…anak sayo…diminta mengumpulkan buku untuk perpustakaan. Tapi buku itu harus dibeli dari toko buku G. Sayo ndak megang duit…Pakde…Buku2 dilemari pakde itu masih di baco? mudah2an disini ado buku yang nggak di baco lagi….untuk anak sayo be pakde…”
“Wah buku saya…berat-berat isinya pak….ini bukan bacaan anak SMP…isinya tentang management dan marketing.

“Gimana ceritanyo pak…koq harus ngumpulin buku?…”
Sekian detik kemudian driver saya ini merogoh sakunya dan ia berikan secarik kertas.
“Ini na…surat pengantar dari sekolahan. pakde baco be…kagek saya kembali ke ruangan pakde…sekalian minta satu buku…yang mano be”

Surat itu ditujukan kepada orang tua murid dan tertera jelas diatasnya nama toko Buku G. Saya baca…isinya memang mengharuskan siswa membeli buku minimal seharga 15 ribu rupiah. Surat edaran ini di print out menggunakan dot matrik. Cetakan kwitansinya sama persis dengan kwitansi yang saya terima kalau saya beli buku. Anehnya nggak boleh beli di tempat lain….harus di situ..wajib disitu. Jadi bukan manfaat dari buku itu, tapi brand nya yang di dahulukan…sudah sebegini parahkah? Padahal prinsip mereka diantaranya adalah Peduli terhadap sesama, Menghargai manusia, Tanggung jawab sosial, Cross cultural.

Entah maunya win win atau semacam simbiosis mutualisma, tapi itu hanya terjadi antara sekolah & perusahaan. Kalo sama murid dan keluarganya jadi simbiosis parasitisma mungkin, Apa jadinya kalo ini menjamur? itu pendapat temen saya Sugeng Arianto at 6:49pm April 18 dalam FB saya.

Yang saya pikirkan bukan bagaimana cara memberikan buku kepada anak temen saya itu, harganya toh murah hanya 15 ribu. Itu sih gampang. Hanya sepertinya saya melihat cara yang nggak inspiring ya…. G bekerjasama dengan pihak Sekolah tapi malah mengorbankan muridnya untuk membeli buku di tempat G. Apa nggak malu sama sebagian blogger? mereka bermodalkan nol rupiah untuk membagikan buku2 di Mentawai tanggal 19-25 Mei 2009 nanti. Sekali lagi mereka bermodalkan nol rupiah looooh. Nah ini…si G…perusahan terkenal…terkenal seantero jagat…malah memaksa beberapa murid untuk membeli buku di tempat si G. Gimana ini….??? Pakde geramdotcom…maaf! Ini hanya wacana, mudah2an tidak lagi terdengar kisah pilu ini ditempat lain, itu saja.

Apa kata FBers lainnya yang memberikan comment pada NOTE yang saya buat pendek di FB itu?

Pak Bahrul Alam at 6:46pm April 18
“Itu sudah jadi trend ‘charity’ di negeri ini. Hal serupa juga terjadi di berbagai mediamasa. Ingat Tsunami, Situ Gintung, Gempa Yogya, dll. Banyak sekali ‘dompet peduli’ yg dibuka. Anehnya. kenapa jadi semacam kepanitiaan tetap. Eg. RCTI Peduli, SCTV Peduli, Elshinta Peduli, Metro TV Peduli, entah pedul apa lagi. Siapa yang audit keuangan mereka…… Read Moreyang ngasi siapa, yg dapat nama siapa…. Bahkan, RCTI dulu sempat dipermasalahkan karena dananya tercampur dengan internal manajemen..Jika toko G- dan sekolah mau buat charity, lakukan aja langsung, dengan mengurangi sebagian dari keuntungan selama ini, dibagikan ke dalam bentuk buku… Kecuali yang dilakukan Dmpet Dhuafa. ini jelas. Jika stasiun TV dan Radio mau beramal, sumbangkan..laba iklan mereka, tanpa mengurangi fungsi kntrol sebagai mediamasa. Begitu juga dengan toko G.”

Imelda Emma Veronica Coutrier at 6:30pm April 18
“Kalau sebagai himbauan itu tidak apa, apalagi misalnya khusus untuk murid sekolah itu mendapat korting berapa persen. Tapi kalau mewajibkan membeli buku, dan harus di toko G itu namanya sudah pemaksaan dan MONOPOLI. bisa melanggar ketentuan WTO tuh heheh
karena itu pihak sekolah (kepsek) harus berhati-hati sekali jika membuat kerjasama dgn pihak swasta. Apalagi kalau sampai membuat surat edaran.”

Saya ingat Ikyusan pernah menulis tentang BellMark, Apakah sudah ada kegiatan yang mendukung pendidikan yang merupakan kerjasama antara perusahaan-sekolah-orang tua murid dan masyarakat dengan BellMARK? Untuk kepentingan satu sekolah, bukan pribadi-pribadi tertentu seperti beasiswa dll. Bukan hanya satu arah saja, murid/sekolah minta-minta duit pada perusahaan tertentu setiap kali mau mengadakan kegiatan, bersifat short term. Lalu perusahaan tertentu yang dimintai itu memberikan duit dengan imbalan pasang banner…. mustinya ada yang lebih “mendidik”. Saya salut dengan KERJASAMA jaringan BellMARK. Ayo dong!

Bellmark pertama kali dimulai tanggal 24 Oktober 1960, diprakarsai oleh Kelompok Pendukung Sarana Pendidikan dengan porosnya Harian Asahi (Asahi Shimbun) setelah mendapat ijin dari Departemen Pendidikan Jepang. Sekarang namanya sudah menjadi Yayasan Pendukung Pendidikan Bellmark. Kegiatan ini diikuti oleh PTA sekolah (harus mendaftar terlebih dahulu) dan sekarang jumlahnya sudah mencapai 28.000 sekolah. Untuk pribadi, tidak bisa menerima bantuan, tapi bisa membantu mengumpulkan dan diberikan ke PTA sekolah terdekat atau dikirim ke kantor Belmark.

1 point yang tertulis pada tanda lonceng berharga 1 yen. Jadi kalau saya kemarin mengumpulkan 1,6 - 2,0 dan 2,9 berarti saya sudah mengumpulkan 6,5 yen! Itu baru satu hari dan hanya dengan menggunting saja loh. Wahhhh bayangkan kalau saja semua keluarga mau sedikit bersusah dan mengumpulkan tanda lonceng ini berapa banyak dana yang bisa dikumpulkan untuk membantu kegiatan pendidikan?Dan waktu saya membaca daftar top 100 pengumpul bellmark tertulis sebuah nama sekolah di daerah Shizuoka yang berhasil menjadi nomor satu dengan mengumpulkan 758,616 point = 758,616 yen! WOW

Kita pasti KAGUM pada usaha-usaha seperti ini. Seharusnyalah Persatuan Orangtua Murid di Indonesia juga bisa berikhtiar mengadakan kegiatan yang sedikit bisa membiayai pendidikan.

Tapi uang/dana itu dari mana? Tentu saja perusahaan yang mencetak label bellmark di kemasannya itu yang mengeluarkan dana sebanyak yang dicap. Ada banyak perusahaan yang mengikuti kegiatan Bellmark ini, dan sayangnya saya belum menemukan berapa jumlah perusahaan itu. Ada beberapa nama besar di daftar website, seperti Kirin Beverage, Morinaga Seika, Toshiba, Kewpie dll. Ada kerjasama, ada “simbiosis mutualisma” antara perusahaan dan bellmark. Karena untuk mengumpulkan bellmark, mereka membeli produknya, bukan? Untuk promosi juga bisa, karena perusahaan itu ikut mendukung pendidikan. Hei, adakah perusahaan Indonesia ikut memikirkan pendidikan Indonesia (harusnya ada, kalau tidak… miris deh)? Jangan-jangan nama yang keluar tidak lain dan tidak bukan adalah perusahaan PMA juga. Tidak harus meniru pola seperti itu. Tapi paling tidak kita terpanggil untuk melakukan kegiatan yang sama persis”. Tulisan ini saya kopas dari sini atas lisensi yang punya blog.

Chlara Dauhan at 7:04pm April 18
“PAKSA…??!! lapor aja ke kantor DIKNAS setempat…. lebih gampang undang teman2 wartawan….. aku turut prihatin banget… karena oknum seperti itu merusak citra guru…”

Idham Apandi at 7:12pm April 18
Expose lebih kang….

Agoy Yoga at 7:27pm April 18
Pagi Pakde,
“Heheheh kegiatan saya dan teman-teman di Mentawai disebut, sebut di sini ya. Saat ini kami bergerilya Pakde, mengumpulkan buku-buku sejumput demi sejumput dari mana aja, kalau kurang ya kocek sendiri mesti dirogoh”.

“Well, bicara tentang sumbang menyumbang buku disekolah sopir Pakde, biasanya di tiap sekolah kan ada perhimpunan semacam dewan sekolah yang anggotanya wali murid/ortu. Apakah sopir Bapak tahu jalur untuk menyampaikan keberatan tersebut? Terus terang saya tidak setuju dengan tindakan sekolah tsb yang mengekslusifkan diri dengan menjalin kerja sama dengan penerbit G. Tidak mendidik, ironisnya dilakukan oleh sebuah lembaga pendidikan. Masih banyak jalan lain kok untuk melengkapi perpustakaan atau bahkan mendapatkan beasiswa untuk anak didik mereka. Waduh, prihatin nih PakDe”.

Agoy & teman2 ini sekarang sedang menggarap satu program charity
Pada 19 - 24 Mei 2009, genap ke 101 tahun Kebangkitan Nasional, “1 Nusa 1 Bangsa 1 Bahasa 1 Bumi” mulai bergerak ke luar Jawa. Kepulauan Mentawai, yang berada di Samudra Indonesia, akan menjadi tempat pertama yang dikunjungi. Dari empat pulau di Mentawai, P. Siberut akan menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan ini. Ada dua tempat yang akan menjadi ajang kegiatan, yakni Desa Madobak dan Muara Siberut. Di masing-masing lokasi, tim lapangan akan melengkapi dan mengisi perpustakaan setempat. Agar anak-anak dan warga setempat tertarik membaca, pembukaan perpustakaan akan dilakukan dengan pendidikan sains luar-ruangan.

1n3b1

Menyadari bahwa tidak semua orang yang bergabung di gerakan ini, punya waktu, tenaga, dan uang, untuk pergi ke lokasi, tim persiapan membuka diri pada sumbangan pikiran dan tenaga berbagai pihak, mulai menggalang buku dan dana, distribusi barang sampai jauh ke pedalaman Siberut, sampai informasi terkini mengenai lokasi. Jangan sungkan untuk bergabung dalam acara ini. Dan Programnya 180 derajat berbeda dengan kegiatan yang berhubungan dengan buku yang terjadi di tempat saya.

Kembali ke Laptop
Semaleman keluhan driver saya ini bersarang dikepala. Lah koq begitu pola mereka membudayakan kegiatan membaca. Apa nggak keliru? lalu bagimana dengan ortu-ortu lainnya yang merasa keberatan. Memang sampai saat ini saya tidak memantau ketidak setujuan mereka. Pagi ini … Sayapun terpanggil untuk memberikan beberapa buku, dari sekian banyak buku yang tersimpan saya pilah2 lagi, mana yang cocok di baca kalangan anak SMP mana yang tidak. Setelah buku terseleksi untuk diberikan. Saya langsung panggil driver dan langsung menghadiahkan buku itu. Meskipun second tapi masih rapih. Yang penting anak itu bisa menyumbangkan buku, tanpa harus tahu dari mana buku itu. Yang penting keinginan anak itu memberikan buku bisa terlaksana.

Pak..buku yang bapak minta sudah saya siapkan pak…ambil di atas meja saya ya…disitu ada beberapa buku yang cocok”
“Iya..pakde…terimokasih pakde!”
“Kertas kemaren yang bapak perlihatkan kepada saya masih dipegang pak?”
“Wah ndak lagi pakde…sudah saya berikan sama anak sayo…katanyo…gurunya meminta itu di balikin lagi karena ada yang lapor orang tuanyo sama wartawan, mereka takut kena ekspose…”
“Oooooh….koq takut pak? Harusnya kan terpikirkan sebelumnya…! Bukunya gimana pak?” Paling di baco anak saya be…ndak apa2 kan pakde?”
“Ndaaaaak…baco be….”

Terpikirkankah, anak2 yang diharuskan mengumpulkan buku ini kelak menjadi petinggi, akankah mereka menggunakan pola yang sama untuk generasi berikutnya, yaitu mengambil sikap diam? tinggal diam seolah2 tidak ada cerita seperti ini karena masuk sebagai keluarga mampu? entahlah….lalu bagimana jika salah satu dari anak2 itu kelak akan menjadi pemegang kendali toko buku di IndonesA? Akankah mereka mengadopsi pola yang sama saat ia duduk di bangku SMP saat ini untuk generasi yang akan datang?

Saya menemukan dua pola pengenalan buku  untuk anak2 sekolah, satu lewat charity dan yang kedua dengan keharusan untuk membeli. Mana yang akan memberikan kesan kepada mereka sepanjang hidupnya? Saya yakin anda tahu persis jawabannya. :D

UPDATE

SETELAH melakukan CROSS CHECK dengan Toko G pada hari Minggu jam 15:26 saya peroleh keterangan dari mas “It” diantaranya:

1. Kerjasama antara sekolah dan Toko G. memang ada. Namun Tidak bertujuan untuk memonopoli siswa dari sekolah ybs.

2. Menurut mas It kerjasama ini hanya bertujuan untuk memperkenalkan G kepada sekolah tersebut, mengingat kepsek nya tahu persis buku2 paling lengkap itu adanya hanya di G. Jadi dengan alasan ini, pihak sekolah membuat Program Sekolah Belanja di G. Untuk memudahkan siswanya memperoleh buku, mereka di anjurkan untuk membeli buku di toko G itu. Entah bagaimana caranya sampai terkesan ada monopoli disini. Padahal pihak G tidak melarang siswa sekolah itu untuk memperoleh buku dari toko lain. Melihat pihak G juga punya aturan, missi, vissi dan aturan perusahaan yang berlaku.

3. Surat edaran yang dibagikan tidak dibuat oleh pihak G.  Namun di buat oleh pihak sekolah yang bersangkutan. Miss communication muncul disini.

4. Tujuan G yang menggerakan bisnis buku bermaksud  mengundang sekolah hadir di G supaya mrk terbiasa mengenal buku sejak dini. Posisinya jelas sebagai fasilitator…karena G paling lengkap  koleksinya.

5.  Nama program tersebut adalah Program Sekolah Belanja di G. (beda tipis ya…sampai mengharuskan siswa itu belanja di G)

UPDATE Part2 09:15 20 April 2009

Pihak sekolah sudah menarik semua surat edaran, dan membatalkan Program Sekolah Belanja di G.


Bookmark and Share

Top Post

26 Comments

Ikkyu_san

Apr 19th, 2009

waduhhhhh surat edarannya diminta kembali karena takut diekspos ke wartawan.

NAH yang kayak gini ngga mendidik banget.
lempar batu sembunyi tangan.
Dan seakan kebudayaan lempar batu sembunyi tangan ini sudah mengakar di Indonesia. Lah wong di sekolah diajarin kok.

Sayang sekali bukti dikembalikan. Apa ada yang fotocopy?
HMmm mungkin sang supir tidak berani, atau tidak terpikir untuk memfotocopy. Kasihan orang-orang yang kecil, kurang berpengetahuan ttg hukum, dikerjai oleh birokrasi.

Pakde
Bagusnya memang ada simbiosis mutualisme antara ke tiga pihak. Memang yang ini peristiwanya rada2 dibuat monopoli….Bukti edaran semua dikembalikan kepada pihak sekolah. Mungkin dikhawatirkan akan memicu sesuatu yang tidak mengenakan.

EM

ika

Apr 19th, 2009

dear pak de

saya juga dulu waktu smp memamang disuruh beli buku seperti kisah yang  pak de ceritakan diatas, katanya untuk perpustakaan skolah. tapi apa iya sampe buku resep masakan yang nota bene ngak masuk pelajaran skul saat itu harus dibeli (?) .
ceritanya jaman smp dulu
kita dikasih nota, dan nama buku yang harus dibeli di toko G itu, dan anehnya buku itu tidak boleh dibuka plastiknya, saat itu saya ngak mikir apa-apa, ngikut aja gitu

tapi sekarang saya jadi mikir, kok di perpustakaan smp saya itu ngak ada buku yang waktu itu gencar disuruh beli, Aneh, sueerr deh. ngambil kesimpulan sendiri “ooh, mungkin alasan kenapa plastik pembukus buku itu ngak boleh dilepas karna mau dibalikin lagi ke toko G itu, pak de bisa nerusin sendiri ngarah kemana kegiatan beli buku itu.

Pakde
Namanya koleksi buku perpustakaan memang layak lengkap, tapi kalau sampai hilang berarti yang perlu dipertanyakan siapa yang minjam sampai tidak dikembalikan….Anehnya setiap kali murid mengumpulkan buku yang bagus, sebagian orang jadi lupa mengembalikan buku.

Kegiatan ini ngarah kemana sepertinya saya melakukan crosscheck dan itulah hasilnya. bisa di baca di bagian UPDATE. Thanks Ika.

Diah

Apr 19th, 2009

Susah Kalau begitu ..nggak jauh dengan di tempat anak saya yg  sd belajar..takut kena ada apa2…akhir dengan sangat terpaksa org tua suruh beli sendiri2 buku ntuk  anaknya.

Pakde
Ya…pola seperti itu memang terjadi dibeberapa daerah. Saya sendiri kadang nggak habis pikir, kebutuhan kelengkapan sekolah khususnya perpustakaan sekolah. Umum di isi oleh buku2 yang dibeli oleh pihak murid. Memang tidak setiap sekolah memberlakukan pola ini.

thevemo

Apr 19th, 2009

Minta bantuan sama gerakan 1000 buku aja pakde.

Kasian juga ya, Nyumbang buku kok di paksa, harus beli di toko G lagi. Jangan2 Kepseknya ni membuat deal terselubung sama si toko buku G :P

Pakde
Penyumbang buku sebetulnya dari masing2 toko pasti ada. apalagi ini tujuannya untuk charity, pasti banyak. Sebelum melakukan cross check saya beranggapan seperti itu, seperti ada monopoli, ternyata pihak G tidak menyarankan pola itu. Akhirnya sebagai antisipasi, pihak sekolah langsung menarik kembali surat edaran. Menarik bukan?

alris

Apr 19th, 2009

Ada peraturan tidak tertulis di setiap kelulusan siswa smp dan smu harus nyumbang sejumlah buku untuk perpustakaan sekolah. Saya dulu juga diwajibkan nyumbang buku waktu lulus smu, cuma tidak harus beli dari toko G.
Kalo kasus pak de, jelas itu cari untung.

Pakde
Saya dulu mengalami itu juga, dan ternyata pola seperti itu nggak selamanya bisa diterapkan. Sekarang kita tinggal mengikhlaskan saja, semoga bukunya bermanfaat. Deal?

buJaNG

Apr 19th, 2009

Sekarang orang mau pinter tuh harus berusaha sangat keras, banyak pengorbanan yang harus dilakukan. Katanya sekolah gratis ada dimana-mana, klo cuma gratis SPP lalu diadakan kewajiban harus beli buku seperti ini namanya nggak gratis, tapi membunuh…! Wajib sekolah tapi mau sekolah kok malah dipersulit. Bener-bener kasihan rakyat kecil yang tidak mampu.

Pakde
Peristiwa semacam ini memang layak jadi bahan perhatian semua pihak, sayangnya untuk menarik benang merahnya butuh perjuangan.

budi

Apr 19th, 2009

saya  setuju dengan cara pakde menanggapi masalah ini, konfirmasi lalu diposting. semangkin banyak yang memposting suatu kebijakan, maka lama-lama kebijakan itu akan memihak kepada khalayak.

Pakde
Terimakasih mas budi. Intinya saya tidak mau hanya mengambil satu sisi. Jika masalah itu muncul dari 3 pihak yang berbeda, sebagai media yang transfaran artinya tidak memihak, layak dilakukan crosscheck kebenaran kasusnya.

Harsa

Apr 19th, 2009

Itu sekolahnya aneh juga, Program Sekolah Belanja di G koq malah menguras kantong siswanya :D.. yang belanja sekolahnya atau siswanya?.. :P udah gitu edarannya ditarik pula karena takut ter-ekspose.. :P

Semoga ke depannya dunia pendidikan Indonesia menjadi lebih baik, dengan tidak menetapkan aturan-aturan yang semena-mena terutama yang memberatkan siswanya…

seperti apa yang dibilang sama mas thevemo diatas, nyumbang koq dipaksa?..hehehe..

Pakde
Semoga….ini jadi bahan perhatian semua pihak yang akan menyelenggarakan kegiatan semacam ini.

sunardi

Apr 19th, 2009

Sering jumpa kasus kayak gini dimana-mana. Kalau sekarang kan wartawan online ada dimana-mana, hayoo… Teruskan perjuangannya PakDe…

Pakde
Cukup membuka dan mengklarifikasi aja bosssss…

kwek lina

Apr 19th, 2009

weleh2…

waduh parah juga…

 guru yang demikian, bisakan menjadi guru yang baik?
jangan sampai terjadi lagi…setelah kejadian baru berusaha saling menyalahkan…saling bersih2 takut diri terlibat :)

Pakde
Mudah2an tidak akan ada lagi kasus semacam ini. Semua pihak pengennya yang selaras, saya yakin itu. Thanks ya…untuk komengnya.

Ikkyu_san

Apr 19th, 2009

bener pak Sunardi
sekarang jaman wartawan online
mari kita yang bisa online
memajukan negara kita
dengan tulisan bermutu
saya yakin kok banyak blogger
yang intelek dan bersedia berbagi

EM

Pakde
Mudah2an semua wartawan online bisa melakukan crosscheck seperti itu, sehingga tidak menimbulkan wacana dengan sudut pandang pihak tertentu saja. Karena bagaimanapun klarifikasi itu penting.

NokLia

Apr 20th, 2009

Kapitalis emang kadang s*****g Pak De….itu gitu KepSek-nya kok ya mau saja dibodohi. Prihatin…prihatin…
Sama prihatinnya sama anak sekolah yang udah gak bisa pake lagi buku bekas kakak2nya, semua harus beli buku baru. Huuuu….padahal dulu kita selalu pake buku warisan” dari kakak2 kita, toh isinya sama saja. 
Professor2 di kampus saya malah menganjurkan untuk menggunakan buku bekas, mereka bilang : kalo bisa pake yang bekas dan isinya sama, ngapain harus beli baru ??
Padahal itu di Amerika lhooo…negeri yang paling kapitalis itu….

Pakde
Nggak ada yang dibodohi…hanya saja kehebatan Kepsek berlebihan sehingga dipikir toko buku itu hanya G saja. Sebagian sependapat dengan profesor itu jika isinya sama memang ngapain beli baru. Hebatnya sekarang buku lama kadang di revisi lagi, apalagi didalamnya banyak tesis2 yang bermunculan dan terbilang baru.

edratna

Apr 20th, 2009

Pakde kesalahan itu dari sekolah. Perpustakaan memang disarankan untuk dibangun di sekolah, tapi bukunya bisa sumbangan, dari orang yang memang punya kelebihan atau punya buku2 yang sudah tak terbaca dan masih berguna. Kepala Sekolah mungkin mencari mudahnya saja, mengirim surat ke seluruh orangtua, padahal tak semua orang tua punya kemampuan sama.

Mungkin Kepala Sekolah nya perlu belajar dari blogger ya pakde, seperti yang dilakukan oleh Yoga dkk. Atau yang dilakukan Bangaip, membuat buku, yang hasil penjualannya disumbangkan untuk biaya kawin teman terdekatnya.

Pakde
Nampaknya memang harus seperti itu bun. Pihak kepsek harus melihat lingkungan disekitarnya, mana yang mengarah ke monopoli mana yang tidak. Mudah2an banyak pihak sekolah yang sudah melirik media blog juga. Pak Sawali mana yaaaaa?

Req

Apr 20th, 2009

Begitulah kalo kapitalisme sudah merasuki setiap sendi kehidupan masyarakat kita pak de…apa apa semua dinilai dengan nilai kapital….sampai-sampai pendidikan pun harus mengeluarkan biaya yang mahal….

Pakde
Thanks bro…..dan mari kita kembali ke laptop bro….

Ferdi

Apr 20th, 2009

Pakde, bulan depan CIT kantorku mau ngadain acara “buku untuk taman bacaan” loh? mau bantu ga? :D

Pakde
Buleh …buleh…dimana saya bisa dapetin info lengkap kegiatan tersebut?

Ade

Apr 20th, 2009

Bahasa Jambi mirip2 bahasa Padang ya Pakde..

Pakde
Lawong kito iko satu rumpun kan? Melayu gitu loooh…salam

balisugar

Apr 20th, 2009

hidup Pakde !!!

Semangat dalam perjuangan

Kalau di Jogya anak suruh beli buku di loakan, lebih murah masih kepake yang tahun kemarin sama. Ah pusing jaman sekarang, sepertinya pola-pola seperti itu akan berlanjut terus, diam…sampai kapan ? Perlu semangat untuk membuat gerakan baru.

Pakde
Dan semua pihak harus turun tangan

Listiana Advokat

Apr 21st, 2009

Kepseknya punya niat tuh untuk bagi hasil, ambil keuntungan lah istilahnya….keburu ketahuan cepet2 deh ditarik suratnya…coba gak ketahuan…tebel deh sakunya…

Pakde
Nggak sesangar itu jeung…kalaupun kejadian,…. kasian lah murid2 nya….

Muzda

Apr 22nd, 2009

Kalau beli, apalagi di toko tertentu, dan sudah dipatok pula harganya, berarti bukan sumbangan dong namanya …
:)

Pakde
Yup…jual paksa judule

sawali tuhusetya

Apr 23rd, 2009

Saya jadi teringat ttg munculnya surat edaran dari mendiknas, bambang sudibyo, pak dhe. hampir semua sekolah mendapatkan edaran itu. intinya, sekolah dalam bentuk apa pun dilarang menjual atau memaksa anak membeli buku. tapi ada yang luput dari perhatian mendiknas. imbauan itu memang bagus, tapi belum diimbangi dg good will utk menyediakan buku2 murah buat orang tua siswa.

Pakde
Mudah2an kita selaku blogger nanti bisa memberikan buku2 gratis ke tiap2 sekolah ya pak!

HE. Benyamine

Apr 23rd, 2009

Ass.
Nah, usaha pakde mengekspos ini sungguh bermakna dalam mengurangi ketidaksepahaman atau penyimpangan2 dari niat baik (tujuan bisa beda, dan cara bisa keliru). Jadi, jika hal tersebut sangat mengganggu beberapa pihak, khan sekarang malah sudah diluruskan (dihentikan).
Upaya yang sangat berarti, karena pemerintah sudah terlalu bohong bahwa sekolah sudah gratis, padahal yang sebenarnya memindahkan biayanya saja pada pos lainnya (yang ternyata bisa lebih banyak dari sekolah yang dulu tidak gratis).
Gerakan bukunya … perlu terus diikuti dan siapa tahu juga bisa dilaksanakan ditempat lainnya.  Sukses selalu.

Pakde
Awalnya saya hanya merasa nggak nyaman dan menjadikan ini sebagai wacana, tapi lama2 koq jadi pengen mengklarifikasi…dan akhirnya didapatlah update nya…

-tikabanget-

Apr 25th, 2009

waww..!!
kereeenn…!!
sayah kagum..
sampe bisa bikin program itu batal..

eh, sayah penasaran.
bener-bener ada kata “HARUS BELI” di kertas itu???
betapa hebat hasil perbedaan level skala pikir seorang penyampai informasi ya.. :(

Pakde
Yang membatalkan rogram itu kan sebenarnya…ada satu orang yang berniat mempublikasikan event ini di koran…ia ngadu ke sekolah dan akhirnya….pihak sekolah ketakutan. Awalnya saya diem..tapi lama2 koq penasaran…masak iya client saya si G ini melakukan itu…ternyata kan tidak mewajibkan begitu. (meskipun saya masih ragu tapi yang penting kegiatan tsb gatot)

Iya….ditulis tangan HARUS BELI DI G harga buku tersebut sebesar 15.000 perak….
Waduuuuh skala pikir????

luigi

Apr 30th, 2009

PakDe,

Perilaku macam ini sejak dulu jaman say amasih bercelana pendek sudah awam, nah POMG adalah salah satu wadah untuk mengentaskan urusan ini. Sembari para bloggers senantiasa membangun jejaring dan gerakan akar rumpuntnya untuk membantu menyumbangkan buku - bagaimana dengan “gerakan 1000 buku” itu? apakah bisa membantu dan mendukung anak2 di sana?

Kelakuan guru dan sampai dosen di negeri si bau kelek ini juga sama kok - mereka mencetak diktat sendiri yang dipakai sebagai materi kuliah dan belajar dan dijual paksa oleh  mereka kepada siswanya. kacaulah.. mungkin disini malah lebih parah.

Salam hangat dari afrika barat!

pakwo

Jun 6th, 2009

salam kenal, setiap sekolah boleh saja menambah koleksi buku demi kemajuan sekolah tersebut yang penting judulnya jangan ada istilah paksaan. Soalnya anggaran dana untuk beli buku sudah ada kata tetangga, saya sebagai kepala sekolah SD termasuk juga SMP. Katonyo Bak itu dek … maklum kito kan baru sudah pesta demokrasi …ayo rame..rame..kito pegi sekolah gratis…..he..he…

Cecep SWP

Jun 15th, 2009

Ada istilah baru untuk dunia pendidikan yaitu segitiga bermuda, sekolah - toko - percetakan :D

Eka Situmorang - Sir

Jun 20th, 2009

Waaaah saya ketinggalan yg ini :)
kalo mau komen udh gak pas hehehehe
anw Pakde, kalau sampe ada monopoli itu udh gak pas, bener tuh malu sama blogger. Tapi ternyata miscom ya.
Skr jadi udh gimana pakde? Beneran beli di tempat lain boleh ?

Leave a Comment

Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.