The Punishment
by theKRY™ on 20/04/09 at 12:17 pm
Banyak bentuk Punishment yang diberikan sekolah kepada muridnya. Tingkatannya pun macem2. Rendah, sedang, atau keras, semuanya diberikan tergantung dari jenis pelanggaran yang dilakukan si murid dan tergantung pula di Sekolah mana Punsihment itu berlaku. Semuanya menyisakan banyak kisah yang tak mudah di lupakan.
Ada dua peristiwa yang aku alami beberapa tahun silam, pertama waktu masih duduk di kelas 4 SD. Entah itu bisikan dari mana koq males banget masuk sekolah. Masuk dua pelajaran, jam istirahat langsung pulang…eh besoknya ada yang ngadu sama wali kelasku. Namanya Eti….(dimana engkau kini) Cewek bengis dikelasku jaman itu, cerewetnya minta ampun. Sakit hati ini ….(hik hik)..koq di aduin sama ibu wali kelas seeeeeeh….
Hukumannya sangat simple. Tapi membekas hingga kini. Aku harus berdiri di depan kelas sambil menuliskan 100 kalimat “Aku tidak akan kabur lagi”...aaarrrghh bener2 membekas sampai sekarang. Selesai dengan hukuman menulis, tugas tambahannya menuliskan kembali kata yang sama dengan gaya menulis indah pada satu halaman polio. Selesai itu aku di kasih Pe Er 20 soal matematika pecahan dan pembagian. Asli sampai sekarang masih bersarang kenangan itu….
Kejadian kedua, sangat hina dina ini…tiba2 kepala sekolah menamparku dengan tangannya…keras sekali…sampai aku tersungkur, mimisan pula. Untungnya masih bisa bernafas. Apa pasal? Kepsek ini…. Meminta membersihkan ruangan kelasku yang masih kotor, padahal yang punya jadwal bersihin kelas bukan aku. Hanya kebetulan saja, pagi itu aku hendak keluar kelas sebelum pelajaran di mulai, dikelas itu hanya ada beberapa orang, kepala sekolah mungkin berfikir, aku salah satu yang harus membersihkan ruangan kelas, dipikirannya mungkin tak harus menunggu petugas piket. Padahal….anak2 yang kebagian piket sedang mengambil air kobokan (guru2 jaman dulu pakai kobokan setelah menulis di papan tulis, sekarang masih nggak ya?). Yang lainnya mengambil sapu yang masih dipakai di ruangan sebelah. Aku pikir kepsek datang ke ruangan itu mau ngasih Pe Er atau apa gitu….mengingat ada guru yang nggak bisa masuk kelas. Aku beranjak dari bangku lalu menghampirinya…dan tiba2 matanya mendelik…sangar nian….PLACK…aku ditamparnya tanpa sebab…tersungkur lah sendirian. Entah berapa menit tak sadarkan diri setahu aku kisah itu diakhir dengan posisi aku terbaring lemas di ruang P3K.
Karena lemes, aku dipulangkan oleh wali kelas….apakah peristiwanya selesai sampai disitu?…tidak! Bokap yang kebetulan saat itu menjabat sebagai Petinggi di Instansi pemerintahan akhirnya datang ke sekolah. Mencari sosok bernama KepSek. Setelah sidang ini itu….karena membela aku. Akhirnya ia mengakui kehilapannya dan bertekuk lutut. Besoknya saat aku masuk kelas, ia duduk dimejaku dengan wajah yang menyedihkan, ia mengagetkan aku kemudian mendekapku keras sekali. Ia meminta maaf. Entah kekeliruannya di mana, sampai saat ini aku masih belum faham, tapi dari kejadian itu, kepsek jadi makin ramah, makin sering berkunjung ke rumah, dan kini serasa jadi sodara.
Kenapa aku posting tentang ini, silahkan nikmati foto ini. Fotonya diambil sendiri jam 7 pagi. Pagi itu anak sekolah di seberang studio sedang upacara. mereka-mereka ini datangnya telat. Begini nih jadinya….berjalan jongkok mengelilingi kelas. Ikat pinggang masing2 murid diikatkan satu sama lainnya, mereka di papah guru BP nya.

Banyak bentuk Punishment yang diberikan guru kepada muridnya, dari yang mulai menggunakan kekerasan sampai hal yang lebih mendidik.
1. Hukuman berupa penundaan dalam memberikan penghargaan : Kelebihannya adalah murid akan berusaha mendapatkan rewardnya, sehingga akan berusaha pula untuk segeera memperbaiki kesalahannya/prilakunya. Sayangnya kelemahan dari punishment ini secara tidak langsung akan bergantung dengan pemberian reward, apalagi jika reward yang diberikan tidak proporsional.
2. Hukuman berupa pencabutan hak istimewa murid : Kelebihannya, murid akan merasa rugi karena hak istimewanya dicabut, dan umumnya ia akan berusaha memperbaiki kesalahan atau perilakunya dengan segera untuk mendapatkan kembali hak istimewanya. Lemahnya, jika sekali saja guru lalai akan konsekuensi dan konsistensi penerapan hukuman tersebut maka tidak akan memberikan hasil apa-apa dalam menerapkan disiplin pada murid.
3. Hukuman berupa penyetrapan atau time out : Kelebihannya, murid akan merasa tidak nyaman karena diasingkan ke ruangan yang sepi dan tidak diajak berinteraksi karena diabaikan atau ditinggal oleh guru untuk beberapa menit sampai ia bisa tenang dan siap untuk kembali ke kelas. Lemahnya, untuk murid-murid tertentu justru mengharapkan dirinya dibawa keluar kelas agar bisa “bebas”. Untuk itu sebaiknya guru mengatasinya dengan tetap memberikan tugas yang harus diselesaikan oleh murid selama waktu time out sebelum ia diperbolehkan kembali ke dalam kelas.
4. Hukuman berupa skorsing : Kelebihannya dapat memberi waktu kepada murid untuk merenungi kesalahannya dengan tidak mengijinkannya mengikuti pembelajaran di sekolah dengan harapan ada perasaan malu dan rugi, sehingga murid mau memperbaiki kesalahannya. Kekurangannya hampir sama dengan penyetrapan atau time out di mana untuk murid-murid tertentu justru mengharapkan diskorsing atau tidak diperbolehkan masuk sekolah untuk beberapa hari sehingga bisa “bebas” dari tanggungjawab sekolah. Untuk itu penanganannya juga sama yaitu sekolah sebaiknya memberikan tugas yang harus diselesaikan selama murid diskorsing dan ikut melibatkan orangtua untuk memantaunya. Selain itu kekurangan lainnya adalah murid menjadi tertinggal pelajarannya karena tidak masuk sekolah, sehingga butuh waktu bagi murid tertentu yang cenderung lambat untuk bisa mengejar ketertinggalannya.
Memang nampaknya tidak mudah untuk menentukan sebuah bentuk punishment kepada murid, salah-salah malah mental anak didik dapat mengalami gangguan, apalagi jika sudah mengunakan kekerasan pisik. Peran orang tua nampaknya juga harus turun tangan, bukan hanya berkordinasi dengan guru, namun memantau anaknya agar tidak ada kasus punishment.
Pesan Moralnya: “Jadilah murid yang baik kalau ingin terbebas dari Punishment”.









51 Comments
pak guru
Apr 20th, 2009
artikel menarik pak…
sungguh sekolah harus berhati-hati dalam menggariskan disiplin dalam sekolah. Sebaiknya hukuman diberikan sebagi bentuk konsekuensi perilaku yang salah bukan pribadi yang salah. Tendensi buruk pada seseorang biasanya mengakibatkan jenis konsekuensi/hukuman yang menyimpang dan tidak mendidik…
Ferdi
Apr 20th, 2009
Ah, punishment terhadap siswa yg “dianggap” nakal ternyata ga bisa juga membawa kepada kebaikan. Selama ini saya lihat masih ada oknum guru yang bersikap arogan entah karena merasa lebih senior atau sebagai wujud kekesalan mereka atas “keadaan” yg mereka dapati..
Seharusnya para murid ini dijadikan partner dalam berdiskusi atas apa yg mereka pelajari, rangkul mereka untuk menjadi tunas2 bangsa baru yang lebih cemerlang dengan ide2 dan inovasi mereka, bukan cekokan materi yang monoton tiap hari, tanpa tujuan yang pasti..
Thanks,
thevemo™
Apr 20th, 2009
Sah sah aja, asal jangan pakai kekerasan fisik.
Aku pernah di jemur seharian, gara gara memprovokatorin teman sekelas untuk tidak mengikuti pelajaran olahraga yang teori saja, kami ingin praktek juga….
Mungkin, temen kelas pakde itu suka ama pakde….
Ini toh yang dibilang ada yang baru di sidebar….rupanya..iklan esia, mantap boz
itempoeti
Apr 21st, 2009
Seringkali punishment yang diberikan tidak diimbangi dengan reward sehingga memunculkan ketidakadilan.
mikekono
Apr 21st, 2009
memberi reward and punishment
memang sebuah keharusan
soal punishment juga penting
demi menimbulkan efek jera,
asal jngn dilakukan karena dendam
atau atas dasar like or dislike
nh18
Apr 21st, 2009
HHmmmm …
1. Untuk yang kelas IV SD … aku akan menambahkan hukumannya untuk Pak De. Pak De yang salah jeh … (huahahaha).
2. Untuk yang kedua … siapa sih Kep Sek ituh … ringan tangan sekali …
kalo aku disana … pasti … aku … aku … aku diam saja … hehehe
Ini sungguh tidak bisa di tolerir …
Ya bisa saja … Mungkin kepsek lagi butek pikirannya … (tapi butek kok nampar sih … )(bikin geram saja …)
3. Lihat foto … ??? kenapa mesti buka baju segala ya ???
Salam saya
aLe
Apr 21st, 2009
Dah ga sekolah lagi ^^
Harsa
Apr 21st, 2009
Iya, saya ga setuju hukuman yang berbentuk fisik, malah menciptakan trauma dan kemungkinan sakit hati. Disiplin memang perlu ditegakkan, tapi kayanya dengan pemberian reward kepada siswa2 tertentu yang menaati peraturan sekolah dan bertindak baik kayanya juga termasuk salah satu meningkatkan semangat disiplin kali yah? tanpa “mencampur tangan” prestasi belajar. Jadi reward disiplin sekolah dan reward prestasi belajar menjadi dua hal yang berbeda…..
kira2 bisa begitu ga yah?…
achoey
Apr 22nd, 2009
Hehehe
Dulunya siswa yg nakal ya
Dan kini menjadi sosok yang hebat
Saya juga nakal Pak dulunya
Muzda
Apr 22nd, 2009
Haiyah …

Di sekolahku dulu,, gurunya bener deh ampun …
kalo menghukum kok pake fisik, tapi ini khusus anak cowok..
Ada yang nyubit di perut, mukul pake sapu di belakang lutut, nampar juga ada..
Kenapa harus fisik, Pak Guru ..??
Jadinya ni ya PakDe, anak-anak itu tetep geblek kok, dan si Guru jadi sosok paling dibenci,, hehee …
Qie
Apr 22nd, 2009
makin aneh2 ajah pak dhe,,, kelakuan guru yang menjadi panutan kita ini
menyedihkan sekali 
Harsa
Apr 22nd, 2009
Pak De,
waktu smp dulu saya pernah dihukum sama guru bahasa dengan ditarik jambangnya…saakiittt….sampe kesel, akhirnya saya cukur rambut jadi cepak (gara2 ini adalah awal saya jatuh hati dengan rambut cepak) dan ga ada jambangnya…saya pikir guru bahasa saya udah keabisan jurus, karena saya dah ga punya jambang lagi…tau2 cubitannya ga kalah sakit…haih, malah jadi saya deh yang keabisan jurus… hehehhe
mampir lagi yah pak De…lagi mati gaya nih di kantor..
News Online
Apr 22nd, 2009
Wew..
Siapa menebar angin..
Dia menuai badai..
Semoga kita semua bisa menjaga diri..
Begitu ya bpk..
Eka Situmorang-Sir
Apr 22nd, 2009
Sedih melihat fotonya.
Sedih itu terjadi di negara kita.
Saya gak seneng dapet murid baik yang diem2, lebih seneng dpt murid nyleneh, bandel, ato nakal. Karena itu berarti ada suatu dorongan di dalam diri si murid yang perlu dibedah. Siapa tau dorongan itu adalah sisi kreatifitas, ide menciptakan atau lainnya.
7 tahun lalu saya pernah praktek ngajar sma yang murid2nya terkenal badung and tukang tawuran. satu bulan pertama dicuekin, tapi enam bulan kemudian saya dibuatin pesta perpisahan satu murid kelas itu. Dan salah satu muridnya udh jadi artis skr pdhl dulu hobi madol. Karena pada dasarnya bahasa kasih menjangkau setiap hati bahkan murid paling bandel sekalipun.
Jadi kangen ngajar lagi….
Komandan
Apr 22nd, 2009
wah kalau yang kaya ginie saya sudah pernah ngalami pakdhe sampai orang tua saya dipanggil juga ke sekolahan , , ,
salam kenal pakdhe dan silturahmi , , , , , ,
Supermance
Apr 22nd, 2009
wah kalo hukuman fisik, dulu saya langganan pak, huhu nasib…
Taktiku
Apr 22nd, 2009
Wah jadi ingt dulu waktu SD pernah di strap. hehe
cupangkolam
Apr 22nd, 2009
Hukuman fisik kayaknya dah gak jamannya lagi. Memang perlu hukuman yang arahnya membangun kesadaran anak, bersifat motivasi, dan mendukung pola kedewasaan berpikir anak. Berpikir dan membangun kesadaran memang memerlukan proses, dan seharusnya tidak hanya murid yang dituntut kreatif tapi guru juga kreatif dalam memberikan bentuk-bentuk hukuman yang lebih mendidik.
Uke Poet
Apr 22nd, 2009
Jadi ingat pernah dipanggil guru BP SMP gara2 di bawah laci mejaku ketemu puntung rokok. Padahal boro2 ngerokok, nyium asapnya aja bikin pusing.
Kesalnya, walau sudah dijelaskan soal fakta ini dan bahkan pakai saksi teman sekelas, tetap saja orang tua dipanggil ke sekolah dan kita disuruh berjanji buat tidak mengulangi hal yang sama.
Ada2 sajah…
sawali tuhusetya
Apr 23rd, 2009
Saya termasuk salah seorang guru yang tidak setuju dengan punishment beraroma fasiis dan kekerasan yang justru menghancurkan karakter anak. ada bagusnya sebelum keputusan punsihment diambil, perlu dicari dulu asbabun nuzulnya. jangan main setrap. anak2 juga mempunyai hak utk beropini dan menyampaikan pendapat ttg tindakan yang dilakukan. yang seringkali terjadi, sekolah selama ini tak pernah mau mendengar alasan si anak. ya gitu deh, pakdeh, arah dunia pendidikan kita.
ArieL, FX
Apr 23rd, 2009
duh malu nya..
Cengkunek
Apr 23rd, 2009
yg jelas hukuman gak boleh kejam atau menghancurkan psikologisnya…
trus, semua siswa yg ketauan merokok harus dihukum lebih berat, walau merokoknya di luar sekolah.
kelly amareta
Apr 23rd, 2009
bentuk hukuman seperti yang ada di foto ilustrasi diatas menurutku sudah keterlaluan.
engga ada manis-manisnya nyuruh murid bertelanjang baju begitu.
anak sekolah sekarang beban belajarnya sudah over dosis
luar biasa kebanyakan, yang engga perlu juga musti diapalin sampe mati
engga usah deh di tambah hukuman yang keterlaluan.
denologis
Apr 23rd, 2009
saya suka punishment berupa PR yang banyak….
**maksudnya, PR dari Google School**
News Online
Apr 23rd, 2009
Wew..
Abis jongkok baris gitu..
Enaknya ngapain ya..
Pijit2an..
Ato kerok2an..
Hehehe..
HE. Benyamine
Apr 24th, 2009
Ass.
Itu guru BP yang memang belajar psikologi ya? Sangat aneh, seoarang yang berlatar psikologi memperlakukan siswa seperti binatang dan cenderung menggunakan kekerasan. Apalagi hanya karena datangnya telat, sampai dilepas bajunya, jangan2 guru tersebut mengalami kelainan kepribadian.
Memberikan hukuman terhadap suatu pelanggaran, sebagai institusi pendidikan, tentu harus yang bersifat mendidik dan pembelajaran.
Fotonya keren dan menggambarkan suatu perlakuan yang tidak pada tempatnya terhadap para anak didik.
annosmile
Apr 24th, 2009
jadi inget waktu sd dulu
Oemar Bakrie
Apr 24th, 2009
Mungkin harus dibedakan antara hukuman untuk kenakalan dan ketidakdisiplinan …
Huang
Apr 24th, 2009
Pakde, ada gak hukuman yang membawa nikmat?
domba garut!
Apr 25th, 2009
Memang jenis hukuman untuk mereka di tanah air berbeda sekali dengan anak2 di AS, beda kultur - beda pendekatannya perihal disiplin ini.. namun demikian, sepertinya lembaga pendidikan bersama-sama dengan POMG dan orang tua murid dirumah, perlu mengkaji ulang perihal “praise & punishment” ini secara psikologis..agar berimbang.
“too much sticks and less carrots may not make students effectively abiding the rules..”
mascayo
Apr 25th, 2009
usul nih …
mending hukumannya di kasih training outbond saja sama Om Trainer,
pasti JOss deh …
ketimbang di keplak … hehehe
ceznez
Apr 25th, 2009
lebih ngena klo di bilangin ato di omongin dari hati ke hati ya.. klo hukuman fisik.. malahan kurang ngena di pendidikan moralnya
zee
Apr 27th, 2009
Hmmm mudah-mudahan si Eti itu baca biar dia tahu dia sudah jadi kawan yg tidak setia. Soalnya dulu saya jg pernah bandel atau cabut waktu smp, tp teman-2 ga pernah ngadu, kita setia kawan. Klo guru marah & mogok mengajar, kita malah senang hahahaa…
frozzy
Apr 28th, 2009
weeee…..saya dari dulu ga suka dengan kekerasan……
p u a k
Apr 28th, 2009
Ih, ngeri juga tuh kepsek nempeleng anak murid sampe berdarah gitu.
Yang seperti itu tuh, pakde.. masih banyak prakteknya di beberapa sekolah di Indonesia. Mengenaskan.
Wisata Jambi
Apr 29th, 2009
Semakin canggih hukumannya semakin juga pakde, contohnya ga boleh fesbukan selama sebulan. Kan keren tuh
Retie
Apr 29th, 2009
mmm jadi inget dulu wkatu kelas 5 SD, ngga ngerjain pe-er mmm sebagai hukuman kena cubit di lengan dech hehehee
tapi dulu semasa sekolah aku jadi anak yang manis sich jadi nya ngga pernah ngerasain kena hukuman yaaa cuma sekali itu aja 
tapi kalau dengar berita, ada guru yg nempeleng muridnya juga kadang suka ngeri juga… emang ngga ada cara memberi hukuman yang lainnya apa… waduhhh… kasian banget ya anak2 ini, mereka2 khan aset masa depan, lha kalo mentalnya aja kebentuknya udah kayak gitu trus mau jadi apa Indonesia ini ke depannya….
mas8nur
May 1st, 2009
Duh..amit2 dah…anakku ntar jangan ada yg kena punish kayak photo di atas. Bapaknya aja gak pernah. Paling dijewer kecil karena asyik coret2 kertas saat guru menerangkan…..(ini khan punish juga, ya…hehehe…)
Billy Koesoemadinata
May 1st, 2009
hahaha.. contoh hukuman di fotonya boljug tuh.. guru BP-nya keren..
untung dulu saya ga begitu nakal
sibaho way
May 2nd, 2009
punishment harus berimbang dengan reward. punishment perlu, tapi jika sampai kontraproduktif malah tidak mencapai tujuan. apalagi anak usia sekolah.
phery
May 3rd, 2009
wuih, kepsek nya kejam banged tuh…
alris
May 3rd, 2009
Masih dibutuhkan punishment selama tujuannya untuk perbaikan dan kebagian. Cara melaksanakannya harus yang mendidik tentunya.
yungchi
May 4th, 2009
salam kenal…. thx buat mas Mahendra yang sdh mengenalkan inspirasipakde.com kepada saya… saya bisa belajar banyak di sini….
Sukses selalu…
yungchi
May 4th, 2009
setuju buat alris.. cara pelaksanaannya harus mendidk… dan pastinya kekerasan harus ditinggalkan jauh-jauh….
yungchi
May 4th, 2009
minta ijin buat ngelink blognya.. trims……….
Huang
May 4th, 2009
Ha-Ha
Pakde paling tahu kalo soal hukuman membawa nikmat … xixixixixi…
Rusa Bawean™
May 5th, 2009
wahhhh

kalo acara kabur2 waktu sekolah
hmmm
keknya aku gak pernah deh
marshmallow
May 6th, 2009
ya ampun, tulisan pakde ini.
cerita masa sekolah yang tragis dan ulasan tentang upaya penegakan disiplin di zaman sekarang yang ternyata tak lebih baik dari dulu.
saya tak ingin berkomentar soal hukuman dalam pendidikan, karena ulasan pakde sudah komprehensif banget.
saya hanya ingin menyoroti bahwa bila siswa dididik dengan kekerasan, maka jangan berharap generasi ini akan menjadi orang yang lemah lembut dan santun.
nina
May 7th, 2009
slam kenal y komandan…
ne bloger bru…
Merry B
May 26th, 2009
Jadi inget semasa SMP pakD,
Merasa tidak bersalah dan merasa bukan giliran piket pada hari itu, saya menolak untuk disuruh menyapu kelas oleh guru kesenian yang mengajar di jam pertama.
Terus saja dia memaksa saya sambil marah-marah. Beberapa bulan kemudian, saya dikabari oleh teman-teman kalo si ibu guru ini melahirkan anak perempuan yang mirip dengan saya.
Andrian
Apr 5th, 2010
Gimana rasanya?
gue mau ngerasain dihukum jalan jongkok sambil buka baju…..
Leave a Comment