Dinner with PakDE
by theKRY™ on 09/05/09 at 9:34 pm
Pakde belajar dari Semut.
Dua malam berturut2 saya menyaksikan sebuah fenomena alami yang terjadi di meja makan. Kisahnya bermula ketika saya duduk menikmati sepiring bolu pisang yang manisnya tak seberapa jika dibandingkan dengan teh manis yang sudah saya habiskan setengah gelas. Alhamdulillah pikiran saya malam itu tidak terlalu penat. Sehingga apapun yang ada disekeliling saya bisa diperhatikan.


Seperempat bagian bolu pisang saya habiskan dan ketika asyik mengunyah, tiba2 di ujung meja makan muncul seekor semut begitu gesit langkahnya, jumlahnya hanya satu, besarnya seukuran semut rangrang. Entah bagaimana cara yang dilakukan semut ini sampai bisa berada diatas meja. Apakah ada sarang semut disekitar meja? Atau semut itu jatuh dari langit-langit?. Saya tidak berusaha mencari tahu karena pikiran ini langsung tertuju dengan ulah semut itu. Kaki-kaki mungilnya begitu lincah bermanuper dari satu wajan ke wajan lainnya. Ia butuh makanan nampaknya. Saya cubit ujung bolu pisang, besarannya seujung kuku, kemudian saya letakan di atas meja. Ya…seujung kuku nampaknya cukup untuk makan malamnya. “Mari kawan…nikmati bolunya” saya bergumam.

Tanpa alasan yang jelas setelah semut itu mendekati bolu pisang dan mencium cubitan bolu pisang yang saya letakan, ia langsung pergi begitu saja. Saya pikir, semut yang satu ini tidak suka dengan wangi bolu pisang yang dibuat ISEYA. Saya perhatikan mulut semut itu tetap kosong. Ini berbeda dengan semut2 lainnya yang biasa saya temukan ditempat lain. Umumnya setiap kali menemukan makanan, semut itu akan membawanya pulang untuk dibagikan dengan keluarganya. Tapi semut ini beda sekali. Selektif banget dalam memilih makanan.
Gelas yang berisi teh manis saya teguk, sisanya kini tinggal sedikit, bagian dasarnya terdapat endapan gula pasir. Ketika diangkat, Mug ini meninggalkan jejak. Saya letakan kembali mug di tempat yang berbeda namun masih diatas meja yang sama. Entah kenapa koq tiba2 saya mulai keasyikan dengan ulah semut itu. Di tawarin bolu koq cuwek…Lalu saya celupkan telunjuk saya ke dalam gelas yang masih berisi teh manis. Saya miringkan gelasnya agar jari saya bisa basah. Agak lengket memang, saya keluarkan lagi telunjuk saya, nampak ada setetes teh manis yang bentuknya persis embun menggantung di ujung telunjuk. Kemudian saya jatuhkan tepat di dekat semut yang meninggalkan bolu pisang.

Apa yang terjadi?…..Semut ini berteriak kerrrrrrassss sekali….(andai saja begitu) ia berputar2 diarea tetesan teh manis. Gerakannya berbeda dengan gerakan ketika saya jatuhkan secuil bolu pisang… Reaksinya berbeda…yang ini lebih lincah….sampai akhirnya ia mengambil satu posisi dimana kaki belakang ia lebarkan agar kesimbangan berdiri tidak goyang. Pinggang dan dadannya ia rapatkan ke meja. Mulut kecilnya menyedot tetesan teh manis. “mmmmmh…segar sekali pakde!” Begitu kira2 kata semut.
Satu tetes nampaknya takkan habis diminum sendirian. Ia kemudian berdiri tegak, dengan dada di busungkan. keempat kakinya menahan bagian belakang tubuhnya, dada bidangnya ia tegapkan dan dua kakinya ia gerak2an di depan mulutnya…persis seperti sedang membersihkan sebuah aba-aba. Sekali-kali tangannya mengelus antene yang terletak dikepalanya kemudian ia usap kembali ujung kepalanya…beberapa saat kemudian. Sekelompok semut lain bermunculan…dari lokasi yang sama. mereka berjalan mendekati semut yang pertama saya lihat. Luar biasa! Wangi gula plus Teh Sari Wangi yang saya teteskan ternyata sangat menarik minat mereka. Daya endusnya sangat kuat. Terbukti…mereka berdatangan mengitari jamuan malam PakDE. Ada yang berputar2 kebingungan, ada yang langsung meletakan mulutnya pada tetesan teh manis, ada yang memanjat piring kue bolu pisang, ada pula yang bahkan nekat memanjat mug. Oh my Gooood!!


Yang menjadi inspirasi dalam event Dinner with PakDE, adalah ketika saya fokus memperhatikan sekelompok semut2 lain yang tiba2 nekad memburu mug yang isinya tinggal beberapa tetes teh manis. Dimulai dari satu semut yang nekad memanjat mug, sampai memperhatikan sekelompok semut lainnya yang menikmati jejak mug disisi meja lainnya. Apa yang saya dapat dalam event itu?

Pertama; “Saya belajar KETAMAKAN dari kelompok semut yang nekat memanjat mug“.
Kelompok ini tidak tertarik dengan rasa manis yang ditinggalkan mug ditempat sebelumnya. Ia langsung memburu sumber rasa manis yang memang terletak didalam mug. Untuk bisa singgah kedalam mug, sisemut memang harus berusaha keras. Perlu keberanian untuk dapat menaklukan medan/kondisi lingkungan yang akan di hadapi. Susah payah merangkak, Tapi setelah sampai pada tujuan, ia tak mampu untuk kembali ketempat asalnya. Sama halnya dengan kehidupan kita. Sebagian bersusah payah menghabiskan tenaga, pikiran, metoda dan keberanian untuk dapat sampai di puncak teratas. Namun setelah posisi itu diraih dan dinikmati bercampur milyaran rasa didalamnya akhirnya lupa diri.

Tak jauh berbeda dengan kelompok semut yang berhasil masuk kedalam mug. Ia tak dapat kembali ke sarang, ia tak dapat kembali kedalam keluarganya dan hanya meninggalkan jejak tubuh yang kemudian tak bernyawa lagi. Harus kah kita seperti itu?

Kedua; “Saya belajar KESEDERHANAAN dari kelompok semut yang menikmati jamuan pada jejak mug”.
Kelompok ini tidak harus bersusah payah untuk menikmati jamuan yang saya berikan, karena jamuan yang diberikan seadanya, yaitu rasa manis yang ditinggalkan mug. Rasa manis ini meskipun sedikit. Namun membuat mereka tidak lupa diri, tidak membuatnya bersusah payah untuk mengejar sesuatu yang lebih “wah”. Bukan tidak mau, namun jika apapun yang dirasakan sudah cukup. Kenapa harus meminta lebih. Demikian adanya saya, anda dan juga mereka yang senang dengan kesederhanaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, bisa jadi diantara kita ada yang cukup menikmati profesi & jabatan dengan modal pengetahuan serta skill yang dimiliki seadanya. Tentunya dengan tetap belajar agar kemampuan ini terus bertambah sesuai perkembangan dan mengikuti perkembangan zaman. Its all we are!

Seringkali kita ini dihadapkan banyak peluang untuk menikmati banyak pilihan hidup yang serba wah, yang kadang membuat kita lupa diri. Padahal bersikap sederhana, menikmati hidup yang sederhana dan mensyukuri yang sederhana jauh lebih istimewa. Rahmatan lil alamien…









24 Comments
budi
May 9th, 2009
rahmatan lil alamien….
setuju banget
Harsa
May 9th, 2009
wah pak De dapet inspirasi dari “temen” dinnernya
… saya merenung dari foto dan tulisan pak De yang bagian “ketamakan dari sekelompok semut yang nekat memanjat mug”… semoga kita semua tidak seperti semut2 yang dalam mug itu ya pak De… ngeri juga..berhasil dapat yang lebih tapi ga bisa membawa apa2 kepada orang yang kita sayangi..
Ikkyu_san
May 10th, 2009
wah pak de… bener-bener mengamati dan merangkaikan jadi pemikiran yang inspiratif sekali… salut pak de.
Muzda
May 10th, 2009
Oo .. Iya yaa ..
Hehee …
Nafsu yang terlalu dituruti akan mencelakakan.
Demikian juga dengan usaha keras tanpa pengetahuan cukup akan membawa kehancuran.
Tapi PakDe, kenapa semutnya gak suka bolu, apa karena kurang manis ? Di tempat saya air putih aja dirubung semut tu

novnov
May 10th, 2009
duhhh hebat euyyy sampe merhatiin segitunya hehehe, tapi bukan pakde yg disemutin ya?..oh berarti tandanya pakde samasekali tak manis…..
anas
May 10th, 2009
Dekri ? semut pertama diberi nama “Z” ya, tugas berikutnya minta tolong tuh semut ke kelompoknya yang makan bolu ?
Ade
May 10th, 2009
pakde bisa baca pikirannya semut yaa.. hehehehe baca postingannya pak de serasa masuk ke dunia semut
nora tambuse
May 10th, 2009
Dua paragraf terakhir memberi kesejukan hati…
sawali tuhusetya
May 10th, 2009
Deskripsi pakDE ttg semut bener2 mengagumkan, hehe ….. berdasarkan ulah semut, ternyata ada nilai2 filosofis yang bisa dijadikan sbg bahan refleksi. di negeri ini kayaknya makin banya tuh sosoknya yang berperilaku seperti semut yang suka memanjat di tempat ketinggian, tapi lupa ndak menengok lagi ke bawah. bahkan terus2an menengadahkan ajah ke langit.
ceznez
May 10th, 2009
hmmm.. pakde melihat semut.. trus menganalisa.. trus belajar dari tingkah mereka ya? wah.. bijaksana sekali memetik hikmah semut2 itu
nina
May 11th, 2009
pakde… maren nina gak bisa buka blognya… hehehehe.. maklum gaptek…. hheeeeee. peace back…
nina
May 11th, 2009
semutnya lucu pakde.
AFDHAL
May 11th, 2009
wuihhh inspiring banget pakde…
**Bersikap Sederhana**
Yari NK
May 12th, 2009
Semutnya nggak suka bolu karena bolunya udah kena ilernya pakde. Huehehe….
Btw, saya kangen loh sama pakde……
Ocehanburung
May 12th, 2009
Ditangan pak de ini, hal kecil bisa jadi pelajaran besar ya…
salut… saya pun selalu demikian…
salam…
itempoeti
May 12th, 2009
Hebaaaattt…
Membaca yang tak tertulis… Belajar dari yang tersirat…
Yari NK
May 13th, 2009
Pakde ini sebenarnya semut atau tupai merah (Sciurus vulgaris) seh?? Kok fotonya di FB Sciurus vulgaris seh??
masnur
May 15th, 2009
mantab pak ulasannya tentang semut.
HumorBendol
May 16th, 2009
Ada Gula ada Semut kan Pakdhe?

Pengamatannya jitu banget deh…
Nug
May 19th, 2009
Hm..
Benar sekali…
Sesungguhnya banyak sekali keistimewaan dibalik kesederhanaan…
Bahkan banyak sekali ‘kebahagiaan’ dibalik kesederhanaan…
Dan, banyak sekali ‘keberhasilan’ dibalik kesederhanaan..
Nice posting sahabatku..
habibie reza
May 19th, 2009
Sejak kecil saya suka cerita binatang,

Senang sekali baca cerita ini, hehe Cerita indah yang sangat saya suka, penuh makna dan pelajaran besar lagi.
Baru pertama landing di sini, salam kenal PakDe, ‘lam kenal semuanya.
deeedeee
May 20th, 2009
dari semut kita bisa belajar byk hal…
isnpiring, PakDe…
Tuti Nonka
May 23rd, 2009
Semut hitam biasanya dijadikan simbol kerja keras. Kalau semutnya Pakde ini, semut ngangrang, simbol apa ya? (wah, rumah Pakde mungkin perlu disemprot nih, biar nggak dirambah semut)
esha di birulangit
Jun 9th, 2009
Gula itu manis pakdhe….manis itu memabukkan..saya seneng yang pahit aja…..jamu menyehatkan…….
Leave a Comment