“Making Love” with Feature

by theKRY™ on 29/06/09 at 9:55 pm

Part Two.
Feature On Radio.

fffSebelum masuk dapur produksi, naskah feature yang di tulis tentunya harus dibuat sebagus mungkin, agar feature memiliki kesan sangat istimewa. Nah yang paling penting untuk diperhatikan adalah dalam pembuatan tulisan berjenis feature ini harus memperhatikan LEAD. Kekuatannya ada di sana. Lead ibarat pembuka jalan. Jadi harus benar-benar menarik dan mengundang rasa penasaran pendengar untuk terus membaca. Sebab, gagal dalam menuliskan lead pendengar bisa ogah meneruskan membaca. Nah, gagal berarti kehilangan daya pikat. Itu sebabnya, penulis feature harus pinter betul menggunakan kalimatnya. Bahasa harus rapi dan terjaga bagus dan cara memancing itu haruslah jitu. Memang sih, nggak ada teori yang baku tentang menulis lead sebuah feature. Semuanya berdasarkan pengalaman dan juga perkembangan. Saya modifikasi dari perkembangan yang saya lihat di berbagai media massa dan sedikit teori umum tentang itu. Namun, sebagai garis besar beberapa contoh lead bisa disebutkan sebagai berikut:

Lead Ringkasan:

Lead ini hampir mirip dengan berita biasa, bedanya, yang ditulis adalah inti ceritanya. Banyak penulis feature menulis lead gaya ini karena gampang.
Misal: Usia tua bukan halangan bagi Bu Latri untuk tetap bertahan jualan gado-gado di kantin sekolah kita. Ia, dengan semangat tinggi bertekad menghidupi anaknya agar bisa sekolah seperti yang lain. Dan seterusnya…. pendengar sudah bisa menebak, yang mau diceritakan adalah penjual makanan bernama Bu Lastri yang sudah tua.

Lead Bercerita:
Lead ini menciptakan suatu suasana dan membenamkan pendengar seperti ikut jadi tokohnya.
Misal: Anak berseragam putih-abu itu menenteng balok kayu. Sorot matanya tajam bagai elang mengincar mangsanya. Sejurus kemudian ia memberi komando untuk menyerang lawannya dari sekolah lain. Tawuran pun tak bisa dihindari lagi. Warga sekitar kejadian, yang kebanyakan ibu-ibu ketakutan menyaksikan drama itu… pendengar masih bertanya apa yang terjadi. Padahal feature itu bercerita tentang maraknya tawuran pelajar yang selama ini selalu bikin resah.

Lead Deskriptif:
Lead ini menceritakan gambaran kepada pendengar tentang suatu tokoh atau suatu kejadian. Penulis yang hendak menulis profil seseorang, biasanya seneng banget bikin lead kayak begini.
Misal: Sesekali wanita tua itu mengelap keringatnya yang mengucur dengan ujung kebayanya, ia terus mengulek bumbu pecel. Sementara anak-anak sekolah sibuk berebutan membeli gorengan di kantin sekolah itu. Meski banyak anak yang suka curang dengan tidak membayar dagangannya, Bu Lastri tak pernah ambil pusing, “Mungkin dia tidak punya uang”, katanya suatu saat….. dst.…pendengar mudah terhanyut oleh lead begini, apalagi penulisnya ingin membuat kisah Bu Lastri yang bak pelangi.

Lead Pertanyaan:
Lead ini menantang rasa ingin tahu pendengar, asal dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar saja. Lead ini sebaiknya satu alinea dan satu kalimat, dan kalimat berikutnya sudah alinea baru.
Misal: Untuk apa mereka berjihad ke Irak? Memang ada yang sinis dengan dibukanya pendaftaran relawan untuk berjihad ke Irak, menyusul invasi AS dan sekutunya ke negeri seribu satu malam itu 20 Maret lalu. Bahkan pemerintah pun menanggapi dingin rencana tersebut bahkan ada yang pejabat yang mengatakan “konyol” terhadap rencana tersebut…dst….pendengar kemudian disuguhi feature tentang rencana relawan yang akan berjihad ke Irak.

Lead Nyentrik:
Lead ini nyentrik, ekstrim, bisa berbentuk puisi atau sepotong kata-kata pendek. Hanya baik jika seluruh cerita bergaya lincah dan hidup cara penyajiannya.
Misal:
Ganyang Malaysia!
SELAMATKAN AMBALAT!!
Teriakan itu bersahut-sahutan dari ribuan pendemo di depan Kedubes Malaysia dalam unjuk rasa menentang Malaysia menguasai Ambalat …. dst…. dengan lead seperti ini, pendengar akan disuguhi feature tentang tuntutan para pengunjuk rasa tersebut.

Lead Menuding:
Lead ini berusaha berkomunikasi langsung dengan pendengar dan ciri-cirinya adalah ada kata “Anda” atau “Saudara” (bisa juga Anda). pendengar sengaja dibawa untuk menjadi bagian cerita, walau pendengar itu tidak terlibat pada persoalan. Misal: Anda jangan bangga dulu punya BB oke. Meski kemana-mana nenteng BB yang fiturnya seabrek, boleh jadi Anda buta tentang teknologi telgam ini dst….

Lead Kutipan:
Lead ini bisa menarik jika kutipannya harus memusatkan diri pada inti cerita berikutnya. Dan tidak klise.
Misal: “Saya akan terus berjuang sampai titik darah yang penghabisan. Lebih baik mati daripada menanggung derita karena dijajah Israel,” kata seorang pemuda Palestina dengan lantangnya saat membakar bendera Israel di Tepi Barat dalam sebuah demonstrasi yang digelar ratusan pejuang Palestina itu… dan seterusnya. pendengar kemudian digiring pada kisah perjuangan rakyat Palestina.

Lead Gabungan:
Ini adalah gabungan dari beberapa jenis lead tadi.
Misal: “Saya tak pernah merasa gentar menghadapi serbuan Malaysia” kata Amin Rais dalam pidato yang berapi-api itu. Ia tetap tersenyum cerah dan melambai-lambaikan tangannya di hadapan ribuan rakyat di sela-sela pidatonya itu…. Ini gabungan lead kutipan dan deskriptif. Dan lead apa pun bisa digabung-gabungkan.

Nah, setelah kita membuat lead, jangan lupa membuat isinya, yakni yang disebut dengan “Batang Tubuh”. Lead yang menarik, tentu harus didukung dengan batang tubuh yang oke juga. Tapi yang jelas fokus cerita jangan sampai menyimpang. Buatlah kronologis, berurutan dengan kalimat sederhana dan pendek-pendek (lihat tip ke-8, “Hindari Kalimat Raksasa”). Terus deskripsi, baik untuk suasana maupun orang (profil) mutlak untuk pemanis sebuah feature.

Kalau dalam berita, cukup ditulis begini: Bu Lastri penjual makanan yang sabar di kantin sekolah kita. Paling hanya dijelas kan sedikit soal Bu Lastri. Tapi dalam feature, Anda dituntut lebih banyak. Profil lengkap Bu Lastri diperlukan, agar orang bisa membayangkan. Tapi tak bisa dijejal kayak begini: Bu Lastri, penjual makanan di kantin sekolah kita, yang sudah tua dan menjanda, umurnya 50 tahun, anaknya 6, rumahnya di Tanah Abang, tetap sabar. Walah, itu mah kurang greget atuh. He..he..

Anda harus memecah data-data itu. Misalnya, alinea pertama cukup ditulis: Bu Lastri, 50 tahun, penjual yang sabar. Lalu jelaskan tentang contoh kesabarannya. Bu Lastri yang sudah tua tak kenal lelah berjualan, untuk menghidupi keenam anaknya yang sebagian masih berusia remaja. Di bagian lain bisa ditulis: “Demi anak-anak, saya rela membanting tulang kerja keras” kata wanita yang ditinggal mati suaminya 8 tahun lalu dan kini tinggal di sebuah rumah di kawasan Telanai pura Jambi. Dan seterusnya.

Bagaimana dengan Anekdot? Ini perlu juga untuk sebuah feature. Tapi jangan mengada-ada dan dibikin-bikin ya? Jadi nggak menarik nantinya. Kutipan ucapan juga penting, agar pendengar tidak jenuh dengan suatu reportase. Nah, detil penting tetapi harus tahu kapan terinci betul dan kapan tidak. Misalnya, Bis itu masuk jurang dengan kedalaman 15 meter lebih 40 centi 8 melimeter…, apa pentingnya itu? Sebut saja sekitar 15 meter.

Beda dengan yang ini: Gol kemenangan Sriwijaya dicetak Anoure Richard Obiora pada menit ke 44, ini penting. Sebab nggak bisa disebut sekitar menit ke 45. Kenapa? Karena menit 45 sudah setengah main. Dalam olahraga sepakbola, menit ke 41 beda jauh dengan menit ke 35. Bahkan dalam atletik, waktu 10.51 detik banyak bedanya dengan 10.24 detik. Belum lagi ngitung waktu dalam arena balapan F1, seper sekian detik juga akan diperhitungkan. Tul nggak?

Oya, ‘kecanggihan’ lead dan batang tubuh tidak akan sempurna kalo tidak ‘ending’ (penutup). Kalo dalam berita malah tidak ada penutup. Untuk feature paling nggak ada empat jenis penutup. Pertama, penutup “Ringkasan”. Sifatnya merangkum kembali cerita-cerita yang lepas untuk mengacu kembali ke intro awal atau lead. Kedua, penutup “Penyengat”. Jadi, membuat pendengar kaget karena sama sekali tak diduga-duga. Misalnya, menulis feature tentang gembong pelaku curanmor yang berhasil ditangkap setelah melakukan perlawanan. Kisah sudah panjang dan seru, pujian untuk petugas polisi sudah datang, dan sang penjahat itu pun sudah menghuni sel tahanan. Tapi, ending feature adalah: Esok harinya, penjahat itu telah kabur kembali. Woalaaaah!

Ketiga, penutup “Klimak”. Ini penutup biasa karena cerita yang disusun tadi sudah kronologis. Jadi penyelesaiannya jelas. Keempat, penutup “Tanpa Penyelesaian”. Cerita berakhir dengan mengambang. Ini bisa taktik penulis agar pendengar merenung dan mengambil kesimpulan sendiri, tetapi bisa pula masalah yang ditulis memang menggantung, masih ada kelanjutan, tapi tak pasti kapan. Misalnya: Entah sampai kapan perebutan Ambalat ini akan berakhir.

Well, mudah2an dengan ringkasan dua tulisan ini temen2 bisa mencari ide untuk bahan penulisan dari kehidupan sehari-hari, berita aktual, kehidupan seseorang, dan peristiwa lainnya. Ingat, yang terpenting ada newspeg, alias cantelan berita, karena feature bukan fiksi. Ia fakta yang ditulis dengan gaya mirip fiksi. Banyak hal yang bisa ditulis dengan gaya feature. Untuk menambah wawasan dan mengasah keterampilan temen2 semua, seringlah membaca tulisan orang lain dengan gaya penulisan feature. Pelajari, dan buatlah dengan gaya bahasa sendiri. S

Semoga bermanfaat!

Bookmark and Share

Top Post

22 Comments

dobleh yang malang

Jun 30th, 2009

selamat malam Pakde
pa cabar?
salam hangat selalu

JAUHDIMATA

Jun 30th, 2009

bisa jadi tambahan buat referensi pak dhe
thx

Catur Ariadie

Jul 1st, 2009

wah lama banget baru update pakde, kemana aja??

Ikkyu_san

Jul 1st, 2009

simpan untuk dokumentasi jika kembali broadcast lagi hehhehe
 
EM

Mursid Access

Jul 2nd, 2009

arrtikel top markotop..
salam kenal yaa..

ILYAS AFSOH

Jul 4th, 2009

sedikit menyihir mungkin ya Pak de
agar pembukaan di awal mampu menahan lead untuk tidak pergi

Ikkyu_san

Jul 4th, 2009

Andre

Jul 5th, 2009

Wow..mirip pelajaran bahasa indonesia yah…hehehe…ternyata berguna juga buat nulis blog :P (padahal dulu gak demen banget ama yang namanya pelajaran bhs Indonesia)

Budi Hermanto

Jul 6th, 2009

Wew..
Jadi punya gambaran..
Bagaimana dunia pakde ya..
Hehehe..
Thx uda bagi2 ilmunya ya pakde.. :D

Eka Situmorang - Sir

Jul 9th, 2009

ho ho ho :)
tambahan ilmu lagi
thanks pakde :)

mamas86

Jul 9th, 2009

Wow… panjang banget pakde penjelasannya…. :D

HE. Benyamine

Jul 9th, 2009

Nah, ini 2 sks, jelas dan cair uraiannya. Oh ya, apa tulisan ini termasuk penutup “tanpa penyelesaian”, dengan judul sangat menarik “making love”.

Billy Koesoemadinata

Jul 14th, 2009

saya jadi keingetan waktu bikin operet pas masih jadi anak SMA dulu setelah baca postingan inih.. :D

alris

Jul 15th, 2009

Mantap, pak De. Saya setuju banget menulis harus dengan gaya sendiri. Masa jadi plagiator bangga, kan gak begitu semangat yang ingin disampaikan, ya. Seperti anak kuliahan mungkin ini pembahasan mata kuliah 2 sks tapi plus, plus…..

dobleh yang malang

Jul 21st, 2009

pakde pa cabar?
semangat lagi dong yah ok pakde!
salam hangat selalu

HE. Benyamine

Jul 21st, 2009

lagi liburan ya Pakde …

ayub9

Jul 21st, 2009

ia ne pakde kemana aja?
 
wah.. info yg menarik….
 
 
 

indra kh

Jul 25th, 2009

Kesan pertama harus menggoda :)

itempoeti

Jul 27th, 2009

serahkan pada ahlinya…
memang benar…, kalau ahlinya yang menjelaskan semuanya jadi gamblang…
Terima kasih atas ilmunya… :D

Mas Dhimas = Ibu Dodi

Jul 30th, 2009

Emang Penting banged , he he he , banyak yang membahas koq , kwak kwak …
kalo mau nikah mampir dulu ya ke sanggar rias kami di http://www.ibudodi.com
jadi iklan dech , he he he Rias Pengantin Ibu Dodi Melayani Jabodetabek
Esia 021 96969007 Flexi 021 3212 9007  call / sms di layani
salam,
Mas Dhimas = Ibu Dodi

Ria

Aug 2nd, 2009

Thanks Pak De’
bagus deh artikelnya :D Nambah tau Nambah Ilmu….

kelly amareta

Aug 3rd, 2009

kelly sampe melongo membaca penjelasan pakde
terinci banget seh
contohnya juga oke
jadi minder neh kalo musti adu nulis sama pakde :(

Leave a Comment

Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.