Pakde bertanya! Kenapa begitu Ya…?
by theKRY™ on 09/08/09 at 9:35 am
Kalau kita singgah disebuah masjid, apalagi kalau pas jumatan, pasti sering bertemu dengan kotak amal, bukan? Designnya tuh macem-macem, ada yang di kasih roda, agar pada saat dipindahkan dari satu orang ke orang yang lainnya nggak harus diangkat, serunya bentuk yang seperti ini cenderung mengundang anak2 yang biasa di ajak orang tuanya kadang iseng naikin kotak amal. Ada juga yang tanpa roda, ini malah harus dipindahkan dengan cara diangkat. Bentuk kotak amalnya sendiri ada yang menggunakan bahan kayu, ada juga yang terbuat dari kaca sehingga uang yang dimasukan jelas keliatan. Nah dua bentuk kotak ini menjadi perhatian pakde jumat lalu…. Ceritanya dua kotak amal yang berbeda tersebut disimpan ditempat yang sama lalu dipindahkan kedepan masing2 jemaah yang bersila. Kotak ini dipindahkan secara bersamaan, mulai dari barisan terdepan sampai ke jemaah yang ada dibarisan belakang. Masing2 jemaah berpeluang untuk menyisihkan sebagian sodakohnya kedalam kotak tersebut. Yang sempat mencuri perhatian pakde. Hampir dipastikan jemaah yang hadir pada sidang jumat kemarin lebih suka memasukan amalan jariyah ini kedalam kotak yang terbuat dari kayu, sehingga berapapun uang dimasukan tidak keliatan, alasannya macem-macem. Mungkin takut dibilang “sodakohnya koq sedikit?” he he he he… mungkin maksudnya menyembunyikan rasa malu dari jumlah sodakoh. Ini terlihat dari cara mereka memasukan uang ke kotak amal yang terbuat dari kayu itu, jika tangan kanan memasukan uang, maka tangan kirinya menutupi tangan kanannya rapat2, demikian sebaliknya, Sehigga berapa jumlah yang dimasukan tidak akan nampak.
Selesai memasukan uang kedalam kotak amal yang terbuat dari kayu, secara otomatis jemaah memindahkan kotak itu kepada orang disampingnya. Sekarang gilirannya kotak amal yang transfaran, apakah ikut diisi? mmmhhh… Kotak yang transfaran yang didalamnya banyak uang lembaran 1000an, 5000an, 10.000an, 20.000an, separuh dari kotak amal transfaran ini sudah terisi dengan lembaran uang kertas. Tapi hanya melintas diantara jemaah. Ketika posisinya dirollingpun, kotak transfaran lebih dulu sampai didepan jemaah yang bersila, tetap saja tak mau menyisihkan sebagian uangnya untuk memenuhi kotak amal transfaran. Why? Ini pertanyaan besar pakde. Padahal kedua kotak ini sama2 kotak amal bukan? Dan keduanya dijadikan media untuk beramal. Anehnya, hampir dipastikan semua lebih tergerak untuk menaruh uang di kotak yang tertutup.
Oya…kotak amal tertutup itu adalah kotak amal masjid yang nantinya akan digunakan untuk keperluan masjid. Kotak yang Transfaran ini dari panti asuhan. Diatasnya tertera jelas “Mohon untuk menyisihkan sebagian sodakoh saudara untuk Pantiasuhan A” alamatnya tertera jelas, bisa masuk ke wilayah masjidpun tentu tidak sembarangan, paling tidak ada DKM yang sudah memberikan izin memungut amal jariyah.
Sekarang saya jadi kepikiran, kadang2 kita mau beramal itu koq harus pilih2 ya… padahal dalam bentuk apapun jika itu dirasa baik dan ikhlas maka akan bernilai ibadah, tentang imbalannya? biarlah yang diatas yang menentukan!
~
Selesai jumatan, sipakde lunch sama temen diluar kantor. Naik mobil kantor ceritanya, tepat dilampu merah ada beberapa orang yang biasa mengais rejeki dengan cara meminta-minta. Kedua duafa itu langsung ketok2 kaca. Kemudian tangannya diulurkan berharap mendapat sebagian uang yang kita punya.
Lagi-lagi ini mencuri perhatian pakde. Sudah menjadi kebiasaan, jika tepat dilampu merah tangan pakde sibuk merogoh sebagian isi dompet. Jumlahnya? RAHASIA DOOONK. Intinya sipakde mau senantiasa berbagi dengan siapapun selagi punya. Nah, dilampu merah itu ceritanya si kaum duafa ini dengan wajah memelas bikin iba lah…, yang satu nggak bisa melihat yang satunya lagi bertugas memapah partnernya yang nggak bisa melihat. keduanya berdiri disamping sopir, beberapa detik, sopir mengambil uang parkiran yang biasa nyelip di samping daskboard sebelah kanan. Kaca dibuka, lalu diberikannya recehan logam itu dengan nilai rupiah yang dapat di tebak. Dalam posisi seperti ini tangan pakde sibuk ngambil dompet dari saku belakang. Nyari beberapa uang ribuan untuk diberikan, karena tidak ketemu, pakde merogoh saku kiri dan kanan. Didapatlah beberapa lembar lalu pakde berikan pada duafa yang masih menunggu jatah uang saku dari pakde. Pada saat pakde memberikan uang sisopir tiba2 berkata. ” Sudah pakde nggak usah! uang dari saya, sudah cukup koq!! Uang pakde simpan aja”. Saya pura2 nggak denger omongan si sopir, uang yang dipegang diberikan pada si duafa melewati bagian pundak sopir.
Lepas dari lampu merah. Si sopir masih menggerutu.
Sopir : “Pakde! jangan sering2 ngasih mereka… mereka tuh penghasilannya 3 juta perbulan. Mereka juga bukan orang sini!” Oalaaaaah… mulailah saya ceramahin tuh sopir.
Pakde : “Kalau bapak melarang saya, berarti bapak melarang saya untuk beramal donk? bapak pikir uang dari daskboard tadi apakah itu mewakili amalan saya? kan nggak!!! ” Uang bapak untuk bapak, yang dapat diamalkan untuk bapak juga. Uang saya ya bisa saya amalkan juga untuk amalan saya juga donk Pak!!”
Mukanya mulai memerah. Mobil masih terus melaju.
Sopir : “Bukan begitu pakde! Coba pakde hitung. Jika satu hari mereka ketemu 100 mobil, masing2 mobil ngasih seribu aja, jumlahkan jadi 100 ribu kan? hitung dalam satu bulan? jadi 3 juta kan? nggak harus mikir, nggak harus pusing seperti pakde!
Woalaaahhh sipakde makin marah disini.
Pakde : “Bapak mau jadi seperti mereka dengan penghasilan seperti mereka? lalu keahlian bapak mau dikemanakan pak? Drajat bapak mau disimpan dimana? Bapak iri dengan penghasilan mereka atau apa? Saya nggak mau mikirin mereka mau jadi apa! Selama itu baik bagi kehidupannya go a head! Tapi cara bapak melarang saya untuk sodakoh itu yang keliru pak! Saya kan dapat menilai siapa yang berhak saya beri siapa yang tidak… bapak punya kewajiban untuk beramal. Saya juga punya pak!” Urusan amalan saya sampai atau tidak? itu yang menilai yang diatas.
Tak berapa lama, kami tiba di restaurant. Muka saya masih kuyu kesal karena ulah sopir itu. Kami duduk bersama di meja makan. lalu membahas kejadian dilampu merah sambil menunggu teman pakde yang belum datang, saat itulah kata2 final saya keluarkan saya brainwas sopir sampai ia akhrinya memutuskan untuk makan didalam mobil saja. (padahal saya nggak meminta begitu).
Haruskah Teliti sebelum memberi??? “Atiiiittttt ati ini” orang mau beramal koq dilarang seh.









42 Comments
mas8nur
Aug 9th, 2009
Kalau mereka masih meminta-minta di pojok perempatan berarti ya memang cuma itu yg bisa dikerjakan. Kalo soal dapatnya banyak berarti ya rejekinya. Coba kalau berhenti ngemis kan lapar lagi. Artinya kalau masih ngemis berarti belum kaya.
Tahu lah……
anderson
Aug 10th, 2009
Sabar Pakde…sabar…
Saya setuju sama Pakde, beramal itu ngga usah kebanyakan mikir. Pas punya rejeki, pas ada yang membutuhkan, wusss…langsung klop, that simple.
Tapi banyak Pemda yang mengeluarkan ‘himbauan’ kepada pengendara untuk tidak memberi uang kepada peminta-minta di lampu merah. Gimana tuh Pakde?
nh18
Aug 10th, 2009
Hehehehe …
Betul Pak De …
Orang niat beramal itu … ya beramal saja …
Tanpa memikirkan untuk apa uang itu atau menghitung-hitung penghasilan si penerima “amal” tersebut …
Mengenai Kota Transparan ?
Mungkin mereka berpendapat … ini supaya tidak Riya’ …
Bukankah kalau bersedekah itu … tangan kiri pun tidak boleh tau berapa uang yang telah dimasukkan oleh tangan kanan … (dan sebaliknya )
Salam saya
HE. Benyamine
Aug 10th, 2009
Yap, memberi bukan untuk diingat-ingat lagi, berserah saja sama yang di atas sebagai penentu nilainya. Benar, masing-masing punya pandangan sendiri, siapa yang mau diberi dan dengan cara apa memberinya.
Tapi, sopir itu juga tidak salah, untuk mengemukakan pendapatnya jangan sering-sering, mungkin sang sopir juga punya penilaian siapa yang seharusnya menerima pemberian, dan itulah penilaian si sopir yang memang tidak harus diikuti.
rivanlee
Aug 10th, 2009
di dalam hadist nabi juga ada , intinya “barang siapa yang mengamalkan sebagian rejekinya , tak aka pernah habis harta yang diamalkannya” [sedikit lupa & ingat]
esha di birulangit
Aug 10th, 2009
Ketika hendak berangkat ke Jogja naik bus malam..seorang penjual barang masuk menawarkan daganganya….dan hasilnya tak satupun penumpang yang beli….di bawah..si penjual tadi bilang sama temannya,”mendingan ngemis aja dari pada jualan gak ada yang beli”.
Bersedekah barangkali soal lain..karena disitu ada unsur ibadah…….namun mengemis juga masalah mental dan strategi..di kota besar seperti jakarta..konon pengemis merupakan sebuah sindikasi yang dikoordinir seorang bos…dan si bos itu tentu saja beriontasi bisnis..karena memang cukup besar uang yang berdar di sana.
Pada prinsipny saya setuju dengan Pakdhe..bahwa memberi itu memang mesitnya tak berujung kepada apapun selain sebuah kemauan untuk berbagi….
Catur Ariadie
Aug 11th, 2009
wuiiihh..sabar pakde, tapi saya setuju sekali dengan pakde karena beramal itu urusan akhirat jadi tidak bisa ditawar-tawar lagi..
untuk pak sopir semoga dia sadar akan sifatnya yang skeptis mengenai hal ini.
em
Aug 11th, 2009
salut bwat PakDe.. tapi kok habis memberi amal marah-2..
kalo pak supir..berprinsip demikian.. boleh lah PakDe.. memberi pengertiannya dengan lemah saja nggak usah pake tarik urat..
ya sudah.. ber amalah.. sesering mungkin ya.. semoga Allah menerima amalan baik PakDekry….
Yari NK
Aug 12th, 2009
Wah… pakde… maaf ya pakde….. pakde mendadak sekali sih, saya nggak bisa ngubah skedul. Nanti lebaran, insya Allah kita ketemu/kopdaran. Pakde sms aja jadwal pakde ke Bandung beberapa hari sebelumnya. Insya Allah kita bisa kopdaran <strike>24 jam</strike> **halaah lebay**
Ade
Aug 14th, 2009
Sabar pakde..
orang sabar itu subur alias banyak rejeki jadi bisa banyak memberi juga hehehe
Rusa Bawean™
Aug 15th, 2009
hmmm

panjang banget pakde
Munawar AM
Aug 15th, 2009
ayo perbanyak shodaqoh di bulan ramadan yang segera datang….
jangan sama sekali tidak mengisi kotak amal, baik yang transfaran maupun yang tertutup; semua kelihatan oleh Allah SWT, asal kita ihlas….. 1000 rupiah Ihlas lebih bermakna ketimbang 10.000 tidak ihlas karena memilih kotak amal tranparan… hemmm
MERDEKA ……….
Kurotsuchi
Aug 15th, 2009
e saya lebih suka ngasih dalam kotak transparan… bukan perkara nominal, karena dalam berinfaq-bersodaqoh, saya usahakan agar tangan kiri saya tak tahu berapa yang disodaqohkan tangan kanan saya… apalagi sampe orang lain tau
ya menurut saya sih, saya punya duwa alasan kenapa saya lebih suka kotak kayu:
first, kotak amal dari kaca transparan malah bikin orang bisa jadi ndak ikhlas, bisa pula riya…
sec, ya itu tadi, pakdhe… soal kerahasiaan, karena amal bukan untuk diekspos atau dipertontonkan…
Taktiku
Aug 15th, 2009
Harus banyak sabar pak de…
Bisnis Online
Aug 16th, 2009
Widget di sebelah kanan tuh bagus banget pakde… yg ada bloggerpeduli tuh.
Rahim Rasyid
Aug 16th, 2009
tapi aneh nya kenapa di ibu kota kita ini dilarang memberikan sedekah ke pengemis di jalanan???
saya juga sering liat banyak yang seperti ini, tapi liat2 dulu….. klo mang dia ngemis buat dia, baru di kasih. tapi klo dia ngemis nya udah di organisir ma sekelompok orang, maaf maaf aja buat mereka
salam kenal
antown
Aug 17th, 2009
kotak amal kalo yg transparan saya jarang liat, kecuali yang dipasang di warung2 atau rumah makan gitu. yang bahan kayu kadang rada berat. ada isinya gak ya hehe
Rigih
Aug 17th, 2009
salam sayang pak de.
untuk kotak amal yg beredar,saya sendiri merasa kurang cocok. alasan utama ya karena mengganggu. itu jelas sekali bagi saya. ada sebuah hadist (yang maknanya) ‘jika kamu mengatakan diamlah pada sahabat disampingmu saat imam sedang berkhutbah,maka sia2lah kamu,sia2lah jum’at kamu’.
jika ‘menasehati’seseorang utk diam saja membuat sia2 pahala shalat jum’at, padahal itu termasuk amar ma’ruf nahi munkar, maka saya kira beredarnya kotak amal juga tak berbeda jauh.adakalanya yg disebelah bingung, apalagi ketika lewati tiang, ini diteruskan ato ke belakang saja.kemudian dg isyarat memberitahu orang di belakangnya.
adapun ttg memberi di perempatan lalu lintas, maka saya cenderung tidak menyukainya. bahkan konon katanya memang ada larangan utk melakukannya dari pemerintah. membentuk generasi malas katanya.
klo saya cenderung memilih dalam beramal. dalam artian,mana yang memang pantas. seperti syaikh albani juga ketika hendak membantu seseorang yg terlilit bunga, dia memerintahkan orang utk menyelidikinya dahulu.
sekedar pendapat pakde…
semoga berkenan..
Yari NK
Aug 17th, 2009
Thanks-nya, thanks ikhlas apa thanks ngambeg nih???? Huehehe…. just kidding!
yungchi
Aug 19th, 2009
Pak Deh Trims berat buat inspirasinya…..
:’( :’( :’(………….
Eka Situmorang - Sir
Aug 19th, 2009
bawa kipas angin..

kipas2 pakde biar adem
setuju soal kita semua berkewajiban beramal pakde…
setuju juga soal yang menilai sampe atau tidak itu urusan yang di atas (ngelirik atas, asanya bintang2 di langit hehehe)
Namun saya sendiri selalu sangat hati2 dlm memberi, agar tidak turut menjerumuskan si penerima dlm jurang kemalasan.
Anw, setiap kita punya cara masing2, bukan ?
KangBoed
Aug 20th, 2009
Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Jiwa yang Tenang
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll
yungchi
Aug 20th, 2009
Coba sama2 kita letakkan salah satu jari telunjuk tangan kita di tengah2 antara kedua mata kita… (arah jari vertikal tegak lurus). Lalu arahkah pandangan kita (bola mata kita) seadil-adilnya…. ( baca: pandangan lurus sempurna )… Cenderung berada di sisi manakah jari telunjuk tersebut. Pandangan kita ke jari adalah Ikhlas kita…. Setuju????? Ada yg belum ngerti???? Coba,rasakan, dan hayati……!!!
Btw gambarnya di rubah…? tetep nice….
Sukses selalu pakdeh.. Met menyambut bulan Ramadhan.. Met berpuasa… Mohon maaf lahir dan batin…..
ALRIS
Aug 20th, 2009
Emang susah untuk beramal ikhlas, ya. pakde. Ada aja cobaannya, kalo gak dari diri sendiri, ya dari orang lain. Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga amal ibadah kita di bulan ramadhan semakin meningkat, amin.
thevemo™
Aug 20th, 2009
Intinya ihklas pakde dan setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda.
nh18
Aug 21st, 2009
Mr Van De Kray
Dengan segala kerendahan hati
Trainer ingin memohon Maaf Lahir Bathin
Mari kita sambut bulan penuh berkah ini dengan Gembira
Salam saya
p u a k™
Aug 21st, 2009
Kadang-kadang aku juga sempat kepikiran seperti sopir itu. Itung2an, padahal kalau aku mau niat ngasih ya ngasih aja kan..
Tapi makasih pakde, sudah mengingatkan lagi..
Selamat menunaikan ibadah puasa ya..
mursid
Aug 21st, 2009
Yang sabar ya pakdhe…
Yang penting sekarang khusyuk beribadah di bulan Ramadhan…
AFDHAL
Aug 22nd, 2009
SEPAKAT PAKDE…
BERAMAL TIDAK BOLEH DILARANG…
kasarannya SUKA-SUKA GUE KAN…urusan diterima tidaknya, itu mah urusannya yang diATAS
betul kan pakde??? betul kan??
yungchi
Aug 25th, 2009
MUI mengeluarkan fatwa haram untuk para GEPENG alias para peminta-minta,alias para pengemis di jalan. Bagaimana pendapat Pak de dan teman2???
dinda27
Aug 25th, 2009
Sy bingung mau jawab apa. Karena ada banyak kejadian menyertai.
Dan cukup membuat geleng kepala. Biarlah jadi renungan hati.
juga dengan artikel PakDe.
Kemarin sempat mampir dan cermati foto yg terpajang.
Dari langit hingga sinar lampu. Wow sy suka banget.
Selamat tunaikan ibadah puasa. Maaf lahir bathin.
yungchi
Aug 26th, 2009
Wah setuju banget pak de kalo dibicarakan di forum tentang fatwa haram MUI pada kaum pengemis. Hmmm masalahnya bukan harus bilang2 MUI kalo kita mau beramal.. tapi MUI sebagai Lembaga/Majlis tertinggi umat islam yg membuat fatwa tentang haram/tidaknya sesuatu. Nah kalo MUI sudah mengeluarkan fatwa haram untuk kaum pengemis,kita sebagai masyarakat apakah perbuatan kita nanti ketika beramal kepada pengemis atau kaum duafa yg ada di pinggir2 jalan menjadi perbuatan HARAM JUGA??? Bener gak????? Atau seakan para dermawan yg suka menyedekahkan hartanya kepada mereka sama saja telah menjaga/menyuburkan/menghalalkan pekerjaan(pengemis) yang telah diharamkan oleh MUI. Bagaimanakah menurut pak de dan teman2?????
indra kh
Aug 26th, 2009
Memberikan sesuatu yang baik adalah sifat mulia, dan hak asasi, jadi jangan dihalangi. Kitu kan Pakde?
Blog kebon jeruk jambi
Aug 27th, 2009
hem…emang sulit pakde bagi kita untuk membedakan mana yang peminta beneran n mana yang cari keuntungan. klo masalah kotak amal yang terbuat dari kaca kayaknya bikin orang yang narok sadakoh dikit bakal minder n sebaliknya yang besar akan menepuk dada, ya walau ga semua sih…ada yang bilang saat tangan kanan memberi tangan kiri ga boleh tau…jadi bingung euy liat dunia sekarang
sewa mobil
Aug 27th, 2009
gak perlu bingung, selama kita ikhlas memberikan sebagian rezeki kita kepada pengemis.
lintang tegar
Aug 27th, 2009
pak de, kalo ngasih ke Anak Punk yang seringa ngamen di angkot itu sedakoh kah?
kidungjingga
Aug 27th, 2009
bulan puasa yang ngemis makin banyak pakde, kotak amal juga… kesempatan shadaqahnya makin banyak ya pakde….
coretanpinggir
Aug 28th, 2009
Kalau ngasih pengemis di jalan biasanya saya liat dulu, kalau secara fisik orangnya masih muda, kokoh dan gak cacat saya tidak akan kasih, tapi sebaliknya saya akan usahakan kasih uang.

Mengenai kotak infak saya pernah temui di suatu mesjid yg kotak infaknya bagian atas dibuat terbuka kemudian disekat-sekat sesuai peruntukannya, ada yg untuk yatim, mesjid dll… Asyiknya kita bisa mengambil kembalian langsung dari dalam kotak tsb, tentu saja dengan memasukan uang yang lebih besar terlebih dahulu
Mus
Aug 28th, 2009
Pakde! Putera merangin ini sangat mengharapkan bantuanmu
JAUHDIMATA
Aug 29th, 2009
mengapa harus dilihat.
beramal ya amal saja.
urusan dia mau diapakan uang itu.
yang penting beramal.
semoga pak sopirnya cepat sembuh dari penyakit iri dan dengki
hehehehe
adicahblora
Aug 30th, 2009
beraamal selagi punya.. aku seneng sekali dengan kalimat ini. mumpung kita masih hidup kita harus punya tabungan buat di akhirat, jangan di paypal doang..!!
Siti Fatimah Ahmad
Aug 31st, 2009
Assalaamu’alaikum..
ya..saya juga sering berkata demikian.. terima kasih atas infonya. Sungguh menarik sekali. Mungkin itu cara paling mudah untuk memberi ruang kepada kita untuk beramal. mudahan segala amalan kita diterima Allah swt walau dengan apa cara sekalipun ruang untuk kita melakukannya. Selamat berpuasa dan salam mesra selalu.
Leave a Comment