Gak Cuma Golden Voice Pakde!

by theKRY™ on 31/08/09 at 3:32 am

goldenvoice2Seberapa banyak orang disekitar temen2 yang memiliki suara merdu dan fals? Berapa banyak dari mereka yang lolos masuk mengikuti audisi yang berhubungan dengan kehebatan vocalnya? Sudah tentu banyak jawara2 yang bermunculan karena suaranya bagus bukan? Dan banyak pula yang terdepak karena suaranya tidak kualified.  Banyak orang terlahir dengan memiliki suara indah. Namun, kebanyakan dari kita harus bekerja keras untuk menjadi penyiar profesional. Lagi pula, jadi penyiar profesional tidak cukup bermodal suara emas (golden voice), tapi juga perlu modal lainnya, seperti wawasan, sense of music, dan sense of humor.

Pentingkah WAWASAN?
Penyiar harus berwawasan agar siarannya hidup, dinamis, berisi, dan tidak monoton. Kosakata, varietas kata, ini akan melengkapi kemampuan improvisasinya, Salah satunya dengan gemar membaca. Penyiar itu harus “SEDIKIT TAHU BANYAK HAL” Nggak harus serba tahu segala hal, namun ketika kita diajak bicara tentang “A” kita tidak akan ketinggalan obrolan tentang “A”. Bayangkan jika kita diberi tema siaran oleh script writer dengan tema FACEBOOK, sementara kita tidak ngerti sama sekali tentang fesbuk, punya account FB pun tidak (hare geneeeee). Bisa jadi materi obrolan yang disampaikan hanya sebatas READ & READ sesuai dengan materi siaran yang di siapkan script writer tanpa improvisasi.

Betapa ribetnya jika suatu saat, penyiar berdialog dengan nara sumber dengan tema “Perahu Kajanglako Untuk Promosi Wisata Jambi” Sementara sipenyiar tidak tahu tentang kajanglako itu sendiri? Maklum di searching di wa google Kajanglako sendiri belum muncul, perahunya seperti apa bentuknya gambarnya pun susah dicari, setahu yang pernah saya baca Kapal Kajanglako merupakan kapal penjelajah, yang ditumpangi Ratu Jambi Pertama, Putri Selaras Pinang Masak, Terbayang kan, kalau sama sekali penyiar tidak tahu Kajanglako? Bayangkan jika dalam obrolan Kajanglako ini, obrolan narasumber akan mengarah pada bentuk promosi wisata Jambi agar Kajanglako tidak di klaim sebagai milik Malaysia (Misalnya). Harus nyara info tambahan tuh!! Paling tidak sipenyiar juga harus tahu betul klaim yang saat ini terjadi antara Malaysia dan Indonesia. Syukur2 bisa mengiukuti perkembangan informasi tentang klaim-klaiman ini seluruhnya… Next.

Perlukah SENSE OF MUSIC?
Jelas!! Penyiar harus memiliki sense of music yang tinggi. Soalnya, tugas penyiar bukan hanya mutar lagu-lagu, tapi mesti paham juga tentang jenis musik yang diputar diradio yang bersangkutan, alat musik, dan artisnya. Semua jenis musik harus kenal, idealnya begitu. Mengingat banyak radio yang hanya memutar beberapa jenis lagu, tugasnya jadi lebih ringan, setidaknya ini akan membantu penyiar belajar menciptakan atmosfir pada saat siaran.

Perlukah SENSE OF HUMOR?
Jelas dooonk, Penyiar juga harus humoris, punya bakat menghibur. Bakat itu diperlukan karena profesi penyiar radio dituntut mampu menghibur pendengar. Lagi pula, radio identik dengan hiburan (entertaintment). Bayangkan jika setiap hari You & You siaran monoton cari selamat, ngomong datar tanpa ada sedikit obrolan yang dapat menghibur pendengar. Bisa-bisa pendengar pindah chanel. Humor yang seperti apa? humor yang cerdas yang bukan copasan, dulu parodi terkenal, sekarang agak dicibir. Orang lebih senang dengan kelakar yang spontan dan natural. Jika masih jaim, coba belajar ngejoke. Lambat laun akan terbiasa dan akan mejadi pelawak. Syukur2 bisa melawak. Tapiiiii, inget nggak semua program itu dijadikan bahan lawakan. Ada momentnya dimana kita harus melawak.

BAHASA TUTUR
Bahasa yang digunakan siaran harus menggunakan bahasa tutur, bahasa percakapan (conversational language), demikian juga naskah berita atau iklan.
Bahasa tutur yaitu bahasa yang dipakai dalam pergaulan sehari-hari yang mempunyai ciri khas:
(a) kalimatnya sederhana, singkat, kurang lengkap, tidak banyak menggunakan kata penghubung; dan
(b) menggunakan kata-kata yang lazim dipakai sehari-hari (spoken words).

modalDidalam bahasa tutur, lagu kalimat (infleksi, inflection) memegang peranan penting. Tanpa bantuan lagu, orang sering mengalami kesukaran dalam memahami bahasa tutur. Bahasa tutur ini sama pentingnya dengan artikulasi atau pronounciation (pengucapan kata), intonasi (nada suara atau irama bicara), aksentuasi (logat, dialek, stressing), dan speed (kecepatan berbicara, tempo). Keempat modal dasar ini harus sudah tertanam dibenak temen2 yang berminat menekuni dunia broadcast secara profesional.

Bookmark and Share

Top Post

7 Comments

yungchi

Aug 31st, 2009

Ehm.. ehm… kata temen2 suaraku berkarakter dan bagus (narsis abis…).. tapi gak berani tampil….(cuma berani berkoar di meeting kantor) untuk 4 modal dasar yg dibilang pek de kayaknya lengkap tuh,… ( ampun jangan ditimpukin……. ). Sudah satu tahun menjadi Wakil Manajemen Mutu di salah satu perusahaan swasta di jakarta.. dan ku gunakan suaraku untuk meluluhkan temen2 yang bandel alias lalai menjalankan sistem manajemen mutu yg berlaku… Dan ternyata ampuh lho…. he he…

nh18

Sep 1st, 2009

Bener Pak De …
Suara bagus doang …
Tanpa Wawasan, Tanpa Humor, Tanpa Sense of Music …
dan tanpa ke santunan …

Jaaahhh BT kale dengerinnya …

Soalnya ini kan Broadcasting … Bukan Private Line ? hehehe

Salam saya Pak De

nh18

Sep 1st, 2009

YESSS !!!

s kecil = ganteng
S besar = gorilla

vizon

Sep 1st, 2009

kalau begitu, saya kayaknya gak bisa menjadi penyiar pakde…
suara, jelas jauh dari kata “golden”, apalagi ketiga syarat tersebut belum semuanya saya miliki.
kalau begitu, saya menjadi penikmat saja ya… :D

dendin

Sep 1st, 2009

saya sih yang penting asyik music itu untuk dinikmati so let it flow…….

Ikkyu_san

Sep 3rd, 2009

hihihi aku jadi teringat awal mula kerja di radio.
Waktu audisi, produser NHK hanya bilang, “Suara kamu bagus setelah lewat mike, beda dengan aslinya dan suaranya ada aura meneduhkan”. Alasan itu saja yang membuat saya akhirnya berkecimpung di radio. Wong awalnya siaran di acara mengajar percakapan bahasa Jepang.
Meskipun suara emas bukan satu-satunya syarat, tapi memang modal besar. Utada Hikaru sebelum populer menyanyi adalah DJ juga di radio kami dulu.
 
EM

Kurotsuchi

Sep 9th, 2009

hoooo… menarik, pakdhe! secara saya sering dengerin radio ~ dan emang kebanyakan mereka punya golden voice (syarat utama diterima sebagai penyiar kah?)

e tapi belakangan saya juga mulai merasa agak nggak sreg kalo mereka yang jadi pemandu acara hiburan audio itu cetek pengetahuannya, sering nggak nyambung dan kurang bisa mbanyol. jadi yaa saya bilang bahwa golden voide itu perlu, tanpa mengesampingkan wawasan yang tinggi, kemampuan memilih lagu yang cocok dengan tema acara atau dengan nuansa (mosok malam2 nge-trash metal?) dan dengan kemampuan menyajikan humor cerdas dan menggelitik…

btw, koq postingan terbarunya susah diakses ya? ada sebab apakah gerangan?

Leave a Comment

Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.