Pakde tampil sempurna!
by theKRY™ on 01/09/09 at 11:00 pm

Bagaimana mereka bisa hebat? Apakah penyiar-penyiar kondang itu tidak melalui proses perjuangan yang cukup panjang? Lalu, apa hanya dengan aji mumpung mereka terpilih untuk memandu sebuah acara? Secantik dan seganteng siapapun mereka itu, sudah tentu pernah mempelajari teori dibarengi praktek tentang bagaimana cara siaran atau berbicara didepan micropon. Kemampuan mereka menekuni dunia kepenyiaran ini tentu dibarengi dengan jam terbang yang tidak sebentar, sehingga penampilan mereka begitu sempurna.
Ingin seperti mereka? Sebelum bisa menyamai predikat mereka, setidaknya mari kita belajar memahami beberapa tekhnik dasar yang harus dimiliki seorang penyiar. Tekhnik dasar ini saya tujukan untuk temen2 yang ingin serius menekuni dunia broadcasting. Sengaja saya ulas, mengingat banyak talenta yang mumpuni namun selalu saya dengar gaya siarannya masih berantakan Suaranya emas.. namun bad air nya disetiap menit muncul. Bisa dikatakan atmosfir dan feelnya saat siaran nggak dapet.
Penyebabnya macem2. Salah satunya adalah perasaan Nervous saat berada diruang siar. Jantung ngedadak berdetak lebih cepat, keringat dingin, kerongkongan kering, mulut kelu, gemetar, ketika duduk nampak gelisah sekali, gambaran kondisi nervous seperti itu sangat berpengaruh bagi penyiar itu sendiri ketika akan mulai berbicara, konsentrasi naskah dibaca amburadul, mixing dengan perangkat siar nggak karuan. Tak jarang kisah seru seperti ini ditemukan dan terjadi pada setiap penyiar yang baru memasuki dunia broadcast. Meskipun di beri waktu untuk training, tetep saja… saat duduk di kursi panas… mulutnya ngedadak komat kamit nggak karuan… Saya sendiri pernah mengalami Nervous atau demam panggung seperti ini. Whateveh…sebutannya! Lalu bagaimana agar ketegangan semacam ini tidak muncul saat siaran?
Ayo RILEKS!
Penyiar adalah “pemain sandiwara” (performer) dan menghadapi tantangan yang sama dengan penyanyi atau aktor. Begitu di atas pentas, di depan kamera, atau di belakang microphone, kita tidak akan dapat memberikan penampilan terbaik kecuali jika kita santai (relax). Kondisi tegang biasa dimiliki oleh pemula, berusahalah untuk bisa tampil relax, tenggorokan tercekik (tight throat), leher tegang, dan pundak yang kaku, akan membuat kita tidak dapat mengeluarkan suara dengan baik.
KONSENTRASI donk Please!
Tidak ada pilot otomatis dalam siaran. Jika kita tidak mendengar apa yang kita katakan, tidak ada orang lain yang akan mendengar. Siaran yang baik membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi. Tidak mudah untuk mengatur nafas kita, memvisualkan pendengar kita, dan melaporkan cerita pada saat yang sama. Karena itu, relaksasi adalah kunci konsentrasi. Bagaimana agar rileks? Bukan dengan mengatakan pada diri kita, “Relax, fool, relax!” Relaksasi bukanlah soal psikologis, tapi soal fisik. Ia tidak dimulai di otak, tapi di badan. Relaksasi diperoleh melalui sebuah proses fisik berupa peregangan dan pernafasan. Jika tubuh kita rileks, emosi kita akan mengikuti. Sehingga suara yang dikeluarkan menjadi enak di dengar.
Belajar MENGATUR NAFAS!
Mati lemas atau kekurangan nafas (suffocation) adalah penyebab kematian nomor satu di kalangan penyiar. Banyak penyiar biasa terus menahan nafas selama bertutur. Nafas megap-megap tidak akan menghasilkan siaran yang bagus. Bernafas secara tepat adalah dasar siaran profesional. Disini butuh kerja sama dengan bagian script writer yang bertugas menyiapkan naskah siaran. Naskah siaran harus memberi kesempatan untuk bernafas. Ini sudah jadi keharusan scriptwriter dengan membuat tanda di mana dan kapan penyiar akan mengambil nafas. Untuk penyiar ketika menemukan tanda yang umum seperti “/” untuk koma dan “//” untuk titik. Gunakan itu sebagai peluang untuk menarik nafas. Ikuti instruksi yang ada dan bernafaslah saat kita melihat tanda itu.
Sikap badan yang baik dan dukungan dari diafragma kita, akan membuat tiap nafas bekerja lebih lama bagi kita. Ini tentu dapat dilatih dengan cara meratakan jari tangan dan tekan diafragma, rongga antara dada dan perut. Ketika kita mulai dengan suara rendah, tekan diafragma kita dengan tangan. Teknik ini akan memberi kita kekuatan ekstra.
Pada saat mengambil nafas melalui hidung, baiknya jauhkan mulut kita dari microphone saat menarik nafas. Jangan sampai tarikan nafas kita mengudara. Apa kata dunia kalau bengeknya terdengar diseantero jagat?
Oya… jangan lupa mempelajari cara orang berbicara saat ngobrol dan gunakan pola pembicaraan itu ketika membaca naskah. Sebagai contoh “Intiplah” pembicaraan orang di cafe. Perhatikan bagaimana dinamika vokal mereka berfluktuasi: lebih keras, lebih lembut. Juga perhatikan obrolan itu berubah-ubah arah dan bagaimana tingkat lagu kalimat range of inflection mereka melebar. Istilah dalam broadcast disebut INFLEKSI! seperti itulah relaxnya kita siaran… akrab dan santai.
Pandai-pandailah berVISUALISASI!
Hebatnya Penyiar radio berbicara kepada pendengar yang tidak terlihat. Secara simultan (bersamaan), sebagai penyiar kita berbicara kepada “t
idak seorang pun” atau talk to no one – karena tidak satu orang pendengar pun yang hadir secara fisik di depan kita dan kepada setiap orang talk to everyone karena pada saat mengudara didengar oleh setiap orang yang mendengarkan, mungkin ribuan pendengar. Saya menyebutnya “Talk to one one and eveyone!”
Penyiar radio juga sering sendirian di ruang siaran, tidak ada lawan bicara, hanya ditemani sejumlah “benda mati” komputer, mixer, Micropon dan sebagainya. Membentuk “Mental Image” tentang pendengar kita sangat penting untuk siaran terbaik. Berbicara kepada benda mati bukan saja tidak membangkitkan semangat atau uninspiring, tapi juga tidak realistis. Karenanya, saat siaran, Bayangkan, pendengar itu satu orang! Orang yang baru pertama kali berbicara di radio, sering secara salah memvisualkan pendengarnya membayangkan bahwa pendengar itu ribuan. Padahal, orang yang mendengarkan itu dalam kelompok berjumlah satu orang (in group of one). Ya, bayangkan pendengar itu satu orang!
Lalu bagaimana caranya agar kita bisa terkesan akrab dengan pendengar yang jumlahnya sekian ratus orang? Salah satunya adalah mengarahkan pikiran kita untuk “tetap fokus bahwa kita sedang BERBICARA KEPADA SATU ORANG!”.
Ingat hanya satu orang pendengar yang kita jadikan sebagai teman ngobrol. Bukan keseluruhan populasi pendengar. Bayangkan bagaimana kebiasaan kita ketika ngobrol dengan sahabat terdekat? Tanamkan pikiran itu dan fokuslah bahwa kita sedang ngobrol dengan sahabat terdekat dimana teman ini sekarang berubah wujud menjadi micropon. Berbicaralah layaknya kepada teman akrab intimate friend. Lihat wajah teman kita itu dalam “pikiran mata” mind’s eye kita. Nampak aneh memang, tapi inilah kunci utamanya. Pada saat kita berbicara talk to one person emosinya akan jauh berbeda dengan ketika kita sedang berbicara kepada banyak orang bukan? Membayangkan adanya seorang pendengar di depan kita, akan membantu kita berkomunikasi secara alamiah, gaya ngobrol atau conversational way. Disinilah uniqnya. Dan puncaknya keseluruhan populasi pendengar yang mendengarkan kita siaran akan seperti terasa sedang diajak bicara oleh kita. Ini akan membantu meraih populasi pendengar lebih banyak mendengarkan kita karena kita terasa akrab sekali diudara. Dampak dari kedekatan emosional ini akan memacu pendengar melakukan interaksi dengan kita di udara.
Ingin terdengar lebih akrab? Senyumlah, meski pendengar tidak melihat kita. Berbicara dengan senyum, akan terasa hangat, ramah, friendly, di telinga pendengar. Bayangkan ragam pendengar dan lihatlah bagaimana “mental image” ini mempengaruhi penyampaian kita. Sangat dahsyat bukan???
Jangan lupa untuk melakukan KONTAK MATA! Pandanglah seseorang sekali-sekali untuk melakukan kontak mata eye contact, meskipun hanya ada satu orang di ruangan siaran yaitu kita sendiri! kalau tidak ada orang lain… ambil photo seseorang pandanglah photo itu.
Siapapun kalau berbicara pasti menggunakan gerakan yang natural, entah itu “menggelengkan kepala” pada sat mengatakan “tidak”, atau “mengangguk” saat mengatakan “iya”. GESTURE! atau gerakan tubuh ini sangat membantu meskipun tidak ada orang yang melihat kita. kita adalah aktor. Ini sangat membantu kita ketika nanti berbicara di depan umum atau public speaking, jika kita punya mike portable atau wireless yang mudah dibawa, bergeraklah mengitari panggung itu sangat disarankan. Bayangkan kita adalah seorang aktor yang sedang “mentas” di televisi. Yang menjadi pusat perhatian public.
Kreatiflah dalam MENENTUKAN PILIHAN KATA!
Di radio, kita hanya punya satu kesempatan untuk membuat pendengar kita mengerti yang kita kemukakan. Di media cetak, pembaca akan mengulang bacaan pada bagian yang mereka tidak pahami. Di televisi, ada bantuan visual untuk memperjelas berita. Tapi di radio, yang dimiliki pendengar hanya suara kita. Karena itu, saat menyampaikan sebuah informasi, putuskan katak-kata mana yang menjadi kata kunci atau key words dan garisbawahi. Tiap kata memiliki nilai berbeda. Putuskan apa yang akan kita tekankan, di mana lagu kalimat atau inflection kita akan menaik dan menurun dan di mana kita akan bernafas. Biasanya, infleksi menaik kalau akan bersambung dan menurun jika akan berhenti.
Seberapa penting dengan LATIHAN!
Best voice requires experimentation. Seorang penyiar harus menemukan suara terbaiknya dan ini butuh eksperimen. Jika kita punya pilihan mikrofon, cobalah satu per satu untuk menemukan mike paling sesuai bagi kita. Beberapa mike dibuat untuk mendorong tinggi-rendah suara kita dan kita dapat menyelaraskannya sesuai dengan kebutuhan kita. Mintalah bantuan teknisi.
Cobalah dengan merekam suara kita dalam sikap tubuh yang berbeda, jarak antara mulut dengan mike dan tingkat proyeksi atau pengerasan yang berbeda. Jika kita sudah yakin bahwa suara kita sudah tepat posisinya, maka ingat setiap aturan jarak mike dengan mulut termasuk posisi tubuh harus kita ingat pula.
Semoga bermanfaat everybodeh!! ![]()









31 Comments
Jonru
Sep 2nd, 2009
Pak De, terima kasih banyak atas kiatnya yang sangat luar biasa. Saya lagi belajar jadi penyiar eh membuat rekaman tutorial, dan saya kira butuh kiat seperti ini agar bisa berbicara dengan bagus pada saat rekaman.
vizon
Sep 2nd, 2009
Kayaknya, teori di atas juga berlaku buat guru tuh Pakde… Soalnya, guru kan juga seorang performer. Dia harus memiliki kemampuan menguasai audiens-nya, yang dalam hal ini adalah murid-muridnya. Guru yang memiliki performance ability yang baik, kemungkinan besar akan disukai oleh murid-muridnya dan menyebabkan pelajaran yang dipegangnya akan terasa menyenangkan…
Tenkyu sudah berbagai Pakde
anazkia
Sep 2nd, 2009
Makasih pak de sharenya
meskipun bukan orang broadcasting tapi, ia sangat bermanfaat.
jidat
Sep 2nd, 2009
ayo semangat pakdhe..
mikekono
Sep 2nd, 2009
kalau ibarat politisi,

Pakde udah malang melintang
dan banyak makan asam garam
Pakde bisa segala, segala bisa
all-round…….
sewa mobil di surabaya
Sep 2nd, 2009
jadi ikutan bersemangat neh.
Rusa Bawean™
Sep 2nd, 2009
waduh

nambah ilmu banget
aku ingin bisa jadi penyiar
tapi sayang
gak bisa sama sekali
Ikkyu_san
Sep 3rd, 2009
hehehe membayangkan berbicara pada satu orang? memang susah.
kadang saya ajak teman masuk ruang studio, atau sambil membaca request per fax saya bayangkan wajahnya. Ini terlihat waktu proses rekaman dishoot untuk keperluan TV. Memang terlihat aneh seakan ada “invisible person” dalam studi selain kita.
Dan saya lebih susah lagi pak de, karena one man studio hihihi. Tangan musti sambil bergerak kemana-mana ambil CD, pasang sambil ngomong juga. butuh konsentrasi yang tinggi sekali.
Wuih jadi kangen kerjaan di studio nih… bener-bener kangen.
EM.
cah ndueso
Sep 3rd, 2009
ternyata ada ya. yang sempurna itu…
zee
Sep 3rd, 2009
Kiat-kiat yang bagus ya pakde.
Saya juga pernah ingin jadi penyiar (jaman abege dulu), bahkan pernah ditawarin lgsg jd penyiar. Tp waktu itu mendadak saya tidak pede, dan saya tolak tawaran itu…
thevemo™
Sep 3rd, 2009
Kalo master sudah siaran, beda banget….
nice tips master.
Sugeng
Sep 6th, 2009
Tips yang keren pakde. Mungkin tips ini akan aku aplikasikan saat menjadi MC pengajian kampung. Meski tingkat kampung kadang suara ini ikut bergetar dan keringat dingin keluar deras bak air bah saat aku di daulat tuk menjadi MC. Tapi pengalamanku menjadi MC kelas teri, pengetahuan materi sangat penting sehingga saat kehabisan kata2 kita bisa berimprovisasi. <strike>Ha…ha…dasar wong ndeso bru jadi MC kelas kampung aja sudah gemeteran</strike>
Eka Situmorang - Sir
Sep 6th, 2009
Saking hebohnya bervisualisasi kadang gak ngeh sama kenyataan yg di depan mata pakde
sampe lupa matiin mike sehingga suara nyanyi2 kedengaran deh and di sms sama penggemar
ahhahaa… pengalaman sapa ini yah
… peaceeeee
anw, thank u tipsnya pakde
Mahendra
Sep 6th, 2009
dapet lagi ilmu disini…
hihihihihihi…..
Tuti Nonka
Sep 7th, 2009
Saya bukan penyiar radio, tapi beberapa kali pernah diajak bicara tentang sesuatu topik. Memang betul, yang penting adalah konsentrasi, tetapi rileks. Kalau acaranya membuka tanya jawab melalui telepon langsung dengan pendengar, wah … agak nervous juga kalau ada pertanyaan yang di luar pengetahuan kita.
Thanks tipsnya, Pakde!
Omiyan
Sep 7th, 2009
membiasakan dan terbiasa tapi selain itu bakat alam juga pengaruh kali ya pak de.
Ratna
Sep 8th, 2009
Dari SD sampai SMA saya bercita-cita jadi penyiar radio. Makanya saya sering rekam suara saya pleus diselipin lagu-lagu dan berita. Tapi seiring umur bertambah, saya sadar gak punya ‘golden voice’ dan intonasi bicara saya yang terkesan jutek n galak kayaknya gak qualified buat dinikmati telinga audience… Jadi, mundur teratur sajah…
Eka Tanjung
Sep 9th, 2009
Trims Pakde,
Tulisan yang sangat bermanfaat. Mungkin ada tambahan sedikit. Sebelum mulai siaran, persiapkan dengan baik.
Hadir di studio minimal 10 menit sebelum mulai.
Baca tekst (1 atau 2 kali) lantang, sebelum mulai. Terkadang ada kombinasi kata-kata yang bikin lidah kita kesleo, slip of the tongue
Latihan-latihan-latihan.. terus .
Semoga ada gunanya.
indra kh
Sep 9th, 2009
Trims tips-tipsnya Pakde, blog ini akan saya informasikan kepada adik saya yang juga menjadi penyiar radio di Bandung, agar dia bisa terus meningkatkan kemampuannya.
masoglek
Sep 11th, 2009
mangstab Pakdhe, semoga tipsnya bisa membantu saya mengatasi penyakit demam panggung saya
Amato
Sep 11th, 2009
dapet lagi ilmu disini…
hihihihihihi……..
JAUHDIMATA
Sep 11th, 2009
panjang dan lebar.
jelas dan tuntas.
meskipun tip-tip diatas adalah tip sukses jadi penyiar kondang.
tapi bisa diaplikasikan pada pekerjaan lainnya.
Rileks itu pasti, Konsentrasi itu harus, latihan sudah semestinya, nafas jangan ditinggalkan.
bervisualisasi ??? Nglamun yaa?? **halah***
haris
Sep 12th, 2009
dulu saya pernah belajar tentang konsep pengelolaan radio dan teknis radio, tapi sampai sekarang masih susah utk siaran. hi3. terima kasih!
brekele
Sep 14th, 2009
Nice articel …. makasih Pak De ilmunya aku sedot ….
genthokelir
Sep 15th, 2009
terima kasih pakDHE untuk ilmu dunia kepenyiaran yang tentu saja juga bermanfaat untuk berbicara di mana pun
oke sekali tips trik nya selamat berbagi dan terima kasih Pak Dhe
nggak lupa salam dari kami.
HE. Benyamine
Sep 16th, 2009
insya Allah bermanfaat … dapat tambahan lagi
zenovic
Sep 16th, 2009
cita-citaku tempoe doelo. pengen jadi penyiar radio dan hasilnya…???VOILA aku sukses ditolak mentah2, haaaaaaaaaaaaaaahhhaaaaaaaaa
thanks tipsnya pak de, gimana kalo kt buka kelas vokal utk calon MC, MC ato Penyiar.
siap tuh jadi panitianya, he..he..
btw, saya mau hunting pakde buat jadi edonser buku saya nih, rencananya sih abis lebaran. mau ga?
mau ya…
mau ya…
(kemudian pak de mengangguk setuju….YIHaaa!!)-ngarep!, hiks
zenovic
Sep 16th, 2009
tanya pakde:
kalo pas ngemsi di event out n indoor ,pandangan kita kemana neh?
kalo ngeliatin satu orang dikirain tar jellalatan lagi, naksir apa?huahaaaa.gawat kan.
makacih before ye…
Reva Liany Pane
Oct 29th, 2009
Wah, tulisan ini akan sangat bermafaat kalau saya nanti siaran lagi (masih punya cita-cita utk kembali ke dunia radio soalnya). Jadi teringat waktu siaran tiba-tiba ada petir menyambar pemancar radio dulu, untung waktu itu saya tidak sedang menyentuh mixer!
PakDe masih siaran? Bisa streaming gak? Saya jadi ingin mendengarkan
sewa mobil murah
Nov 3rd, 2009
suara saya serak2 basah pakdhe
neyra
Dec 8th, 2009
wah tipS nya oKe banget… makasih Pakde
Leave a Comment