Haruskah Pakde Mudik?

by theKRY™ on 15/09/09 at 10:41 pm

moedikSudah pada mudik? Inilah kegiatan yang kerap dilakukan perantau/ pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Di kita, Mudik itu identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Lebaran. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, beruntung kita, karena tradisi mudik hanya ada di Indonesia. Sekali lagi mudik itu punya Indonesia…

Mudik sebentar lagi datang seiring tutup bulan Ramadhan tahun ini, tidak jauh-jauh dari pemandangan sebelumnya mudik masih saja diminati para perantau. Kenapa demikian, budaya kalau boleh dibilang begitu karena ya memang dari dulu sudah seperti itu. Namun jika ditanya dalam hati para pemudik pastinya ada alasan penting selain sekadar budaya yang tercipta karena kebiasaan saja.

Mudik boleh juga diartikan secara sederhana dengan sebuah proses untuk menelusuri dan mengikatkan diri kepada akar sosial kita. Entah anda ini seorang pejabat tinggi, direktur maupun pengusaha, ketika dirantau anda tetap saja Mr Nobody, tetapi dikampung halaman sendiri kita dapat menghayati kembali makna kedudukan sebagai adik, paman, keponakan, saudara ataupun anak.

Disitu kita dapat merasakan kembali kasih sayang tanpa pamrih, kasih sayang yang tulen bukan hanya sekedar basa-basi. Dengan tinggal beberapa saat saja di desa, kita dapat menyadari kembali makna sosial dari seorang tetangga, sahabat ataupun saudara, jadi bukan hanya sekedar sebagai orang lain yang tinggal di seberang rumah atau di samping meja kerjanya seperti yang dihayati di Kota. Di kampung halaman, kita bisa mendapatkan kembali harkat dan nilai kemanusiaan kita lagi.

Budaya mudik adalah suatu nilai sosial positif bagi masyarakat Indonesia, karena dengan mudik berarti masyarakat masih menjunjung nilai silaturahmi antara keluarga. Acara mudik khususnya menjelang lebaran bukan hanya menjadi milik umat muslim yang akan merayakan idul fitri bersama keluarga, namun telah menjadi milik “masyarakat indonesia” seluruhnya. karena pada dasarnya bersilaturahmi adalah hakikat dari kehidupan manusia sebagai makhluk sosial.Pemudik adalah “Duta Kota”

Ada yang menarik terlepas dari makna mudik, sebenarnya pemudik dari kota secara tidak langsung telah menjadi Duta Kota. Duta bagi banyak produk-produk urban. Dari orang kota yang mulai tergila-gila dengan BB misalnya, Pulkam alias mudik bawa BB. Muantab tenaaaaan kan. Dulu discman, yang jadi teman perjalanan, tak lama kemudian beralih ke mp4 yang hanya bisa menemani perjalanan. Produk urban inilah lambat laun akan mulai mewabah juga di kampung karena ulah pemudik itu tadi. Meskipun tak ada maksud pamer tapi lambat atau cepat produk apapun yang gencar di pakai di kota besar akan menjamur di daerah juga dan ini tak sepenuhnya disebabkan karena pemudik. Tapi peluang untuk memperkenalkan semua product urban itu…lebih cepat membumi di perkenalkan kaum pemudik. Product lain juga sama, awalnya produk yang ada di kota besar mungkin akan mencengangkan orang desa. Mobil-mobil dengan berbagai gaya, ukuran dan simbol juga akan membawa banyak pengertian baru bagi mereka yang jauh di pelosok; tentang arti sukses, tentang arti kerja keras, tetapi bisa pula tentang betapa telah tertinggalnya mereka. Semuanya diperkenalkan sang pemudik yang menjadi duta kota.

mudik-oyLantas apakah proses pembelajaran itu akan jadi searah saja, dari mereka yang mudik kepada mereka yang diudik? Tidak dapatkah arah itu dibalik, justru yang mudik lah belajar dari yang udik? Tidak dapatkah kita menempatkan diri bukan hanya sebagai duta kota besar, melainkan sebagai warga yang kini ingin kembali menggali nilai-nilai dan banyak hal lain yang (mungkin) telah lama hilang?

Para pebisnis barangkali bisa pula menggali nilai-nilai yang selama ini terabaikan, baik dalam memilih lahan bisnis, dalam mengiklankan produk, dalam mematok harga dan banyak hal lagi. Saatnya mungkin kita mengukur kejujuran, apakah bahan baku produk kita seperti air, sayuran dan sejenisnya yang kita katakan berasal dari pegunungan, benar-benar berasal dari sana.

Tak kalah penting pula, apakah kita telah memberi imbalan yang pantas kepada mereka yang menghasilkannya, yang secara tidak langsung telah medukung citra produk maupun perusahaan kita. Barangkali piar-piar kota tersebut sangat ahli menceritakan bagaimana gaya hidup dikota yang begitu gemerlap, sampai pada ukuran kesuksesan yang disimbolkan dengan merek beragam product buatan luar negeri yang diperkirakan harganya seharga sekian kwintal beras.

Tak ayal, banyak anak desa mulai tergiur, padahal mereka telah bertahun2 bertani semenjak menyelesaikan sekolah tingkat menengah pertama, mereka ingin ikut mengadu nasib di kota-kota besar yang menyediakan berbagai mimpi yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya. Tentunya dengan keterbatsan skill, pendidikan dan semuanya sangat sulit bagi semua orang kampung untuk menggapai segudang impian di kota. Satu sisi kita mau mengajak mereka untuk singgah dikota besar, dipihak lain mereka memiliki keterbatasan lahan kerja.

Dampak Mudik
Jika kantornya memiliki banyak karyawan yang berasal dari daerah, sudah dipastikan kantornya akan mulai terlihat lengang pada H - 5. Ini tentu berbeda dengan orang yang bergerak dimedia. Media seperti Radio, TV, Koran, termasuk jasa lainnya seperti restauran. Mereka tidak akan meliburkan semua karyawannya, karena media harus jalan terus. Radio harus terus mengudara karena banyak product dari client yang harus terus dipromosikan kepada pendengar. Meskipun rutinitas ketemu client hanya sekedar bukber… nggak ada lagi loby-meloby karena semua sudah fokus dengan kegiatan mudik lebaran.

“Sebentar lagi lebaran paling2 selesai lebaran nanti kita lanjutkan kerjasamnya”, begitu hampir semua orang mengatakan ini. Bagaimana tidak, semua energy di kerahkan untuk lebaran. Itung-itung waktu, biaya, tenaga dan semua tercurah hanya untuk satu kegiatan yaitu MUDIK. Setiap ketemu teman kantor, tidak ada pertanyaan lain kecuali kapan mulai cuti, tanggal berapa mudik dan gimana persiapan mudiknya. Begitu juga Saudara di kampung sudah mulai sering telepon menanyakan kapan pulangnya, naik apa, juga tolong bawakan oleh-oleh ini dan itu. woaaahhhhh…

Yang belum punya tiket buru-buru ngantri untuk mendapatkannya, yang mau mudik pakai motor buru-buru menyervis motornya biar enggak ngadat di jalan, yang mau pulang pake mobil tapi gak punya pun buru-buru cari rental.

Pesan Pakde: Kadang risi bahkan malu mungkin, tapi asyik karena ada sesuatu yang menggelitik. Karena kita sibuk mempersiapkan dan melestarikan sebuah tradisi yang disebut MUDIK. Well, Have a nice great mudik everybodeh, selamat sampai tujuan ya!! Salam untuk keluarga dari  pakde (om cakep ituhhh… wekekekek).

Bookmark and Share

Most Commented Posts

15 Comments

Ikkyu_san

Sep 16th, 2009

Hmmm pakde jangan sedih ya tidak bisa mudik. Anggap saja pakde berkorban demi penggemar dan orang banyak. Lagian kan lebih enak mudik pada saat jalanan tidak macet…. (Sambil berdoa semoga tahun depan pakde bisa mudik)
EM

Pakde
Dear EM… Memang sih lebih nikmat saat mudik jalan lagi sepiiii banget. tepat sampe rumah apa nggak sepi juga? karena semua sudah pada “ngota” lagi? gigit jari dooonk…nggak bisa ketemuan sama temen sanak sodara lainnya.

M Mursyid PW

Sep 16th, 2009

Entahlah, mudik lebaran bagi saya seperti suatu keharusan yang tak bisa ditunda. Selain dapat lengkap ketemu saudara sedarah, kalau belum menyentuh nisan makam orangtua rasanya belum plo . . . ng.

Pakde
Sebagian mengatakan keharusan, sebagian lagi tidak. Ambil hikmah terbaik nya saja ya bro!

Rusa Bawean™

Sep 16th, 2009

mudik aja Pakde
aku aja mudik
hehe
:)

Pakde
Nggak ah…poengen tahu rasanya mudik di jambi keq apa… barangkali bisa menemukan sesuatu yang belum di lihat di tanah Jawa.

HE. Benyamine

Sep 16th, 2009

duta kota … saat ini lebih cepat melalui kotak TV, memang orang mudik juga bisa membawa hal baru dari kota dan sebaliknya, tetapi tidak bisa menyaingi kecepatan kotak itu dan intensitasnya bahkan cenderung satu arah.
Selamat mudik untuk pakde … mudik ke fitrah dan semoga mencapai tujuan kewajiban berpuasa.

Pakde
Semoga kita sama2 bisa kembali mudik menuju fitrah kita masing2 ya, mas Ben… !

nh18

Sep 16th, 2009

Saya tidak mudik …
Saya “Ngota” …

Soale …
kebalik … saya tinggal di daerah …
orang tua saya tinggal di jakarta …

hehehe
salam saya
(yang juga ganteng ituh …)

Pakde
kalau dari kota ke Udik yang di bawa biasanya product urban, ya kan?? nah kalau dari udik ke kota yang dibawa apa donk? … ngebayangin…ada sekarung beras, pisang setandan…gula jawa sebonyor, kelapa tuwir untuk diambil santannya, ditenteng 10 kepala. Om ganteng kuwat gitu bawanya om? wikikikiki…pisss ah! met Ngota deh!

zenovic

Sep 16th, 2009

hayooo…mudik bawa kaos Jakoz, bangga budaya jambi,kumaha atuh kang..(hee.hhe Promo)

Pakde
Ditunggu T-shirt Jakoz nya di Metro,,,habis nggak tahu lokasi Factory Outlet nya siiih…

Eka Situmorang - Sir

Sep 16th, 2009

Waaah pakde, kalo skr baru cari tiket
apa masih dapar yah ?
 
 
salam dari eka yg lebih cakepz hehehe :P

Pakde
Masih keburu koq…masih banyak…karena kebanyakan orang mudik pakai jalur darat… mau pesen berapa ticket nih?

masoglek

Sep 16th, 2009

saya trauma mudik pake motor, kalau misalnya disuruh sekali lagi, saya memilih untuk ndak mudik aja deh :D

Pakde
Tahun ini sepertinya banyak yang menggunakan sepeda motor, alasannya simple jauh lebih cepat dan bebas macet. katanya begitu…ternyata dari kenyataan yang ada di pulau jawa, semua memilih motor dan akhirnya tetep macet juga.

Cecep SWP

Sep 17th, 2009

Pakdhe…Pakdhe…kenapa yak mudik itu pasti menjelang lebaran, kok ngga’ menjelang tahun baru atau menjelang perayaan 17-an  ? :D

Pakde
Momentnya lebih tepat. Kalau pas agustusan sungkemannya jadi sama negara donk?!

adipati kademangan

Sep 17th, 2009

pakde nggak mudik ya, saya temani saja di sini. Uang yang telah didapat ditabung saja mungkin berguna di kemudian hari.

Pakde
Maturnuwun kakang adipati kademangan, Terimakasih sudah mau menemani saya untuk tidak mudik dari dunia maya ini… Saya berharap suatu saat saya bisa bertemu dengan kakang adipatih, dan bisa menemukan siapa adipatih kademangan ini. Nama sampean kerap memberikan sebuah inspirasi untuk saya. Terimakasih kang.

Tuti Nonka

Sep 19th, 2009

Saya ndak mudik Pakde, ndak pernah mudik setiap kali lebaran. Lha gimana mau mudik, wong orang tua dan mertua tinggal sekota, bahkan jarak rumah kami bisa ditempuh dalam 10 menit … hiks!

Pakde
Asyiiik nih nggak harus repot packing, pesan ticket, dijebak kemacetan dsb dsb…

thevemo™

Sep 20th, 2009

Saya gak mudik kok pakde..cuma jadwal kegiatan ramah tama dengan keluarga yang membuat letih..minal aidin wal faidin.

Iya wing..mohon maaf lahir bathin yaaaa..mohon maaf lahir bathin…jangan lupa sisain ketupat lebarannya. kagek aku mampir samo kawan2 ke rumah yooo.

Ria

Sep 21st, 2009

Pakde…gak mudik gak berarti gak lebaran kan ;)
huhehehehe…tosss dulu ah Ria juga gak mudik kok :D lebih parahnya harus nyuapin bayi2 server ini biar bisa up lagi kalau orang-orang udah pada balik mudik…hehehehe….
sering kali ya pakde orang kota yang pada mudik itu malah ngajarin mereka yang di udik pamer…males banget kan!!! sebelum pulang beli mobil yang bagus *dipaksa2in pula* terus setelah pulang mudik mobilnya di jual karena gak ada duit…hahahahahaha…

Pakde
Ada sesuatu yang di paksakan, ada pula yang ngalir begitu aja sebagai hasil product urbanisasi dari para duta mudik itu. Jman saya tinggal dikampung berasa banget tuh…pengeeeeeen banget punya barang baru… itu gara2 sidutamudik pulkam bawa yang aneh aneh.

sewa mobil murah

Nov 3rd, 2009

hari idul adha nanti mudik gak pakdhe ??

jay ajang brams

Mar 9th, 2010

nya mudik lah lamun boga duit mah….enya teu beh

Leave a Comment

Copy Protected by Chetan's WP-CopyProtect.