Ranah Minang Negeri Seribu Satu Cerita
by theKRY™ on 20/10/09 at 2:12 am
Bagian 2 - Air Terjun Badorai.
Wilayah Limo Kampuang Sungai Pua tak diragukan menyimpan segala keunikan dan keindahan alam yang luar biasa. Bagaimana tidak? Disini, pesona alam yang masih perawan siap untuk memuaskan jiwa petualang. Salah satu keindahan yang ditawarkan adalah wisata air terjun Badorai. Inilah A Nice Place to Go….. Keelokan lereng gunung Marapi dengan panorama khas alam pegunungan yang menjadi agenda pakDE selama di Sungai Pua. 

Rumah2 tradisional khas penduduk setempat bersih terawat, usianya bisa saja puluhan tahun, dengan tamannya yang bersih dan lapang. Ladang sayuran yang siap panen begitu hijau menghampar luas. Topografi alamnya yang tak tertandingi ini mencirikan sebuah dataran tinggi lereng perbukitan yang dibatasi sebagian besar oleh Ngarai dengan topografi kemiringan, ketinggian dan morfologi daratan, wilayah pegunungan, dataran tinggi dan dataran rendah yang bervariasi. Tanahnya subur karena jenis tanah di daerah ini adalah tanah latosol yang berwarna cokelat kekuning-kuningan dengan tekstur geluh dan berstruktur remah, lunak atau sangat halus, sehingga mempunyai daya mengikat air yang tinggi, gembur dan ketahanan strukturnya tinggi serta mudah diolah. Tak heran jika hampir seluruh penduduk di Sungai Pua memanfaatkan lahannya untuk pertanian.
Nagari Sungai Pua ini terletak pada daerah relatif bergelombang dan berbukit yang memiliki kemiringan tanah berkisar antara 5 - 40% bahkan ada yang lebih dari 40%. Kesadaran masyarakat setempat akan petingnya menjaga air serta ramah pada alam dan lingkungan tercermin di desa ini. Masyarakat disini begitu arif dalam mengatur Tata air dimana sumber mata air yang mereka manfaatkan, salah satunya bersumber dari Tabek Barawak, aliran anak sungai daerah serapan dan daerah tangkapan air. Nagari Sungai Pua dilalui oleh beberapa aliran anak sungai seperti Batang Rakik, Batang Tambuo yang pola alirannya berasal dari Gunung Marapi terjaga bersih sampai saat ini.
Penasaran dengan sumber air yang digunakan masyarakat setempat, sekaligus ingin membuktikan keindahan air terjun Badorai. Team bungsu alias komplotan anak bungsu yang terdiri dari Ipul, Merry, Om Bungsu & pakDe bungsu tanggal 26 September 2009. Mencoba menelusurinya langsung dari Sungai Pua.
Agenda jalan2 menuju Air Terjun Badorai, sebetulnya tercatat jam 6 pagi. Sayangnya karena kulit pakDe tidak mampu beradaptasi dengan suhu udara yang dingin, maka perjalananpun delay sampai jam 11 siang. Kalau saja saya berangkat lebih pagi, tentu petualangan ini akan semakin mempesona karena akan menyaksikan kesibukan masyarakat beraktifitas, anak2 sekolah dan kicau burung terdengar riang. Sayangnya jam 9 pagi, saya masih selimutan, Jam 10 minum teh tarik dilanjutkan dengan breakfast & lunch dengan katupe. Kudapan yang mirip dengan ketupat sayur, namun memiliki cita rasa yang khas dengan kuahnya yang kental. Jacket yang saya kenakan pagi itu masih nempel ditubuh karena memang dingin sekali. Jam 11 setelah badan mulai terasa lebih hangat, air di bak mandi yang dinginnnya persis seperti air es mulai saya sentuh. Cuci muka kemudian berjemur beberapa saat sampai siap menempuh perjalanan menuju air terjun Badorai.
Rute menuju air terjun Badorai ini tidaklah sesulit yang dibayangkan. Kami melintasi beberapa rumah beratap seng, rapi, bersih terawat dengan tanaman yang biasa tumbuh di daerah pegunungan, serta beberapa halaman yang dibiarkan kosong sebagai tempat untuk menikmati keindahan yang ada. Lengkap dengan lahan pertanian yang begitu luas.

Memang tidak setiap rumah memiliki halaman yang luas, penduduk setempat yang membangun rumahnya di lokasi lebih tinggi akan memanfaatkan sebagian lahannya untuk para pelancong lokal berfoto bersama atau bahkan sekedar menerawang jauh menikmati Kota Bukit Tinggi. Ini semua gratis kita tinggal datang sendiri lalu cari view yang paling menakjubkan.
Jalan yang kami lalui sebagian jalan aspal swadaya masyarakat setempat, sangat menanjak dengan kemiringan lebih dari 45 derajat, tak heran jika kami letih dibuatnya. Nampaknya lebih banyak istirahat karena tenaga tidak terbiasa mendaki tanjakan. Namun diantara letih yang kami rasakan, view yang kami belakangi senantiasa mengobati rasa lelah. Setiap kali menemukan lokasi untuk berfoto, kami berhenti beberapa saat, kemudian meneruskan perjalanan.

Kenapa kami berpose disini? Warga setempat sangat bangga dengan rumah ini, karena keberadaan Limo kampuang terekspose salah satunya dengan rumah ini. Disini kami singgah sebentar untuk mengabadikan rumah yang di jadikan tempat shooting Christine Hakim (Mandeh) di film terbarunya “Merantau” Dalam film dengan durasi 120 menit itu diceritakan seputar perjalanan seorang remaja yang merantau dari tanah kelahirannya di Minang ke ibu kota dengan berbekal keahlian pencak silat harimau. Selain melestarikan pencak silat, film ini juga menceritakan tentang budaya merantau yang sering dilakukan mayoritas warga Minang.

Berdiri diatas batu gadang
Tak jauh dari lokasi shooting, saya menemukan sebuah batu yang sangat besar, warga di Limo Kampuang menyebut batu ini Batu Gadang (batu besar) lokasi ini sama indahnya dengan lokasi lain yang memberikan pandangan mata nan eksotis.
Jalanan menanjak diantara lereng ladang yang gembur, kami telusuri dengan tujuan utama Air Terjun Badorai. Udara begitu sejuk sampai2 matahari menyengat kulitpun tidak terasa. Melalui jalan setapak dengan waktu tempuh 20 menit perjalanan kami lalui dan belum juga tiba diloaksi utama, kami tiba disebuah lokasi dengan hamparan batu gunung yang halus, rapi terpahat air. Lagi-lagi kami berhenti karena letih. Bau hutan Vinus mulai tercium, sesekali suaranya mengalahkan gemuruh air terjun begitu samar ditelinga. Penat sedikit terbuang sambil menikmati aliran air yang jernih dan dingin. Disinilah kami bermain air layaknya anak kecil.

Selanjutnya kami menelusuri jalan setapak diantara lembah yang terjal dengan kemiringan hampir 90 derajat, berjalan lurus menapaki jalan setapak diantara rimbunnya belantara hutan Vinus dan Akasia, semakin dekat semakin jelas suara air terjunnya. wooooowwwww… elok sekali! Fantastis…. air terjun ini berlokasi ditempat yang masih terawat baik, bersih dari sampah plastik, tidak ada pedagang asongan seperti ditempat lain, dan suasananya betul2 hutan belantara yang masih perawan. Dengan nyanyian alamnya yang khas. Letihpun terbayar sudah!!

Air Terjun Badorai di Nagari Sungai Pua Kecamatan Sungai Pua, berjarak ± 8 Km dari kota Bukittinggi. Dilokasi ini terdapat 4 air terjun dengan ketinggi bervariasi. Namun yang paling dikenal adalah air terjun Badorai 1 dengan ketinggian ± 50 m, Badorai 2 dengan ketinggian ± 50 m dan Badorai 3 dengan ketinggian ± 20 m. lokasi objek ini berdekatan satu sama lain.
Dari sumber air inilah, masyarakat setempat memanfaatkan lahan pertanian dan kebutuhan mandi cuci, Satu warisan alam yang harus dijaga keberadaanya, kualitas air bagus, kesehatan masyarakat insyaallah terjamin? saya pikir dimanapun itu untuk melestarikan sumber air harus dikembalikan kembali kepada masyarakatnya sendiri. Kalau kesadaran masyarakat tinggi, tentu kondisi lingkungan akan tetap terjaga seperti ini. Untuk itu, mari kita bersama menjaga sumber air kita, menjaga lingkungan kita agar masa depan kita dan anak cucu kita terjamin.









14 Comments
alamendah
Oct 20th, 2009
(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
Sumpah, deh. Keren banget. Indonesia emang kereeeeeen habis.
Ria
Oct 20th, 2009
wahhh bagus banget ya pakde…
ohya jadi penasaran juga dengan rumah yg di jadiin syuting merantau itu…dan filmnya pun bikin penasaran.
ternyata memang ranah minang itu sarat dengan ragam cerita dan pemandangan alamnya yg sangat amboi
dan teteup2 foto2 pakde…hihihihihihi
morishige
Oct 21st, 2009
jangan sampai lah air terjun Badorai ini dikunjungi ini menjadi kotor.. kasian masyarakat sekitar.
ikkyu_san a.k.a. imelda
Oct 21st, 2009
foto-fotonya keren
terutama yang berdiri di atas batu gadang….
(jangan bunuh diri dari situ yah hihihi)
EM
yulian
Oct 24th, 2009
Wah..pemandangan sangat menarik, ternyata banyak sekali tempat tempat indah di negeri tercinta ini yang belum saya ketahui…
Oya…salam kenal dari saya mas…
HE. Benyamine
Oct 26th, 2009
Paragraf terakhir … ikut Pakde, mari jaga sumber air bersama.
Rumah2 tradisional … biasanya merupakan hasil dari adaptasi dengan lingkungan dan alam sekitar, namun banyak generasi baru tidak begitu berminat membangunnya karena lebih tertarik dengan model bangunan “modern”. Di samping itu, rumah tradisional, juga mengalami kekurangan bahan dasarnya karena sumberdaya hutan banyak yang rusak atau memang dirusak. Melihat foto2 rumah di atas, ternyata masyarakat di sana masih mempunyai kebanggaan dengan arsitektur rumah tradisional … malah tidak terlihat sebagai sikap tradisional dengan tetap bangga dengan rumah tradisional tersebut.
Foto paling bawah … keren dengan sudut layaknya selindang bidadari … sudut yang melihat air terjun tidak seperti biasanya.
Nah … foto orang yang berdiri di atas batu gadang …. itu terkesan feodal karena orang yang berdiri itu seakan sedang dikipasi dari jauh (lihat saja tanamannya) ha ha ha ha ha …. tapi tetap keren.
DM
Oct 27th, 2009
Membaca rawian ini, gambaranku tentang ranah Minang rasa-rasanya jadi jauh lebih indah… Tapi perjalanan kali ini pasti jauh lebih lama karena setiap menemukan objek cantik, selalu gatal untuk berfoto…
rang rantau
Oct 27th, 2009
jujur nih…. unusuall blog..!
Love4Live
Oct 28th, 2009
waduuuuuhhhh…
pemandangannya itu hloooo…
jadi pengiiiiiinnn…. hiks…
Love4Live
Oct 28th, 2009
negeri subur dan makmur…
dimana sungai-sungai melintas dengan air di bawahnya…
terima kasih telah berbagi keindahan…
itempoeti
Oct 28th, 2009
rumahnya itu masih asli ya pakde?
rapi banget yaaa…
masnur
Oct 29th, 2009
Jadi ingat kampung halaman di lereng gunung Wilis. Dingin, segar dan selalu mempesona.
Sayang sekarang di Jawa nyaris hilang pesona seperti itu pakDe. Alam sudah “kalah” dengan arogansi manusia.
Satu yang saya heran, kenapa orang luar Jawa (Sumatera, Kaliamantan, Sulawesi) pada seneng memakai atap seng ya? perlu dicari jawabnya itu pakDe.
syaiful
Nov 4th, 2009
Mampir dulu ah sambil baca-baca dan salam kenal
http://syaiful64.wordpress.com
Nug
Feb 18th, 2010
Keren bangettt…
Leave a Comment